Sudah berapa abad saya tidak membuka blog ini. Ah, yaa... saya tidak mau beralasan sibuk, 'Sibuk' hanya pembenaran dari seseorang yang kehabisan ide untuk mengatur ritme pergerakannya, hehe.
.
Seminggu ini, dunia dikejutkan dengan pemberitaan adanya rasisme dan diskriminasi di Kerajaan Inggris. Ratu Elizabeth dan turunannya memang tak pernah kelar untuk diberitakan. Apalagi keturunannya yang sekarang: Pangeran Harry.
Kita semua sudah tahu kan bagaimana mamanya Pangeran Harry harus beradaptasi dengan susah payah terhadap gaya hidup kerajaan. Nah sekarang, hal itu dialami oleh isterinya Harry, Meghan Markle.
Wawancara pasangan Harry dan Megahn baru-baru ini bikin heboh. Udah banyaklah ya diberitain di berbagai media, bagaimana dunia 'terkejut' dengan pernyataan mereka, yang --saya menyebutnya-- mengumbar keburukan keluarga kerajaan.
Soal benar atau tidak apa yang dikatakan Meghan, semua meruntuhkan wibawa kerajaan Inggris dan terutama orangtua dari suaminya, yang selama ini diagungkan di Inggris.
Diskusi rasis yang saat ini menjadi topik panas keluarga kerajaan dengan pasangan Pangeran Harry dan Meghan Markle, menurut beberapa pakar, seharusnya tidak mengejutkan mengingat sejarah keluarga kerajaan.
Kate Middleton aja yang bukan keturunan kulit berwarna, mengalami tekanan berat saat awal-awal menjadi isteri Pangeran William. Tapi Kate berhasil melalui itu semua, setidaknya sampai saat ini dia tetap patuh tunduk dan taat menjalani hari-harinya sebagai isteri dari calon putra mahkota di masa depan (nunggu ayahnya, Pangeran Charles jadi Raja dulu sih).
Meghan Markle dan Pangeran Harry dalam wawancara bersama Oprah Winfrey mengungkapkan sikap tidak menyenangkan beberapa anggota keluarga kerajaan. Pasangan itu mengatakan ada anggota keluarga kerajaan -yang tidak disebutkan namanya- menyuarakan keprihatinan kepada Harry tentang seberapa gelap kulit Archie ketika dia lahir.
Mungkin begini kalo diadaptasi ke bahasanya sinetron kita: "Ehh, ehh, ntar kalo anaknya si Meghan lahir, kulitnya ngikutin siapa ya? Kayak bapaknya apa kayak emaknya...?"
Meghan yang memang sering mengalami sikap tidak menyenangkan dari lingkungan kerajaan, menangkap itu sebagai sesuatu yang menyakitkan. Iya, memang menyakitkan. Namun, menurut saya, jika Meghan yang keturunan Afrika-Amerika itu bisa lebih 'bebal' lagi, cuekin aja. Karena kulit gelapnya itu sesungguhnya sangat seksi, dan itu yang membuat Harry terpesona.
Di beberapa media asing, disebutkan, bahwa monarki yang memang tumbuh di kerajaan, 'dibangun di atas rasisme'. Bukan hal baru lagi jika anggota kerajaan Inggris lebih 'iyuhh' terhadap ras yang berbeda dengan mereka.
Keluarga kerajaan Inggris telah menunjukkan kepada publik siapa mereka selama beberapa dekade. Jadi, tidak mengherankan jika mereka rasis. Tetapi itu kan dulu. Sekarang, mereka lebih tau diri dan sangat merangkul semua warna.
Seluruh institusi dibangun di atas struktur rasis. Jadi aneh jika ada: 'Ya Tuhan, keluarga Inggris itu rasis' -ya tentu saja mereka rasis. Itulah yang dibangun oleh seluruh monarki, rasisme! Sejauh ini sejak lahir, hanya bangsawan kulit putih di atas takhta Inggris," itu kata jurnalis CNN, yang saya kutip dari CNN.
Sulit memisahkan rasisme dari sejarah keluarga kerajaan karena begitu banyak monarki -seperti yang masyarakat tahu- dibangun menggunakan kolonialisme.
Dari sejarahnya, Inggris menjajah lusinan negara dan wilayah selama berabad-abad yang lalu, banyak di antaranya dihuni oleh orang-orang yang sebagian besar berkulit hitam dan berkulit coklat, seperti Nigeria dan India, seperti yang ditulis Insider.
Ratu Elizabeth I secara terbuka mendukung pedagang budak Kapten John Hawkins di tahun 1500-an.
Lalu, Hawkins menculik lebih dari 300 orang Afrika yang kemudian menjadi budak di Inggris untuk perdagangan barang, menurut National Portrait Gallery. Ketika Hawkins kembali ke Afrika untuk perampokan kedua di akhir abad itu, keluarga kerajaan menyumbangkan sebuah kapal untuk perjalanannya, dan budak sering kali menjamu Ratu di istananya.
Demikian pula, keluarga kerajaan mengirim Abdul Karim, seorang pelayan Ratu Victoria dari India, kembali ke India setelah kematiannya karena warna kulitnya, menurut The Guardian.
Berbagai insiden menunjukkan rasisme masih menjadi masalah utama dalam keluarga kerajaan, termasuk sikap tidak menyenangkan mereka terhadap Meghan Markle.
Sebelum menikah dengan Meghan, Harry juga pernah ikut-ikutan bersika rasis.
Harry yang di masa lalu pernah secara 'tidak sengaja' bersikap rasis, dalam wawancara dengan Winfrey itu ia mengaku bahwa dia 'tidak menyadari' bias implisit sampai dia mulai berkencan dengan Markle.
Orang-orang di sekitar kerajaan mengatakan bahwa apa yang dialami Markle dan Archie bisa saja menghidupkan kembali sistem monarki, yang menurut beberapa orang adalah institusi yang sekarat berkat cara-cara kuno dan kurangnya penggunaan politik.
Banyak yang mengatakan, keluarga kerajaan Inggris agaknya tidak belajar dari kesalahan masa lalu. Seandainya kerajaan menyambut dan membela orang kulit berwarna yang menikah dengan keluarga kerajaan , itu bisa mengubah persepsi tentang institusi kuno. Merayakan anak ras campuran yang lahir dalam monarki bisa mengantarkan era baru bagi bangsawan, menyiapkan mereka untuk berkembang dari generasi ke generasi.
Betul, tindakan itu sangat tidak dibenarkan. Rasisme harus dimusnahkan. Saya malah berangan-angan jika Mehan mau sedikit nekat, dia bisa melawan rasisme itu. Namun, apa daya dia hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Selayaknya, dia bisa lebih meredam lagi 'sikap liar'-nya itu karena dia sekarang berada di sebuah Istana, bukan di panggung selebritis.
Bahwa Kate Middleton lebih bisa bertahan untuk tetap setia berada di istana, bukan karena ia lebih kuat daripada iparnya itu. Namun, ia lebih menggunakan logika dan kesadaran bahwa ia adalah isteri dari anggota kerajaan dengan segala kurang lebihnya.
Satu hal yang sempat terlintas dari pikiran saya adalah, ketika saya akan menikah, orangtua saya membekali saya ceramah seribu hari. Bibit bebet bobot, kata mereka. Padahal kami keluarga biasa saja.
Karena pernikahan bukan hanya membawa satu orang yang kita cintai, tetapi juga membawa satu keluarga besar bahkan 'dua kampung' dengan dua latar belakang yang berbeda. []

Comments
Post a Comment