Setelah tercatat sebagai perempuan pertama yang menjadi direktur utama lembaga penyiaran RRI, ia kemudian terpilih sebagai perempuan pertama di Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Ini adalah tulisan lama saya, hasil liputan saat menjadi jurnalis di sebuah media nasional perempuan. Sudah tayang di edisi 15, sekitar Juni 2016.
Menurut Niken, begitu sapaannya, banyak hal yang berkaitan dengan pemerintah kurang ditanggapi, sehingga informasi yang beredar di masyarakat begitu tidak terkontrol. Dia berharap, media publik seperti TVRI, RRI, juga Antara, dapat sejalan dengan Nawa Cita sesuai visi dan misi Presiden Joko Widodo.
"Harapan saya tentunya media publik TVRI, RRI, dan Antara terus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan informasi dan menyampaikan aspirasi, melalui Kemkominfo inilah kami harapkan bisa menjembatani hak masyarakat terhadap pemerintah," ujarnya saat ditemui di ruang kantornya.
Selalu Total dalam Pekerjaan
Setiap akhir pekan, ibu dari tiga orang anak ini meninggalkan Jakarta, tempat ia berdinas, untuk pulang ke Yogyakarta dan berkumpul dengan suaminya, Ir W Priyosembodo, dan keluarganya. Bertahun-tahun meniti rindu kepada keluarga demi dunia yang dicintainya, menyapa pendengar di seluruh tanah air Indonesia.
Rela hidup terpisah dengan keluarga membuktikan semangat dan kekukuhannya memegang semboyan RRI "Sekali di udara tetap di udara". Lulusan Sosiatri Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, tahun 1984 dan Pasca Sarjana Sosiologi Komunikasi Fisipol UGM tahun 2004 ini sangat mencintai dunia siaran. Menyapa pendengar yang berada jauh di pelosok tanah air, adalah bagian dari dunianya. Dia bisa silaturahmi dan berbagi informasi. Bersama penyiar RRI lainnya, Niken berusaha merengkuh pendengar hingga ke pulau-pulau terpencil yang boleh jadi belum pernah dijamah orang-orang penting di Jakarta.
Dia juga berharap media publik terus dapat meningkatkan kualitas dan kuantitasnya, serta terobosan-terobosan untuk menyuarakan kebijakan Presiden yaitu membangun dari perbatasan.
“Sejak awal saya sudah tertarik jadi angkasawati,” ujar Niken dengan senyum ramahnya. “Saya memulai karier ketika masih mahasiswa, tahun 1982. Waktu itu saya sebagai penyiar RRI di Yogyakarta. Itu kan ada lomba menyanyi di RRI, nah, tak sengaja saya membaca pengumuman tentang lowongan bekerja di RRI. Itulah langkah pertama saya. Setelah lulus dari kuliah saya langsung terjun menjadi reporter.”
Setelah menjadi reporter, Niken mendapat kesempatan menjadi penyiar lalu menjadi penulis naskah. Karirnya pun menanjak, dia menjadi produser. Dari situlah dia juga mengembangkan diri sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi.
“Tahun 90-an banyak sekolah tinggi berdiri tetapi belum memiliki dosen tetap yang menggeluti jurusan broadcasting. Saat itu saya selain menjadi wartawan, menjadi dosen tidak tetap di UGM dan beberapa perguruan tinggi swasta,” lanjut Niken.
Niken tidak saja membuat tutor tentang apa itu dunia broadcasting, tapi juga mencari berita dengan menjadi reporter, mengajar broadcasting sebagai dosen, dan juga tetap produktif menulis. Baginya, ketika kita mencintai suatu pekerjaan, maka semua harus dilakukan dengan total. “Saya total mengembangkan seluruh ruang yang belum saya tahu tentang penyiaran. Termasuk menjadi dosen, itu juga untuk tetap belajar. Intinya, semangat pembelajaran.” Menurutnya, berpikir jauh ke depan, tidak hanya memikiran apa yang ada di depan mata. Selain tekun, juga gigih.
Membuat Penelitian
“Saya merasa menjadi penyiar itu baik, karena memberitakan kabar baru kepada khalayak. Kalau ditanya soal cita-cita, saya lebih mengatakan, penyiar itu menjadi passion saya sejak kecil,” jelasnya lagi.
Kecintaannya pada radio antara lain muncul saat banyak orang mengatakan, RRI tak lagi punya pendengar. Niken dengan upaya sendiri mengadakan penelitian. Dia menyebarkan 1.000 kuisoner. Hasilnya, 70 persen responden masih mendengarkan RRI.
Belasan tahun bekerja di RRI Yogyakarta, Dirut RRI di Jakarta mengatakan kepadanya bahwa dia selayaknya ada di RRI nasional (Jakarta). Alasannya, tulisan Niken sudah di tingkat nasional. Niken pun akhirnya ditempatkan di Jakarta sebagai Kepala Bidang Penyiaran.
Semenjak menjabat sebagai Dirut RRI, Niken telah melayani banyak daerah. Misalnya, melayani pendengar di Tahuna. Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Sekitar 100.000 warga Tahuna menjadikan radio tak sekadar media massa, tetapi juga sarana komunikasi personal. Warga Tahuna mengudarakan kebutuhan mereka akan semen lewat RRI. lalu, pemasok di Manado mengabarkan pengapalan semen melalui RRI pula. Begitu juga dengan Pulau Sebatik, Kalimantan Timur, yang berbatasan dengan Malaysia, RRI lebih banyak mengudarakan informasi yang berkaitan dengan rasa kebangsaan. RRI mengudarakan lagu-lagu perjuangan untuk menumbuhkan rasa cinta Indonesia.
"Kalau RRI tidak gencar, bagaimana informasi bisa sampai ke masyarakat pelosok? Mereka harus tahu Pancasila, tahu tentang presidennya, tahu bagaimana peraturan dan perundang-undangan yang baru. Mereka kan perlu tahu berita tentang kenegaraan secara resmi,” ujar Niken. RRI kian berkembang. Demi rasa kebangsaan, RRI pun mengadakan berbagai acara yang terkait dengan menumbuhkan rasa kecintaan terhadap tanah air. "RRI itu bisa dibilang sabuk pengaman informasi di perbatasan. Ibaratnya, kalau patok tanah dipindahkan negara tetangga, rasa kebangsaan kita pasti tergugah," katanya.
Dirjen Perempuan
Kerja keras kelahiran Yogyakarta, 30 Oktober 1960 ini membuahkan hasil. Kecintaannya kepada dunia informasi dan siaran akhirnya menuntunnya kepada prestasi yang lebih tinggi. Senin, 14 Maret 2016 lalu, Niken mendapat kepercayaan memegang jabatan yang lebih lagi. Dia dilantik oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara sebagai Direktur Jenderal IKP (Informasi dan Komunikasi Publik) Kementerian Komunikasi dan Informatika.
“Setiap orang menginginkan yang terbaik. Maka saya melakukan apa pun dengan sebaiknya. Kepercayaan ini membuat saya harus lebih semangat dan terus mengabdi,” ujar Niken dengan senyum yang tak lepas.
Ia telah melalui seleksi yang dilakukan panitia seleksi untuk menjadi Dirjen IKP. Ucapan selamat dan harapan berdatangan seiring dengan pelantikannya.
"Selamat kepada pejabat Eselon I yang dilantik, saya yakin Tim Penilai Akhir memilih dengan alasan-asalan bahwa yang bersangkutan mampu menjalankan tugasnya,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara saat memberikan ucapan selamat kepada Niken. Niken sendiri siap menerima tantangan dari Menteri Rudiantara yang mengharapakan terobosan-terobosan dari pejabat yang baru dilantik.
“Penguatan tim humas pemerintah, kemudian membangun komunitas yang ada di Indonesia, itu yang akan saya canangkan pertama-tama,” ujar Niken. "Pada waktu yang lalu kita memiliki kelompok pendengar, ke depan kita akan membentuk kelompok, baik di tingkat desa, maupun kota yang disesuaikan dengan masyarakat yang kini telah berkomunikiasi melalui media internet, daring dan lainnya.”
Keluarga adalah Hal Terpenting
Meskipun menumpahkan baktinya kepada pekerjaannya, tetapi Niken tetap menganggap keluarga adalah hal yang terpenting. Sebisa mungkin dia berada di tengah keluarganya, apalagi saat ini semuanya sudah berkumpul di Jakarta. Sesekali Niken menyempatkan waktu untu makan malam di luar bersama keluarga.
Pelantikannya ini pun mendapat sambutan dan dukungan yang baik dari anak-anak dan suaminya. Ketiga anaknya, C Rahadian Pradana Swangga (24), V Nitya Wikaniswara (20), dan Y Sista Wikaniswara (18), senang dengan prestasi Niken. Mereka berharap Niken bisa mengemban amanat yang diberikan. Tentu saja ini menjadi prestasi bagi Niken. Sebagai seorang perempuan, setinggi apa pun perannya di masyarakat, tetaplah keluarga yang menjadi hal utama. “Seorang perempuan bisa dikatakan sukses jika dia berhasil membangun keluarga dengan baik. Anak-anaknya tumbuh sehat, berprestasi, dan berbudi baik. Bagaimana dia bisa membangun masyarakat jika dalam keluarganya sendiri berantakan? Semoga semakin banyak perempuan Indonesia yang berprestasi seperti itu.” *

Comments
Post a Comment