Yu Yuan Penderita Leukemia yang Merelakan Biaya Pengobatannya untuk Anak Lain

Gadis kecil ini hanya sempat hidup di dunia selama delapan tahun. Di tengah dera sakitnya, hatinya begitu mulia untuk membantu sesama dan merelakan biaya pengobatannya. Banyak orang mengagumi kisah sejatinya ini dan juga menangisi kepergiannya.

bundaerinpost.blog.com


Saya tersentuh ketika membaca kisah sejati gadis kecil ini, sekitar satu-dua tahun lalu. Saya berusaha browsing dari berbagai sumber. Sayangnya saya tidak berhasil menemukan tahun yang tepat kejadian. Atau mungkina Anda bisa membantu dengan memberikan komen di bagian bawah postingan ini?
Kisah ini telah saya tulis untuk liputan majalah tempat saya bekerja lalu saya ubah sesuai kebutuhan blog ini. 

_____

Bayi mungil yang kedinginan dan kelaparan itu tergeletak begitu saja di hamparan rumput. Di dadanya, terdapat secarik kertas bertuliskan 20 November pukul 12. Mungkin itu adalah tanggal lahirnya. Pada 30 November, bayi itu ditemukan oleh seorang laki-laki berusia 30 tahun yang tak mendapatkan pasangan hidup karena kemiskinannya. Tangisan lemah bayi itu membuatnya iba. Walau dia sendiri tak tahu apa yang akan dia makan nanti, tetapi dia tak sampai hati membiarkan si bayi. Dengan berat hati dia memeluk bayi tersebut, "Saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan". Kemudian bayi itu diberi nama Yu Yan.



Tanpa Susu dan Mimisan
Yu Yuan tumbuh dengan keterbatasan ayah angkatnya. Tanpa susu dan hanya dengan air tajin. Yu Yuan lemah dan sakit-sakitan. Namun, dia anak yang penurut dan memiliki kepandaian di atas rata-rata. Sejak umur lima tahun Yu Yuan membantu ayahnya mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi, dan memotong rumput. Walau tumbuh hanya dengan ayah angkat dan sangat miskin Yu Yuan terlihat bahagia. Dia disukai tetangga-tetangganya. 

Saat masuk sekolah, Yu Yuan giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Ayah angkatnya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Yu Yuan juga pandai menghibur ayahnya. Dia sering bernyanyi untuk ayahnya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolah diceritakan kepada ayahnya. 

Suatu pagi di bulan Mei 2005, Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Bahkan suatu hari bak cuci mukanya sudah penuh dengan darah. Ayahnya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan tidak mau berhenti. Di pahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan ayahnya membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Saat menunggu antrean panjang di rumah sakit, hidungnya terus terusan mengeluarkan darah. Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas.




Ingin Difoto Cantik
Pengobatan penyakit tersebut sangatlah mahal. Ayah angkatnya tahu bahwa dia tak akan mampu. Dia begitu cemas melihat anaknya terbaring lemah di ranjang. dia berusaha meminjam uang ke sana kemari tetapi yang terkumpul begitu sedikit. Akhirnya, dia memutuskan untuk menjual rumah kecilnya yang kumuh dan merupakan harta satu-satunya. Sayangnya, tak ada yang menginginkan rumah kumuh sepertu itu. 

Melihat ayahnya begitu sedih, Yu Yuan merasa sangat sedih. Dia menarik tangan ayahnya, "Papa saya ingin mati," katanya. 

Ayahnya terkejut. "Kamu baru berumur 8 tahun, kenapa mau mati?" 

"Saya hanya anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini. Biarlah saya keluar dari rumah sakit ini."

Akhirnya, Yu Yuan yang mewakili ayahnya yang buta huruf itu menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Kemudian, gadis kecil itu mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Yu Yuan juga meminta dua permohonan. Dia ingin difoto dengan baju baru. "Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya, lihatlah foto itu." Yu Yuan pun berusaha tersenyum manis dengan baju barunya dengan pose yang paling cantik. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, menangkap berita ini. Dia menuliskan kisah seorang anak yang berumur 8 tahun yang mengatur pemakamannya sendiri. Kisah itu pun menyebar ke seluruh kota Rong Cheng. Banyak yang tergugah. Mereka pun menggalang dana. Hanya dalam waktu sepuluh hari, terkumpul 560.000 dolar. 







Berjuang Melawan Maut

Dana tersedia, dokter pun sudah ada. Pada 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatannya akhirnya kembali ke ibu kota dan siap untuk dioperasi. Yu Yuan sangat menderita semasa pengobatan yang dijalaninya. Dokter Shii Min yang menangani Yu Yuan juga miris melihat Yu Yuan harus merasakan mual yang sangat dan muntah-muntah setelah proses terapi. Namun gadis kecil itu tak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak. Rasa kasihan itu membuat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perempuannya. 

Kisah tentang Yu Yuan melebar sampai ke pelosok China. Masyarakat yang bersimpati menunggu kabar baik dari gadis kecil yang malang itu. Dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Yu Yuan juga mengalami pendarahan di pencernaannya. Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan. Fisik Yu Yuan sangat lemah. Pada 20 Agustus, Yu Yuan bertanya kepada sang wartawan, "Tante, kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya?” Sang wartawan, Chuan Yuan, menjawab karena mereka semua adalah orang yang baik hati. Yu Yuan berkata bahwa dia juga ingin menjadi orang baik. Wartawan itu menjawab, "Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik." Yu Yuan kemudian menyerahkan buku catatannya sambil berkata, “Tante ini adalah surat wasiat saya."

Ternyata Yu Yuan telah mengatur pemakamannya sendiri. Seorang gadis kecil yang sedang menghadapi sebuah kematian dan di atas ranjangnya menulis tiga halaman surat wasiat. Di akhir surat wasiat itu tertulis, “Sampai jumpa, Tante. Kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh". Surat wasiat ini membuat sang wartawan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 Agustus, setelah selama satu bulan mengalami pendarahan hebat di pencernaan, Yu Yuan akhirnya meninggal dengan tenang. Semua begitu sedih melepas malaikat kecil yang cantik ini. 

Di kecamatan She Chuan, penuh tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumupuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan "Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil di atas langit, kepakkanlah kedua sayapmu. Terbanglah...

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar disumbangkan kepada anak-anak penderita leukimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.*