Hazrat Mahal Pemimpin Muslim India yang Anggun dan Cerdas

Dia adalah pejuang kemerdekaan dalam Perang India atau Perang Sepoy pada 1857-858. Dikenal sebagai Begum dari Awad yang anggun dan cantik, dia adalah salah satu pemimpin India yang dihormati. 




Strategisnya yang cerdas dalam perlawanannya terhadap Inggris membuat namanya harum sebagai perempuan pejuang India. Namun, dia memiliki masa kecil yang pahit. Terlahir dari keluarga miskin di kota Faizabad, terletak di negara bagian Oudh, India, pada tahun 1820, Hazrat melalui masa kecilnya dengan kepedihan. 

Saya mengaguminya dan mencoba menuliskan tentangnya, ehm, sebenarnya lebih banyak tentang pemberontakan India, yang saya ambil dari banyak sumber. Mungkin beberapa data masih kurang atau malah keliru, mohon dimaklumi dan akan diperbaiki jika ada info yang akurat.


Menjadi Penari dan Harem Istana
Orangtuanya disebut-sebut keturunan Iran ditilik dari nama keluarganya Iftikarun-nisa. Tradisi lokal membuat Hazrat, yang memiliki nama gadis Muhammadi Khanum, dididik sebagai penari. Orangtuanya menjualnya ke istana dan dibawanya sebagai harem kerajaan. Di usia belia Hazrat harus melalui itu semua tanpa perlawanan. Tradisi dan keadaan membuatnya harus memahami apa yang terjadi. 

Kecantikan dan gemulai tubuhnya membuat Raja Oudh terpikat. Raja memilihnya menjadi selir. Setelah resmi menjadi selir, Hazrat menyandang sebutan 'Begum'. 

Hazrat mendampingi suaminya, Wajid Ali Shah. Dia membantu dalam urusan-urusan negara. Kecerdasannya membuatnya cepat memahami permasalahan negara dan memberikan masukan-masukan kepada suaminya. 

Kelahiran Birjis Qadr pada tahun 1845 membuatnya menyandang gelar Begum Hazrat Mahal. Sebuah sebutan kehormatan tertinggi untuk pejabat muslimah. Anak pertamanya itu lahir pada saat keadaan negara Oudh telah hampir independen dari Kaisar Moghul di Delhi selama sekitar seratus tahun. 



Pemberontakan India
Penyatuan kebudayaan Islam dan Hindu membawa kejayaan bagi India yang tercermin dalam seni, sastra, bahasa, dan arsitekturnya. Sekitaran abad ke-13, 14, dan 15, India telah melahirkan banyak pujangga besar seperti Amir Khusraudan, raja-raja besar yang telah memerintah India dengan arif dan bijaksana seperti Akbar dan Shahjahan, dua orang Raja Mughal yang sangat terkenal.

Kemunduran Islam di India terjadi pada tahun 1707 setelah wafatnya Raja Aurangzeb. India terpecah belah dalam kerajaan-kerajaan kecil yang saling bermusuhan dan berperang, yang akhirnya memudahkan bangsa-bangsa Barat masuk ke India. Dalam sejarah India, Bahadur Shah Zafar dianggap sebagai penguasa Dinasti Mughal yang terakhir. Ia pernah melancarkan pemberontakan terhadap Inggris. Dengan keadaan yang sudah terpecah-belah di antara bangsa-bangsa di India sendiri, bangsa Barat berhasil menduduki tempat-tempat penting di pantai selatan India yang kemudian melebar. 

Kekuasaan Inggris di India dimulai dengan berdirinya English East India Company pada tahun 1600 yang semula lebih bersifat dagang, dan kemudian dibarengi dengan penguasaan secara fisik dan politis, yang mencapai puncaknya dalam pertempuran Buxar pada tahun 1756 melawan raja-raja India. Kemenangan Inggris dalam pertempuran itu membuat Inggris berhasil menguasai daerah-daerah Benggala, Bihar, dan Orissa yang kemudian dalam kurun waktu yang kurang dari setengah abad disusul pula dengan penguasaan terhadap daerah-daerah lain di India.

Pada tahun 1824 Pemerintah Inggris mengambil alih kekuasaan terhadap English EastIndia Company dari India dan dengan demikian secara mutlak mendudukkan kekuasaannya terhadap negara ini. Meskipun demikian, Inggris masih mengizinkan berdirinya kerajaan-kerajaan kecil yang dikepalai oleh pangeran-pangeran. 

Sekitar tahun 1850-an Inggris memperluas kendali mereka di Oudh. The East India Company (EIC) kembali menawarkan pembelaan dan penggunaan tentara mandiri, demi memenangkan konsesi perdagangan dari para penguasa lokal. Hal ini juga membuat mereka berhutang dan saat penguasa tidak mampu membayar, EIC memaksa konsesi baru dari mereka atau bahkan menyita tanah mereka.

Wajid Ali Shah, suami Begum Hazrat Mahal, menghadapi situasi yang sulit di tahun 1856. Dia telah terperangkap hutang kepada East India Company. Pada akhir tahun 1855 pengadilan East India Company menetapkan bahwa Wajid Ali Shah tak mampu membayar hutang. Mereka menyita aset yang dimiliki Wajid Ali Shah. Begum Hazrat Mahal menentang proses aneksasi itu. 

Pada tanggal 7 Februari 1856, Inggris mengambil kendali kerajaan Oudh. Akhirnya pada 1857 muncullah pemberontakan muslim India terhadap penindasan tentara Inggris. Pemberontakan itu dikenal dengan nama 'Pemberontakan Sepoy' atau pemberontakan pribumi. Pemberontakan tersebut berakhir dengan kekalahan muslim dari tentara Inggris. Wajid Ali Shah diasingkan ke Calcutta. Begum Hazrat Mahal pun segera mengambil alih urusan negara. Dia dan putranya berperang memberontak melawan kekuatan dari British East India Company. 

Tentara Sepoy pada Perang India 1857 /ft.Google


Perlawanan Hazrat Mahal
Menggabungkan kekuatan dengan kekuatan revolusioner pada perang kemerdekaan pertama, Hazrat berhasil merebut Oudh dan Lucknow dari Inggris. Dia pun menobatkan anaknya sebagai pewaris kerajaan Awadh. Dia disebut ‘Lakshmi Bai' dari Oudh yang sangat mendukung sesama pemberontak seperti Nana Saheb. Hazrat sepenuhnya mengabdi dan berjanji kepada rakyatnya untuk terus melanjutkan perjuangannya membentengi kota Lucknow terhadap pasukan Inggris.

Sayangnya, setelah pengepungan panjang, Oudh dan Lucknow lagi-lagi kembali dikuasai Inggris. Itu memaksa Hazrat Mahal untuk mundur pada tahun 1858. 

Kalangan istana yang memberontak terpaksa mengungsi ke Nepal termasuk di antara mereka adalah Maulana Sargaraz AH Shah (Mufti terahir dari dinasti Mughal semasa Sultan Bahadur Shah Zafar) yang harus mengungsi ke Kathmandu mengiringi kepergian Begum Hazrat Mahal, Wajid Ali Shah, dan Putra Mahkota Birjis Qadr. 

Maulana Sargaraz dan Putri Begum Hazrat Mahal akhirnya wafat di pengungsian di Nepal. Keduanya dimakamkan di areal masjid Jami’ Kathmandu sesuai keinginan mereka semasa hidup. 

Begum Hazrat Mahal wafat di Kathmandu pada tanggal 7 April 1879. Makamnya masih dapat dijumpai di sana meski selama berpuluh puluh tahun makam dan masjid tersebut sama sekali luput dari perhatian pemerintah Nepal. Makam pejuang India tersebut akhirnya mendapat perhatian besar dari pemerintah Nepal. 

Gapura Begum Hazrat Mahal Park, Lucknow
Perangko bergambar Begum Hazrat
 


Memoriam Begum Hazrat Mahal
Untuk mengenangnya, pemerintah membangun Begum Hazrat Mahal Park, di Lucknow, pada tanggal 15 Agustus 1962. Pembangunan ini juga untuk perannya dalam Perang Pertama Kemerdekaan. Sosoknya sangat dikenal dalam sejarah India hingga kini. Setiap tahunnya diselenggarakan berbagai acara memperingati perjuangan Hazrat. 

Begum Hazrat Mahal Park adalah sebuah taman yang indah yang berada di jantung kota Hazratganj, berlawanan dengan Hotel Clarks Awadh. Mulanya digunakan untuk acara reli dan berbagai festival. Ini juga menjadi taman favorit untuk wisatawan dan pejalan kaki yang ingin beristirahat atau berteduh. Air mancur di pusat dan kolam air buatan menyediakan lingkungan yang menenangkan mata.

Hazrat juga diabadikan dalam bentuk perangko oleh pemerintah India. Tanggal 10 Mei 1984, adalah tanggal di mana perangko itu diresmikan.* 



Comments