KETIKA kita mengunjungi Lapangan Banteng saat ini, yang terlihat adalah suasana yang indah, rapih, dan tertata. JIka beruntung, maka pada akhir pekan di waktu tertentu, ada pertunjukkan air mancur yang menari.
![]() |
| Lapangan Banteng saat ini |
Sebelum menjadi Lapangan Banteng, lapangan itu mengalami pergantian nama berkali-kali. Lapangan itu sendiri sudah ada sejak tahun 1623, diwarisan oleh seorang bernama Anthonie Paviljoen Sr yang kemudian memberikan tanah tersebut kepada anak laki-lakinya.
Sang anak kemudian menamakannya menjadi Lapangan Paviljoen.
Tak lama, tanah luas itu berpindah pemilik. Pemilik barunya bernama Cornelis Chastelein, yang kemudian mengubah lagi namanya menjadi Weltevreden.
Di masa lalu Lapangan Banteng dikenal dengan sebutan Lapangan Singa karena di tengahnya terpancang tugu peringatan kemenangan pertempuran di Waterloo, dengan patung singa di atasnya.
Tak lama, tanah luas itu berpindah pemilik. Pemilik barunya bernama Cornelis Chastelein, yang kemudian mengubah lagi namanya menjadi Weltevreden.
Di masa lalu Lapangan Banteng dikenal dengan sebutan Lapangan Singa karena di tengahnya terpancang tugu peringatan kemenangan pertempuran di Waterloo, dengan patung singa di atasnya.
![]() |
| Langan Banteng di masa lalu |
Pertempuran Waterloo tersebut terjadi tanggal 18 Juni 1815 di dekat kota Waterloo, yaitu sekitar 15 km ke arah selatan dari ibukota Belgia, Brussels. Pertempuran itu merupakan pertempuran terakhir Napoleon melawan pasukan gabungan Inggris-Belanda-Jerman.
Pertempuran ini juga dicatat dalam sejarah sebagai penutup dari seratus hari sejak larinya Napoleon dari pengasingannya di pulau Elba. Tetapi entah mengapa patung yang menandai Pertempuran Waterloo malah dipasang di Jakarta.
Tugu singa itu akhirnya dirobohkan saat Indonesia diduduki Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, nama Lapangan Singa diganti dengan sebutan Lapangan Banteng. Selain pertimbangan nasionalisme, nama Lapangan Banteng dipakai juga dengan pertimbangan bahwa di kawasan ini dahulu banyak dijumpai satwa liar, seperti macan, kijang, dan banteng.
Tugu singa itu akhirnya dirobohkan saat Indonesia diduduki Jepang.
Setelah Indonesia merdeka, nama Lapangan Singa diganti dengan sebutan Lapangan Banteng. Selain pertimbangan nasionalisme, nama Lapangan Banteng dipakai juga dengan pertimbangan bahwa di kawasan ini dahulu banyak dijumpai satwa liar, seperti macan, kijang, dan banteng.
Tapi ada versi yang menyatakan bahwa sejak zaman Belanda juga pernah disebut Buffelsfeld, yang berarti Lapangan Banteng karena ada kubangan kubangan besar penuh air bekas galian pembuatan batu bata yang sering menjadi tempat kerbau kerbau bermain.
Tahun 1640-an, lapangan ini digunakan sebagai tempat berburu bagi para Gubernur Jenderal. Kegiatan berburu didukung oleh pemerintah Hindia Belanda kala itu.
Seiring perjalanan tahun 70-an Lapangan Banteng ini pernah menjadi terminal bis dalam kota yang menuju ke Priok, Cililitan, Blok M dll. Kemudian terminal bis ditutup pada tahun 1985 dan kemudian menjadi taman kembali.
Seiring perjalanan tahun 70-an Lapangan Banteng ini pernah menjadi terminal bis dalam kota yang menuju ke Priok, Cililitan, Blok M dll. Kemudian terminal bis ditutup pada tahun 1985 dan kemudian menjadi taman kembali.
Menjelang abad 18, di sekitar Lapangan Banteng ada istana yang dibangun untuk Gubernur Jenderal dan keluarganya. Istana tersebut digunakan untuk tempat beristirahat atau bahkan tempat berkuda. Dari situlah kemudian berkembang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang kaya pada zaman Belanda di abad 19. []


Comments
Post a Comment