Nalar jangan lupa ditatar. Biar gak cepat kebakar.
Suatu pagi di awal Agustus, beranda fesbuk ramai membicarakan tentang Patung Pahlawan China Kwan Sing Tee Koen yang berdiri di Tuban. Foto-foto patung itu menarik perhatian saya yang belum pernah pergi ke Tuban. Saya pun membaca berita-berita yang dibagikan itu. Ternyata orang-orang itu kembali berpikir emosional lagi. Katanya patung itu melecehkan warga Tuban dan Indonesia. "Mengapa membangun patung pahlawan China, kan banyak pahlawan dari Tuban. Mana nasionalisnya?"
Ah, ya. Saya tidak kaget membaca seruan mereka. Mereka memiliki pandangan sendiri. Sementara bagi saya, patung yang dibangun di lingkungan Tempat Ibadah Tri Darma (TITD) Kwan Sing Bio, Tuban, itu adalah hak para pemeluk kepercayaan itu sendiri, selama sudah ada ijin pendiriannya. Mereka memilih patung pahlawan China itu untuk mengenangnya sebagai pahlawan perang yang adil dan bijaksana dalam kepercayaan mereka. Kwan Sing Tee Koen dikenal sebagai jenderal perang di negeri China yang memiliki kejujuran dan setia. Ia hidup di zaman San Guo (221-269 Masehi). Jadi menurut saya, pembangun patung itu --moga-moga-- tidak terkait dengan tidak mengakui adanya pahlawan nasional di Tuban atau pelecehan bangsa Indonesia. Setiap golongan tentu memiliki tokoh panutan.
Namun, karena begitu megah dan tingginya bangunan tersebut, yang kemudian disebut-sebut sebagai patung tertinggi se-Asia Tenggara, akhirnya menimbulkan pertanyaan mengapa patung ini lebih megah dari patung-patung pahlawan yang ada? Mengapa terlalu berlebihan menghormati pahlawan dari negara lain? Apalagi Tuban dikenal sebagai Bumi Wali. Nah, ya, saya paham. Kita tidak boleh mencederai kebudayaan lokal. Masa patung pahlawan dari luar lebih megah dari patung pahlawan negeri sendiri. Soal ini mari kita tanyakan kepada pihak yang terkait. Mengapa bisa keluar perijinan pembangunan yang megahnya melebihi pembangunan tokoh lokal.
Pembangunan patung Dewa Perang Kwan Sing Tee Koen berasal dari ide Ketua Penilik Klenteng, Alim Sugiantoro. "Pembangunan monumen patung ini sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun Yang Mulia Kongco Kwan Sing Tee Koen ke-1857," begitu penjelasan Alim kepada media. Patung ini akan menggeser patung Dewi Kwan Im di Pematang Siantar, Sumatera Utara, yang kemarin tercatat sebagai yang tertinggi se-Asia Tenggara.
Pembangunan yang memakan waktu setahun tersebut diperkirakan menghabiskan dana Rp 2,5 miliar. Nah ini dia: Biayanya dari donatur yang merupakan jemaat kelenteng di situ! "Donatur itu asal Surabaya dan sudah menjadi jemaat sini sejak tahun 1970," kata pria yang juga menjadi Ketua Kordinator acara HUT Klenteng Kwan Sing Bio. Gotong royong para umat yang jumlahnya tidak banyak ini serta adanya donatur ternyata menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Nah, kan. Berarti bukan uang negara. Agar tidak lagi ribut-ribut lagi mungkin kita juga harus gotong royong dan menjadi donatur untuk pembangunan tokoh pahlawan kita yang jauh lebih megah dari patung ini. ;)
Selama ini banyak wisatawan yang tertarik berkunjung ke Tempat Ibadah Tri Darma (TITD) Kwan Sing Bio, Tuban. jadi, dengan pembangunan patung ini diharapkan semakin memikat para wisatawan dan meningkatkan pendapatan daerah. "Ini hanya sebagai lambang tauladan ksatria sejati yang selalu menempati janji setiap sumpahnya," ujar Alim lagi.
Dulu, ketika saya muda saya pernah berpikir mengapa kita membangun arena wisata Ocean Park atau Water Boom dan sejenisnya yang diadaptasi dari negeri luar? Bukankah kita memiliki permainan congklak dan gasing atau tarian Jaipongan? Tentu tidak bisa dipadankan dengan hal itu, dan tidak sebengkok itu juga kita berpikir, bukan? Negeri Indonesia memiliki ragam suku dan agama. Saya berharap ribut-ribut pembangunan patung terbesar dan termegah ini bukan dipicu oleh sara.
Saya kerap tercenung ketika salah satu stasiun tivi masih memutarkan lagu 'Nyiur Melambai' untuk menutup siarannya malam itu. Mendengarnya, ada dingin yang mbrebes menjalar ke tulang-tulang saya.Ngilu. Juga bercampur haru.
Ngilu karena lagu yang selalu didendangkan di sekolah-sekolah di era 1980-an --dan tidak diperkenalkan kepada anak-anak sekolah saat ini-- seolah mengingatkan saya bahwa wajah negeri ini kian muram tanpa cinta kasih lagi. Masing-masing merasa paling benar tanpa memberi kesempatan kepada golongan lain untuk merasa benar.
Tentang patung yang tingginya mencapai 30-an meter itu, saya menjadi tertarik untuk mencari tahu sejarah Klenteng Kwan Sing Bio. Mungkin saat ini belum kesampaian berkunjung ke sana, tetapi untuk mengetahui sejarahnya tidak ada salahnya.
Klenteng Kwan Sing Bio dibangun awal abad 18. Ikon klenteng ini adalah hiasan kepiting besar yang berada di atas pintu masuk klenteng. Makanya klenteng ini juga disebut dengan Klenteng Kepiting. Di lokasi dibangunnya klenteng ini, dulunya adalah daerah tambak dengan banyak hewan kepiting hidup dan berkembang biak di sekitarnya. Kepiting juga dimaknai sebagai simbol perlindungan pada kelenteng dan umatnya dari pengaruh unsur-unsur jahat.
Kompleks kelenteng Kwan Sing Bio memiliki luas areal sekitar 4-5 hektar. Dewa utama yang dipuja di Klenteng ini adalah Dewa Kwan Kong. Ada Taman Dua Naga di dalam klenteng, juga Bangunan Sembilan Gada Suci, dan relief yang berkisah tentang Legenda Delapan Dewa. Melihat foto-fotonya yang bertebaran di internet, saya berharap bisa berkunjung ke sana dalam waktu dekat. Harus! Kudu! *



Comments
Post a Comment