Perempuan Pengamat Intelijen Indonesia ini bicara tentang pekerjaannya yang jarang digeluti perempuan lain. Minimnya perempuan yang paham akan politik membuatnya berharap agar pemerintah memiliki program edukasi politik, baik untuk sekolah maupun masyarakat.
Sebenarnya ini adalah catatan lama, ketika saya masih bertugas di sebuah majalah wanita. Ketika itu saya mewawancarai perempuan satu-satunya pengamat intelijen yang Indonesia miliki. Banyak sisi menarik yang saya dapat dari perbincangan ini yang sayang untuk dilewatkan. Untuk kebutuhan blog ini saya menuangkan hasil liputan yang pernah ditayangkan di majalah tempat saya bertugas. Tentunya dengan beberapa perombakan.
Tak banyak perempuan di Indonesia yang tertarik pada masalah politik dan intelijen. Beruntung bagi perempuan kelahiran Jakarta, 30 Agustus 1964 ini yang dilahirkan di tengah keluarga yang sangat erat dengan dunia politik. Saya dan photografer menemuinya di kediamannya di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Siang itu ia mengenakan gaun batik yang membuatnya terlihat anggun meski tak menutupi sikap tegasnya. Ia mengawali percakapan dengan kisah tentang dukungan keluarga terhadap karier politiknya hingga bisa menjadi seperti sekarang.
Keluarga yang Menjadikannya Politikus
Sejak kecil ia bahkan telah akrab dengan istilah-istilah politik, militer, dan intelijen. Ia juga paham bagaimana peran politik dalam pemerintahan. Itu karena ayahnya, Kol Purn RS Kertopati, mengenalkannya kepada dunia politik.
“Ayah saya seorang tentara yang senang membaca. Saya diajak bicara mengenai tata cara yang berkembang di masyarakat. Istilah militer, istilah intelijen, istilah keamanan, semua diperkenalkannya kepada saya. Itu sebabnya ketika saya kuliah S1, saya sudah tahu istilah itu, sudah nggak asing lagi.”
Nuning, panggilan akrabnya, menjadi tertarik. Sepak terjang dunia politik membuatnya takjub. Hal itu yang membuatnya yakin langkah apa yang akan ia ambil untuk ada depannya.
“Unsur yang paling kuat adalah keluarga. Sejak dini, keluarga saya mengatakan bahwa mau menjadi apa pun—dokter sekalipun—kita harus mengerti politik karena kita hidup berbangsa.”
Sebagai anak tunggal, dia menjadi tumpuan dan harapan orangtua. Ayahnya ingin dia mengikuti jejaknya. Dia memilih mengambil FISIP UI Jurusan Kesejahteraan Sosial, untuk bekalnya masuk politik. Setelah itu melanjutkan program Pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Saran ayahnya yang menginginkan dia masuk dan aktif dalam dunia politik mendorongnya bergabung masuk PDI (waktu itu belum menjadi PDIP).
Ia telah terjun dalam dunia politik di usianya yang masih muda. Nuning pun bergabung masuk PDI tahun 1994. "Usia saya waktu itu masih 25 tahun. Ibu Mega waktu itu masih sebagai anggota DPR RI FPDI bersama Bapak Taufik Kiemas, ketua umumnya adalah Suryadi. Saya belajar berpolitik utamanya dari Ibu Mega sejak saat itu.”
Jalan terang dalam dunia politik menjadikannya anggota DPR RI dari PDI Perjuangan tahun 1999-2004 . Saat itu dirinya dipercaya sebagai sekretaris Fraksi pertama PDI Perjuangan. Pasca tahun 2004, saat Nuning tak menjadi anggota DPR lagi, dirinya mengambil program Doktoral di Universitas Padjadjaran Bandung. Pada tahun 2008 Nuning ditawari masuk menjadi Caleg Partai Hanura oleh Ketua Umumnya, yaitu Jendral. TNI.Purn. Wiranto, yang kebetulan sudah mengenalnya sejak lama. Perkenalannya dengan Wiranto membuka peluangnya untuk bergabung dengan Hanura. “ Hubungan saya masih baik dengan PDIP, jadi ketika saya berpindah ke Hanura, tidak ada masalah. Kebetulan idealisme PDIP dan Partai Hanura hampir sama."
| Bersama PM Thailand Yingluck Shinawatra dan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono 2012. |
Indonesia Harus Melek Politik
Pernah menjadi anggota DPR RI Fraksi PDIP tahun 2004-2009 dan anggota DPR RI Fraksi Partai Hanura tahun 2009-2014, apakah ada keinginan untuk kembali duduk di DPR RI?
“Saya harus melihat dulu bagaimana dinamika politik ke depan,” ujar peraih gelar Doktor dari Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjajaran, Bandung, lewat disertasinya yang bertema Komunikasi Intelijen Keamanan Polri.
Disertasi yang ia persembahkan untuk perkembangan kinerja intelijen di negara ini, konon menuai pujian dari petinggi militer dan Polri. “Selain untuk memenuhi syarat saya sebagai Doktor, tentu untuk saya persembahkan bagi perkembangan kinerja intelijen negara kita lengkap dengan enthitasnya," ujarnya. Disertasinya tersebut kemudian dijadikan buku berjudul ‘Komunikasi dalam Kinerja Intelijen Keamanan’.
Karena konsentrasinya pada bidang intelijen, Nuning kerap menjadi narasumber. Dia juga berharap Intelijen Indonesia ke depannya harus mengedepankan koordinasi yang lebih baik dan terintegrasi antar lembaga intelijen yang ada (BIN, Bais, Baintelkam, Polri, imigrasi, dan kejaksaan). Peningkatan kualitas personel intelijen juga harus ditingkatkan sehingga memiliki kemampuan deteksi dini dan lain-lain yang semakin mumpuni.
Yang menjadi keprihatinan saat ini bahwa sampai sekarang Indonesia masih belum melek politik. “Alangkah baiknya masyarakat melek politik dan melek pendidikan. Misal dalam pemilu, jangan karena uang, sembako, atau kebutuhan yang sejenak saja,” ujarnya. “Harus melihat siapa calonnya, melihat faktor pendidikan calonnya, kehidupan pribadinya, faktor-faktor lain sebagai nilai plus, sebagai bekal anggota DPR RI yang mewakili konstituen, sehingga ketika dia dudukdi DPR, tidak lagi belajar, melainkan sudah paham.”
Pileg akan berlangsung baik dan sesuai jika calonnya memiliki pendidikan yang mumpuni dan mekanisme pemilihan perlu dibenahi. Dalam hal ini KPU mestinya memberikan edukasi kepada masyarakat. Melakukan terobosan dengan memberikan gambaran mengenai siapa calonnya, apa pendidikannya, bagaimana kemampuan edukatifnya, sudah mapankah kemampuan legislasinya, dan lain-lain.
“Jadi KPU bukan melepas masyarakat untuk memilih siapa maunya, tetapi arahkan kepada pemilihan yang benar!” tegasnya. Edukasi politik mestinya sudah dikenalkan dari keluarga. “Kenalkan anak atau anggota keluarga terhadap pengetahuan politik. Bergaul dengan orang-orang yang cerdas dan berwawasan. Pemerintah juga harus menguatkan program edukasi politik di sekolah, di masyarakat, dan pemberdayaan-pemberdayaan melalui departemen.”
Selama menjadi wakil rakyat, Nuning termasuk perempuan yang amat vokal di Komisi I, yang membidangi pertahanan, intelijen, kominfo, dan luar negeri. Ketika dirinya sudah tidak lagi berada di DPR, kini dia lebih banyak memberikan pembekalan terhadap anggota partai serta kembali ke dunia kampus untuk mengajar di berbagai institusi dan universitas.
“Saya mengajar dan kegiatan lainnya ya menulis. Sebagai narasumber dan pengamat, saya membawa pesan-pesan edukatif serta mengkritisi berbagai penanganan masalah bangsa yang menurut hemat saya belum baik,” ujarnya. Sebagai seseorang yang sudah matang sebagai legislator, Nuning menyarankan agar teman-teman yang duduk sebagai anggota dewan agar jangan malu untuk bertanya dan belajar. Menjadi anggota dewan membutuhkan kematangan dan menguasai isu nasional dan internasional.
Perannya sebagai pengamat intelijen diharapkan dapat turut menyempurnakan berbagai institusi intelijen di negara kita. Apalagi dia adalah perempuan pengamat intelijen yang Indonesia miliki sampai hari ini. Menjawab hal itu, Nuning hanya tertawa kecil. “Perempuan pertama? Ya, media yang bilang begitu,ya,” katanya. “Saya bersyukur atas apa yang sudah saya raih dan berusaha mengamalkannya dengan sebaik-baiknya.”
Bekerja Adalah Hiburan
Tidak hanya mengajar, menjadi narasumber, dan pengamat, ternyata Nuning juga bergelut dalam dunia bisnis. Komisaris di sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang properti ini mengatakan bahwa bisnis dan politik itu sama menyenangkan dan menantangnya. “Segala sesuatu memiliki risiko dan juga tujuan tetapi keduanya juga punya sisi yang dapat membuat kita happy,” katanya.
Lalu dengan jadwal yang padat dan agenda penting setiap harinya, kapan perempuan yang pernah menjadi Wakil Ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia, 2000-2002 menikmati saat-saat libur?
“Setiap saat saya bisa berlibur,” jawabnya dengan riang. “Saya itu orang rada aneh. Bekerja itu bagi saya adalah hiburan. Jadi saya anggap saya sudah berlibur dengan agenda yang ada. Saya tidak pernah benar-benar berlibur yang hanya berlibur thok.”
Nuning juga termasuk orang yang tidak suka membuang waktu. “ Saya orangnya simple, lebih suka memanfaatkan waktu untuk merawat pohon, berenang, memasak,membaca dan menulis. Itu bagian dari hiburan saya. Curi-curi waktu untuk memperhatikan diri sendiri, itu nikmat sekali.”
Di balik ketegasan sikapnya, ternyata Nuning senang berbagi. Peristiwa yang paling menyenangkan bila bisa berbuat baik untuk orang lain dan melihat kebahagiaan dari orang-orang yang dibantunya. Dia juga mengagumi perempuan-perempuan di daerah-daerah terpencil yang menata hidupnya untuk masyarakat sekitar agar menjadi lebih baik. “Mereka tidak punya jabatan dan kekayaan berlebih tetapi berupaya memberdayakan masyarakat di daerahnya,” ujar Nuning. Menurutnya, justru perempuan-perempuan seperti itulah yang layak disebut sebagai Kartini jaman ini. “Kartini masa kini harus berfikir dan berkarya sesuai dengan situasi dan kondisi tuntutan dan ancaman yang ada. Tidak lagi bicara mengenai pengekangan rumah tangga, tetapi bisa menempatkan diri sebagai perempuan yang memiliki kemaslahatan bagi keluarga, bagi profesinya, bagi masyarakat.”*


Comments
Post a Comment