Suaranya pelan, wajahnya keibuan, dan terlihat lembut. Mulanya saya tidak mengira kalau dia seorang anggota Kopassus, kalau tidak sedang mengenakan seragam.
Tercatat sebagai Kowad berprestasi, perempuan kelahiran Cimahi, 10 Januari 1978 ini ternyata salah seorang penembak andalan TNI AD yang tergabung dalam Kontingen Petembak TNI Angkatan Darat. Saya terkesima menyimak kisahnya. Mungkin Anda bisa kembali membuka catatan sebelum ini: Tiga Prajurit Perempuan Kopassus
“Setelah tamat SMA, saya masuk Kowad tahun 1996 lalu lulus tahun 1997. Saya tertarik bergabung terutama karena orangtua mengarahkan untuk jadi tentara,” katanya. Walau dirinya sering sakit-sakitan, toh, Yanti tetap menuruti saran orangtuanya. “Sejak masuk Kopassus malah lebih sehat. Sebab pola hidup diperbaiki, makan teratur, istirahat teratur, olah raga juga teratur.”
Dia pun mengikuti pelatihan di Lembang. Kemudian dia diarahkan masuk pendidikan kecabangan yang sesuai dengan minat serta hasil psikologi.
“Saya akhirnya mengambil bidang perhubungan. Kaget juga waktu saya dihadapkan kepada dunia montir, di antaranya montir radio. Tapi ya senang, karena ada hal baru yang bisa saya pelajari.”
Setiap tahunnya personil Kowad diikutkan dalam ajang kejuaraan lomba untuk masing-masing cabang olah raga sesuai minat dan kemampuannya. Yanti mengikuti Lomba Tembak Asean Army Rifle Match (AARM). Ini adalah lomba menembak yang dilaksanakan setiap tahun diikuti oleh Angkatan Darat dari negara-negara ASEAN. Tahun 2006 untuk kali pertama Yanti mengikuti AARM dan dikirim ke Vietnam. “Itu seru banget. Pertama kalinya saya mengikuti kejuaraan di luar negeri. Suatu kebanggaan dan juga pengalaman tak terlupakan,” ujarnya.
Bagi Yanti, AARM itu adalah pesantren untuknya. Di sana dia ditempa dan dilatih untuk memaknai kesabaran. Setiap hal harus dipikirkan masak-masak. “Saya dilatih untuk mengatur emosi. Ajang latihan untuk saya aplikasikan ke dalam rumah tangga. Kita harus sabar untuk diri sendiri. Kan yang sulit adalah sabar untuk diri sendiri. Porsi saya sebagai seorang ibu kepada anak-anak. Kepada suami. Kepada rumah tangga,” ujarnya. Suaminya, yang juga sesama anggota Kopassus, Mayor Infantri Deden Basuki, di mata Yanti adalah sosok yang sangat memahaminya. “Mungkin karena seprofesi, jadi saling mengerti dan menjaga.”
Menjadi tentara Indonesia yang harus banyak berlatih dan siaga di mana pun berada. Apalagi sehari-harinya Yanti dituntut untuk terus berlatih berbulan-bulan.
“Latihan itu juga sekaligus untuk beradaptasi dengan cuaca di mana kejuaraan itu diadakan. Misal kejuaraannya diselenggarakan di negara yang dingin hingga sekian derajat, nah kita cari wilayah di Indonesia yang punya suhu yang sama untuk kita berlatih. Jadi badan kita sudah menyesuaikan, gak kaget lagi,” cerita Yanti. Sering pergi berlama-lama untuk tugas atau untuk kejuaraan adalah hal yang harus dilakukannya. Walau berat meninggalkan keluarga, tetapi Yanti tahu bahwa itu adalah konsekwensi yang harus dia lakukan.
Bintara Kowad lulusan Secaba Kowad PK-IV TA 1996/1997 ini sudah enam kali mengikuti Lomba Tembak AARM. Ia berhasil mengharumkan nama Indonesia khususnya TNI AD dengan menyabet beberapa kali juara, baik juara beregu maupun perorangan. Tahun 2009 Yanti berhasil unggul dalam Individual Champion di Singapura, dia juga menyabet Thropy Perorangan. Yanti juga tercatat dua kali menjadi juara pada Lomba Tembak Piala Kasad Cup pada tahun 2004 dan 2005.
Ketika ditanya apakah ia cukup puas dengan apa yang diraihnya saat ini? Yanti tersenyum bahagia. “Ya, puas. Saya bisa berprestasi tanpa melupakan keluarga. Kebahagiaan itu bukan kita cari tapi kita ciptakan. Dan di satuan Kopassus saya merasa bahagia. Di sini kami dilatih dalam bidang-bidang khusus.” *


This comment has been removed by the author.
ReplyDelete