Taj Mahal (تاج محل, ताज महल) dibangun atas perintah Kaisar Mughal Shāh Jahān, putera Jahangir, sebagai tanda cinta kepada istrinya, Permaisuri Mumtaz Mahal. Namun, sesungguhnya kemegahan arsitektur dan keindahan ornamennya adalah persembahan cinta sejati sang arsitek kepada putri kerajaan Hindustan, Putri Jahanara.
Kecantikan dan Kepandaian dari Sang Ibu
Perkawinan Politik dan Penderitaan
Bagaimana perkawinan Jahanara? Apa yang dia lakukan untuk Ayah tercinta setelah kepergian ibunya? Tunggu ya
Tak banyak diketahui orang bahwa yang paling berpengaruh saat pembangunan Taj Mahal ternyata adalah seorang putri cantik jelita yang selama hidupnya membaktikan diri untuk istana dan keluarga kerajaan. Rasa baktinya itu juga yang membuatnya harus menutup rasa cintanya dan mengikuti kemauan sang kaisar, menikah dengan pilihan kaisar atas nama politik. Namun, cinta sejatinya tetap berpendar. Di antara keindahan Taj Mahal, senandung cinta sang putri tetap abadi lewat lengkung dan desain megahnya. Dialah Jahanara, putri sulung Kaisar Mughal. Sang Sufi dari Agra.
Kecantikan dan Kepandaian dari Sang Ibu
Taj Mahal disebut-sebut sebagai lambang keanggunan dan kecantikan seorang perempuan. Lengkungan-lengkungannya yang indah adalah penggambaran matanya, kubah-kubahnya menyerupai payudaranya, dan menara-menara menjadi jemari berhiaskan permata. Pualam putihnya adalah kesempurnaan parasnya. Taj Mahal dibangun sebagai lambang cinta Kaisar Mughal kepada almarhun istrinya, Mumtaz Mahal. Namun, di antara dinding dan lengkung desainnya, ternyata tersimpan kisah cinta Jahanara.
Kaisar Mughal Shah Jahan dan Mumtaz Mahal memiliki banyak anak. Ada yang menyebutkan jumlahnya 14. Di antara yang paling menonjol adalah Putri Jahanara, Pangeran Dara, dan Pangeran Aurangzeb. Anak-anak laki-laki yang lain tidaklah terlalu menonjol, sehingga jarang diberi tugas penting oleh ayah mereka, sementara anak-anak perempuan, lebih banyak diasuh oleh para dayang-dayang di dalam harem. Di antara anak-anak perempuan itu, Putri Jahanara lebih banyak mirip dengan ibunya. Baik kecantikannya maupun kepandaiannya.
Jahanara terlatih menangani urusan istana. Dia dikenal sebagai seorang muslimah yang lembut dan santun. Kalangan istana memanggilnya dengan nama Fatima atau Jahan Ara Begum Sahib, atau Shahzadi.
Jahanara sangat dekat dengan kedua orangtuanya. Kecantikannya dan budi pekertinya membuat ia disayang oleh semua orang, kecuali Aurangzeb. Adik laki-lakinya itu memang memiliki sifat yang kurang baik dan sangat ambisius.
Jahanara belajar tentang nilai kemanusiaan dari keluarganya. Ayahnya, Sultan Shah Jahan yang tangguh dan berhati lembut, berhasil menyatukan umat Muslim dan Hindu untuk hidup berdampingan secara aman dan damai. Ibunya, Mumtaz Mahal, anak dari Kaisar Mughal Jehangir dan cucu dari Akbar Agung, mengajarinya tentang kebaikan dan kebijaksanaan. Mumtaz Mahal adalah seorang yang berkarakter kuat dan bijaksana yang juga menyatukan kerukunan Islam dan Hindu. Pangeran Dara Shikuh, adik laki-lakinya yang kelak merupakan pewaris takhta kerajaan Hindustan, sering mengajarinya tentang welas asih dan kasih sayang pada sesama. Dara sering mengajak Jahanara melihat langsung kehidupan rakyatnya.
Jahanara memiliki pandangan hidup yang sama seperti ibunya, bahwa dia ingin orang Hindu dan Islam bisa berdampingan. Dia mempelajari agama bukan perang. Jahanara berpikir bahwa sikap saling memahami dan menghormati akan menjadi persatuan yang menguatkan.
Salah satu kecerdasan yang dimiliki oleh Jahanara adalah ketika ia membantu ibunya menyelesaikan masalah seorang laki-laki yang mencuri di kebun tuan tanah. Laki-laki itu mencuri karena terpaksa, dia kelaparan. Berkat pendapat Jahanara, laki-laki tersebut tidak jadi dihukum mati, tetapi dijadikan sebagai tukang kebun istana. Di sisi lain, Jahanara juga digambarkan sebagai seorang perempuan banyak akal dan agak tidak sabaran.
Sikap santun dan kepandaiannya membuat ayahnya menganugerahkan beberapa gelar kehormatan untuk Jahanara. Di antaranya, Sahibul al-Zamani (Ratu Peradaban), Padishah Begum (Ratu Kerajaan), dan Begum Sahib (Sang Maharatu). Jahanara pun menempati istana tersendiri di luar kompleks Istana Agra.
![]() |
| Kaisar Mughal Sultan Shah Jahan |
![]() |
| Shan Jahan dan putera puteranya ketika kecil bersama kakek Asaf Khan IV. |
Hidup penuh cinta dan perhatian dari kedua orangtua, adik laki-laki (Pangeran Dara) dan para dayang serta anggota istana, membuat Jahanara semakin sungguh-sungguh belajar banyak hal tentang aturan istana. Namun, di tengah kebahagiaannya Jahanara harus menerima kenyataan. Sang ayah terpaksa menjodohkannya dengan seorang saudagar perak demi kepentingan istana.
Jahanara yang santun dan penurut tak mampu menentang perkawinan politik tersebut. Jahanara terpaksa melepaskan masa remajanya. Di usia 16 tahun dia pun menikah dengan Khondamir yang usianya dua kali lipat darinya. Belakangan Jahanara merasa bahwa suaminya itu adalah laki-laki yang keras. Suka pesta, pemarah, dan minum minuman keras. Sangat bertolak belakang dengan dirinya.Khondamir juga selalu menyalahkannya karena belum memberinya anak. Sepanjang kehidupan perkawinannya, Jahanara menderita lahir batin. Khondamir suami yang bukan saja buruk rupa, tetapi juga kasar dan bebal. Khondamir ternyata juga tidak mencintai Jahanara. Dia hanya menjadikannya pelampiasan nafsu belaka.
Jahanara tertekan. Dia merindukan masa-masa remaja ketika ia masih berkumpul bersama-sama ayah, ibu, dan saudara-saudaranya di istana. Tak tahan dengan perlakuan khondamir, Jahanara selalu berusaha mencari cara agar bisa pergi jauh dari Khondamir.
Kesedihan semakin menerjang Jahanara saat ibunya yang selama ini melindunginya meninggal dunia. Mumtaz Mahal meninggal pada tahun 1631, saat melahirkan bayi sungsang, anaknya yang ke-14, di tenda peperangan saat pasukan Shah Jahan berperang melawan penaklukan orang-orang Deccan.
Ayahnya sangat berduka atas kepergian ibunya. Ayahnya sangat kehilangan dan depresi. Masa berkabung yang panjang itu membuat urusan kerajaan terbengkalai. Saat itulah Jahanara mencoba melupakan kesedihannya dan segera menggantikan peran ibunya. Ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan kerajaan di masa depan. Apalagi sikap adiknya, Aurangzeb, yang semakin mencemaskan. Aurangzeb sangat menekan rakyat yang beragama Hindu. Sikap semena-menanya membuat Jahanara harus segera bertindak mengingatkan.
Demi keutuhan istana dan ayahnya, Jahanara maju membereskan urusan istana. Di tengah kepedihannya akan kehidupan rumah tangganya, Jahanara mencoba tampil sebagai perempuan tangguh.*
Bagaimana perkawinan Jahanara? Apa yang dia lakukan untuk Ayah tercinta setelah kepergian ibunya? Tunggu ya




