Tubuhnya yang mungil menjadikan anak-anak sebagai obyek kekerasan orang dewasa. Bukan hanya karena kenakalan-kenakalannya yang memancing perilaku kekerasan, tetapi juga karena adanya kepentingan orang dewasa atas kehidupan mereka.
Entah berapa kali saya mendapat video share di media sosial atau di group whatsup tentang anak-anak yang menjadi pelampiasan kekerasan. Baik itu dilakukan oleh orangtua kandung, tiri, paman, bibi, tetangga, atau pengasuh. Ada pula yang main keroyok hanya gara-gara si anak dianggap menghina sesuatu. Bila sudah melihat itu, saya tergidik. Dengan sangat heran berpikir, kemana hati nurani pelaku?
Orang dewasa ternyata tak melulu menjadi dewasa dalam berpikir atau bertindak. Banyak yang tidak mampu mengendalikan emosinya, sehingga kekerasan begitu mudah dilakukannya. Terutama terhadap anak kecil yang jelas-jelas tak mampu memberikan perlawanan. Kekerasan di sini tentu saja selain kekerasan fisik juga kekerasan verbal dan intimidasi.
Berbagai peristiwa kekerasan terjadi akibat emosi orangtua yang tak bisa dikendalikan karena berbagai faktor. Akhirnya, sang anak rentan menjadi obyek kekerasan. Dan ancaman justru datang dari orang-orang terdekat.
Sebenarnya ini adalah catatan lama saya untuk liputan majalah tempat saya bekerja. Saya tulis ulang di sini untuk kebutuhan blog ini, saya kemas agar kita bisa sama-sama mewaspadai bila melihat gelagat kekerasan di sekitar kita.
Kisah-kisah Pilu
Anda fans berat Michael Jackson? Mungkin masih ingat bagaimana kehidupan masa kecil King of Pop itu yang setiap harinya kerap menerima perlakukan kasar dari ayahnya. Beruntung dia tetap memiliki semangat hidup dan tumbuh menjadi pribadi yang baik. Malahan dia menjadi bintang terkenal yang menyayangi anak-anak kecil.
Ada kisah pilu seorang Arie Hanggara di tahun 1984. Dia meninggal setelah mendapat hukuman dari ayahnya. Kisah bocah delapan tahun itu cukup menggemparkan Indonesia.
Tahun 2012 seorang bocah perempuan berusia empat tahun, Aini, disiksa ibu tirinya yang mengaku kesal karena Aini nakal. Aini tewas dengan luka lebam di kepala, mata, dan bagian tubuh lainnya. Si ibu tiri memiliki emosi yang labil kerap memuntahkan kekesalannya kepada Aini.
Di tahun 2013, ada kisah lain datang dari tanah Batam. Rizky Zaki dibawa ke rumah sakit oleh ayah kandung dan ibu tirinya dalam keadaan panas tinggi. Sekujur tubuhnya lebam dan berdarah. Kepada petugas rumah sakit orangtuanya mengatakan bahwa bocah berusia tiga tahun itu jatuh terpeleset dan membentur tembok ketika lampu padam. Melalui pemeriksaan akhirnya terungkap Rizky menjadi pelampiasan kekesalan orangtuanya. Hanya karena dia rewel sementara orangtuanya begitu lelah karena harus mencari nafkah, bocah itu pun tewas mengenaskan.
Di tahun 2014, ada kisah Iqbal, bocah empat tahun yang mengalami siksaan luar biasa yang dilakukan oleh kekasih ibunya, Dadang. Dadang yang pengangguran menjadikan Iqbal pengamen. Iqbal selalu dibawa naik-turun bus dan menyusuri jalan-jalan. Bila Iqbal mengeluh lelah, tak segan-segan Dadang menyiksa Iqbal. Kasus ini terungkap ketika seorang perempuan muda mendapati Iqbal tengah kejang-kejang dalam gendongan Dadang di depan Stasiun Kota.
Beberapa waktu lalu ada bocah berusia dua tahun bernama Anas yang menjadi korban penganiayaan paman dan bibinya. Dia harus dirawat di RSUD Kabupaten Aceh Tamiang, karena kepalanya retak, tangan dan kakinya patah, bagian perut terlihat bekas gigitan, dan di atas kemaluannya terpampang bekas sulutan rokok. Orangtua Anas pergi merantau ke Malaysia dan Anas dititipkan kepada paman dan bibinya. Anas menjadi korban pelampiasan kemarahan dan kebencian paman dan bibinya.
Lalu beberapa waktu lalu kita dihentakkan dengan kisah Engeline yang tewas mengenaskan. Engeline yang diduga menerima banyak warisan, menjadi korban kekerasan dan kepentingan orang dewasa; ibu tirinya dan pihak-pihak lain.
Deretan peristiwa pilu lainnya masih sangat banyak. Tentang pengasuh yang tega menginjak-injak tubuh anak majikannya yang berusia 2 tahun hanya karena menangis terus-terusan. Tentang Sang Paman yang tega merenggut kehidupan keponakannya yang mulai tumbuh dewasa. Tentang tetangga yang mencekik bocah cilik karena kelainan seksualnya... Semua sangat mengerikan.
Penyebab Tindakan Kekerasan
“Ini betul-betul memprihatinkan,” begitu yang diucapkan Kak Seto yang saya temui di kediamannya di Jakarta Selatan, ketika saya meminta kesediaan waktunya untuk wawancara ini. Menurutnya, kekerasan pada anak mestinya tak pernah terjadi bila mereka diposisikan sebagai subjek, bukan objek. “Paradigma para orangtua kalau anak adalah hak milik harus segera diubah.”
Ini mengingatkan saya pada pendapat Erna Marina Kusuma MpSi, seorang psikolog dari Australian Psychology Society Membership yang saya hubungi via telepon. Ia mengatakan hal yang senada. “Anak seringkali dianggap makhluk lemah dan terkadang orang dewasa yang tidak bertanggung jawab suka memanfaatkan hal ini untuk bersikap semena-mena pada anak.”
Miris, bukan?
Semua orangtua tentu ingin memiliki anak yang penurut dan tidak nakal. Dalam keadaan lelah dan stress terkadang orangtua menjadi mudah emosi. Banyak orangtua yang akhirnya kelepasan memukul si anak.
“Alasan agar anak tidak nakal, disiplin, maka harus dikerasi dengan cara dipukul. Padahal itu cara didik yang salah!” ujar Kak Seto. Jika tidak segera dihentikan cara didik seperti itu bukan tidak mungkin generasi muda ke depan akan melahirkan anak muda yang menonjolkan kekerasan dibanding intelektual.
“Alasan agar anak tidak nakal, disiplin, maka harus dikerasi dengan cara dipukul. Padahal itu cara didik yang salah!” ujar Kak Seto. Jika tidak segera dihentikan cara didik seperti itu bukan tidak mungkin generasi muda ke depan akan melahirkan anak muda yang menonjolkan kekerasan dibanding intelektual.
Ketakberdayaan menjadikan mereka sasaran empuk emosi orang dewasa. Apalagi jika si anak bersikap nakal. “Memang mengurus anak bukan suatu hal yang mudah, apalagi anak-anak cenderung menguras emosi dengan segala tingkah lakunya. Namun, di balik itu semua coba renungkan, bukankah semakin berbahagia hidup ini bila tiap harinya diisi oleh canda tawa anak yang mengusir rasa lelah dan mendatangkan kesenangan bagi diri kita,” ujar Prof Dr KH Hasanuddin AF, MH, Ketua Fatwa MUI Pusat yang dihubungi rekan saya via telepon untuk kepentingan wawancara ini.
Kekerasan anak di dalam rumah tangga terjadi karena beberapa faktor. Erna menyebutkan orangtua yang di masa kecilnya mengalami kekerasaan, akan cenderung memperlakukan hal yang sama saat ia punya anak di kemudian hari. Ada pula stess sosial, stress yang di sebabkan oleh kondisi sosial seperti pengangguran, penyakit mental, dan kondisi keadaan rumah yang buruk juga bisa meningkatkan resiko kekerasan pada anak. “Kekecewaan dan kemarahan orangtua akhirnya dilampiaskan kepada si anak.”
Senada dengan Erna, Dr. KH. Hasanuddin AF, MH, berpendapat, “Mungkin saja orangtua si anak pernah mendapat kekerasan di masa kecilnya. Hingga akhirnya terulang dan terjadi kepada anaknya.”
Minimnya kehangatan hubungan emosional antar anggota keluarga pun bisa menjadi pemicu. Hal ini dikatakan oleh Maria Advianti SP, Wakil Ketua KPAI. “Faktor sosial atau masyarakat, faktor keluarga yaitu kurang harmonisnya hubungan antar anggota keluarga, kurangnya pengawasan terhadap anak-anak, juga menjadi pemicu timbulnya kekerasan.”
Antar-anggota keluarga mestinya bisa mengamati apa yang terjadi pada anggota keluarga. Apakah si anak nampak lebih murung, lebih diam, kondisi fisiknya terlihat lemah, tidak bergairah, dan lain-lain? “Mestinya itu bisa terbaca dan cepat diambil tindakan dengan pendekatan. Pengawasan lebih diperketat lagi,” lanjut Maria.
Menjadi Bagian dari Stop Kekerasan Anak
Tindak kekerasan yang terjadi baik di dalam keluarga maupun di luar keluarga semestinya bisa segera terungkap jika ada kerjasama antar masyarakat. Misalnya dalam kasus Engeline, pihak yang melihat adanya hal yang mencurigakan seperti tubuhnya tak terurus, terdapat memar, dan sikapnya yang sangat pendiam dan tertutup, seharusnya segera melapor ke aparat terdekat sebelum terjadi hal yang lebih buruk lagi.
Cara terbaik dalam rangka perlindungan anak ini adalah membentuk Satgas Perlindungan anak di wilayah tempat tinggal. Sehingga angka kekerasan bisa ditekan sebab masyakarat saling menginformasikan jika dirasa ada yang tidak wajar. “Kita memulai dari lingkungan kita. Termasuk kita arahkan kepada masyarakat untuk segera melapor bila menemukan kasus seperti itu di daerahnya,” ujar Kak Seto.
Dalam catatan KPAI, setiap tahunnya telah terjadi 3.700-an atau sebanyak 13-15 kasus kekerasan terhadap anak dalam setiap harinya. Baik dalam bentuk kekerasan seksual, kekerasan fisik lainnya, pembunuhan, perdagangan manusia (human traficking), narkoba, anak-anak jalanan dan sebagainya. Kewajiban bertindak sebagai saksi pelapor jika mengetahui adanya tindak kekerasan terhadap anak adalah sebagai pertanggungjawaban moral bagi KPAI untuk lebih pro aktif.
Untuk kasus kekerasan anak yang terjadi di dalam rumah tangga, KPAI mempunyai mekanisme dan SOP. Menurut Erlinda, M.Pd, sekretaris KPAI periode 2014-2017, kasus ditangani dengan pelayanan terpadu untuk penanganannya dalam hal memberikan rehabilitasi psikis, medis, dan psikososial dari korban (jika korban masih hidup). Tetapi jika korban meninggal, seperti pada kasus Angeline, KPAI memberikan kepastian terhadap penegakan hukum agar keluarga yg ditinggalkan mendapat keadilan. Erlinda juga menegaskan, KPAI melakukannya bersama lembaga mitra, seperti Kementrian Sosial, P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) sebagai salah satu lembaga layanan bagi korban kekerasan, dan jika dibutuhkan bersama dengan kepolisian. Cara lain adalah maping kasus yang ada di Polres sehingga bisa melihat daerah mana yang memiliki potensi kejahatannya besar dan tipikal kekerasannya seperti apa.
Korban kekerasan bisa menjadi orang yang keras pada anak di kemudian hari atau bisa tumbuh menjadi individu yang tidak percaya diri, menyendiri, atau bisa juga menjadi kasar. Lalu apakah mungkin korban kekerasan mendapat masa depan yang cerah di kemudian hari? Erna Marina Kusuma MpSi mengatakan, mungkin saja. “Apalagi jika anak korban kekerasan dibantu dengan benar dan di perlakukan dengan baik di lingkungan, akan mempunyai masa depan yang cerah. Jika anak korban kekerasan diberi kasih yang tulus akan membuat mereka cepat pulih dan akan belajar bagaimana mengasihi dan memaafkan.”
Kekerasan pada anak merupakan masalah kompleks. Perlu dilakukan penanganan oleh tim terpadu dari berbagai kalangan dan multidisiplin. Kitalah yang harusnya menjadi bagian dari tim terpadu itu. Apabila kita sebagai orangtua atau kerabat atau tetangga dan masyarakat sekitar, mencurigai seorang anak mengalami kekerasan, sebaiknya segera menghubungi aparat terkait untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut.*
Belakangan, ketika negeri ini riuh dengan perbedaan pandangan, tindakan kekerasan secara verbal dan intimidasi terhadap kaum yang lemah dan anak-anak bermunculan. Semoga kita semakin bijak dalam bersikap dan berkata-kata.

Comments
Post a Comment