Perempuan Suku Merah Membaluri Tubuh dengan Tanah Agar Seksi

Warna merah dinilai sebagai simbol kecantikkan bagi perempuan dari Suku Himba. Mereka dikenal sebagai Suku Merah karena membaluri seluruh tubuh dengan tanah merah agar terlihat eksotis.


Suku Himba tinggal di daerah Kaokoland, sebelah utara Namibia, Afrika. Suku ini hanya berjumlah 20.000-50.000 jiwa dan hidup secara semi nomaden. Mereka termasuk suku peternak. Pagi hari, setelah memoleskan tubuh dengan pewarna merah, perempuan Himba bekerja mengurus ternak mereka. Setelah itu, kaum laki-laki yang akan menggembalakan terbaknya. 


Perempuannya Bekerja Keras 


Suku Himba termasuk suku yang sangat menjaga budaya tradisional mereka. Walau pada sekitar tahun 1990 mereka paham bahwa adat budaya mereka telah menjadi bagian dari pariwisata, mereka tetapmempertahankan tradisi.

Sejak lahir, para bayi Suku Himba diberi kalung mutiara. Kalung itu kelak akan diganti dengan kalung tembaga dan kerang kecil seiring bertambahnya usia. Perhiasan itu merupakan kerajinan khas yang menjadi bagian penting dari budaya Suku Himba. Suku Himba tergolong suku yang masih primitif. Namun, masuknya budaya luar telah menjadikan mereka beradaptasi pada beberapa hal. Misalnya, sejumlah anak sudah bisa membaca dan menulis, mereka sudah akrab dengan kamera ketika wisatawan datang melihat mereka, dan satu-dua malah ada yang sudah berpakaian selayaknya dunia luar. Suku Himba tetap bertahan dengan pakaian tradisionalnya, toples, cawat dari kulit untuk menutupi bagian bawah.

www.erinpost.com

www.erinpost.com

Suku Himba adalah suku monoteis. Mereka menyembah Mukuru sebagai dewa yang dipercaya memberikan berkah. Selain dewa, mereka juga percaya bahwa arwah nenek moyang akan menjadi perwakilan Mukuru.
Setiap desa dipimpin oleh tetua laki-laki dan terdiri dari keluarga besar. Pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan cukup berbeda dari suku lainnya. Selain mengurus anak kecil, perempuan Suku Himba banyak melakukan pekerjaan berat seperti membangun rumah dan mencari kayu. Urusan politik dan hukumlah yang diserahkan pada kaum laki-laki. Mereka terbiasa bertahan hidup dari kondisi alam yang keras. 




Kulit Cantik Berwarna Merah Tanah
Setiap pagi, perempuan Suku Himba melakukan tradisi yang tidak dimiliki oleh suku lain di Afrika, yaitu memoles tubuh dengan pasta merah. Ini mereka lakukan agar kulit mereka yang umumnya hitam gelap terlindung dari sinar matahari juga untuk menghindari dari gigitan serangga.Mereka mengoleskan krim yang terbuat dari campuran lemak mentega, dicampur mineral khusus berwarna merah, dan wewangian dari daun semak, ke sekujur tubuh. Bahan-bahan tersebut selain sebagai tabir surya dan pengusir serangga, akan membuat kulit terlihat berkilau kemerahan.Simbol dari warna tanah yang kaya dan darah yang merupakan representasi kehidupan. 


Warna merah dinilai sebagai simbol kecantikan. Perempuan Suku Himba membuat seluruh tubuhnya berwarna merah agar terlihat cantik. Itu bukan sekadar kulitnya saja, tetapi juga rambut. Bahkan baju dan perhiasannya juga dibaluri dengan campuran merah itu. 

Perempuan Himba mengenakan kalung besar yang terbuat dari tempurung putih. Kalung itu disebut ohumba yang diwariskan dari ibu ke anak. Berat kalung tersebut dapat mencapai beberapa kilogram. Biji omangetti juga digunakan sebagai ornamen penghias karena perempuan Himba suka dengan suara yang dihasilkan saat mereka berjalan.


Kecantikan yang Menyala


Selain tubuh, ritual kecantikan pagi hari yang dilakukan perempuan Suku Merah ini adalah mengurus rambut gimbal mereka dengan cara yang unik. Mereka biasa menghabiskan waktu beberapa jam untuk mengepang dan berhias. Bagi mereka, rambut gimbal ini bukan hanya untuk gaya, tetapi juga menjadi bagian dari adat. Rambut mereka dikepang kecil dan rumit. Setelah itu, kepangan dilapisi dengan campuran mineral terdiri dari bulu kambing, jerami, mentega, dan lumpur, yang mereka sebut dengan Otjize. Otjize berfungsi sebagai sunscreen rambut dan pengusir serangga. Lalu rambut itu dilumuri dengan tebal hingga kaku dan berwarna kecoklatan.

Suku Himba mempunyai aturan adat yang sangat ketat terutama untuk perempuan. Perempuan dengan gimbal yang menutupi wajahnya, menandakan bahwa dia sudah memasuki masa puber sehingga harus menyembunyikan wajahnya dari para laki-laki. 

Perempuan yang sudah menikah atau yang mempunyai anak rambut gimbalnya disibak ke belakang dan memiliki hiasan kulit bagian atas. Mereka wajib mengenakan hiasan kepala yang terbuat dari kulit binatang, kalung, dan manik-manik.Berbeda dengan rambut perempuan Himba yang butuh ketelatenan untuk mengurusnya, laki-laki Suku Himba hanya memiliki gaya rambut gimbal yang sederhana menyerupai tanduk domba. Mereka mengepang rambut menyerupai tanduk, menyembul dari bagian depan hingga belakang kepala. Sementara untuk anak-anak dicukur gundul dengan tetap menyisakan kepangan gimbal.Ketika seorang laki-laki Himba menikah, laki-laki itu akan menutup kepalanya dengan turban.

Perempuan Suku Merah

Dengan rambut gimbal yang tebal serta kaku, bagaimana cara mereka tidur? Ternyata perempuan Himba biasa tidur di bantal kayu agar rambut merekatidak rusak.*

Comments