Pertemuan dengan perempuan bertubuh mungil ini mengingatkan lagi pada peristiwa awal tahun 2015, usai acara Rapat Kerja Kementrian Luar Negeri.
Kali pertama kami berkenalan, maksud saya, kali pertama saya nekad mengenalkan diri.... "Saya Erin, dari Majalah PuanPertiwi".
Sambutan yang saya terima di luar dugaan. Perempuan bertubuh mungil ini begitu ramah dan akrab dengan siapa saja.Perempuan Pertama Duta Besar RI untuk Kolombia
Selain menjadi perempuan pertama sebagai Duta Besar RI untuk Kolombia, 2012-2017, dia juga adalah perempuan tokoh berprestasi di Kolombia. Prestasinya luar biasa. Saya tak akan punya tempat yang banyak untuk menyebutkan satu persatu prestasinya itu, tetapi saya punya cukup ingatan untuk mengenalnya sebagai sosok yang cerdas, cekatan, dan baik hati.
Baiklah, sedikit saja saya jelaskan di sini. Karirnya dimulai sebagai Auditor Ahli Madya di Inspektorat Jenderal-Deplu. Kemudian menjadi Inspektur Wilayah II (Eropa) pada Itjen-Deplu dan dia menjadi Konjen RI di New York, dengan wilayah kerja mencakup 15 negara bagian di East Coast dari Main sampai North Carolina. Dia bertugas di New York terhitung 14 Maret 2007 dan merupakan perempuan pertama yang menjabat sebagai Konsul Jenderal RI perempuan pertama di New York. Dia juga pernah bertugas di Perwakilan Tetap RI untuk PBB. Setelah itu, penempatannya di luar negeri mencakup di Kedubes RI di Paris, Perancis (1996-1998) dan KBRI di Budapes, Hungaria (1998-2000).
Ketika saya berjumpa dengannya di beranda Kementrian Luar Negeri itu, sebelumnya, Bapak Lalu Iqbal sudah memberikan 'contekan' siapa perempuan yang selalu nampak ceria itu. "Panggilannya Ninik. Sebelumnya dia Konjen pertama perempuan untuk New York. Coba kau dekati dia untuk bikin janji wawancara," bisik Pak Iqbal.
Dan di sinilah kami. Awal pertemuan itu malah menjadi awal persahabatan kami....
Perempuan dengan Segudang Anugerah
Saat itu, dia bercerita bahwa pada Nopember 2016 lalu, ia menerima anugerah Estrella de la Policia Categoria Comendador (Bintang Kepolisian Kategori Pimpinan) dari Kepolisian Nasional Kolombia. Penghargaan itu langsung diberikan oleh Presiden Juan Manuel Santos Calderon, yang merupakan pengakuan pemerintah Colombia atas kerja kerasnya mempererat dan memfasilitasi hubungan RI – Kolombia, melalui beberapa kerjasama dan MOU untuk memberantas perdagangan dan jaringan narkotika serta obat-obatan terlarang. Wuih....
Yang Purna Tugas dan Yang Akan Bertugas
Siang itu, masuk sebuah pesan di WA: "Sampai ketemu 1 Maret, di restoran di Senayan, jam 13.00 ya..." Namun, besoknya, melalui desainer pribadinya, Karen Merlin, pertemuannya diubah lokasinya menjadi di restoran Vietnam di Cikini.
Tentu saja ini kabar menyenangkan. Saya selalu ingin bertemu perempuan bernama lengkap Trie Edi Mulyani ini, sebab akan ada pencerahan yang saya dapatkan. Dia memang senang memberikan motivasi dan inspirasi kepada siapa saja. Biasanya, bila ia pulang ke Jakarta, ia menyempatkan untuk say hai dan mengajak saya bertemu. Pertemuan terakhir saya dengannya adalah ketika pemotretan cover majalah, di sebuah hotel di Pondok Indah. Saat itu, ia sengaja terbang dari Bogota, dan meskipun telah melalui perjalanan 26 jam dengan pesawat, dia tetap saja terlihat bugar.
Saat itu, dia bercerita bahwa pada Nopember 2016 lalu, ia menerima anugerah Estrella de la Policia Categoria Comendador (Bintang Kepolisian Kategori Pimpinan) dari Kepolisian Nasional Kolombia. Penghargaan itu langsung diberikan oleh Presiden Juan Manuel Santos Calderon, yang merupakan pengakuan pemerintah Colombia atas kerja kerasnya mempererat dan memfasilitasi hubungan RI – Kolombia, melalui beberapa kerjasama dan MOU untuk memberantas perdagangan dan jaringan narkotika serta obat-obatan terlarang. Wuih....
Yang Purna Tugas dan Yang Akan Bertugas
Hari itu, 1 Maret 2017, saya berusaha untuk tidak (terlalu) terlambat. Saya ingat, Ibu Ninik adalah orang yang sangat tepat waktu. Untung saja jadwal commuter line tidak mulur dan gojek yang saya pesan melesat dengan lincah.
Seperti biasa, Ibu Ninik menyambut dengan ramah; apa kabar, Say? Beliau mengenalkan saya kepada dua laki-laki itu, yang ternyata adalah Bapak Priyo Iswanto, yang kelak akan menggantikan tugasnya di Kolombia, serta seorang rekan, Bapak Nyoman.
"Jadi, benar masa tugas Ibu di Kolombia sudah berakhir?" tanya saya penasaran. Ibu Ninik mengangguk. Kami menikmati kopi Vietnam yang sedap dan tidak terlalu manis.
"Saat ini saya masih bolak-balik ke Kolombia, tetapi untuk hal yang lainnya," ujar Ibu Ninik.
Saya tiba di restoran vietnam. Di sana sudah ada Ibu Ninik, Karen Merlin sang desainer, serta dua laki-laki yang saya belum kenal. Rasanya mereka hanya menunggu saya sebab meja yang dipesan memang hanya untuk 5 orang. Ini seperti sebuah kehormatan bagi saya.
Seperti biasa, Ibu Ninik menyambut dengan ramah; apa kabar, Say? Beliau mengenalkan saya kepada dua laki-laki itu, yang ternyata adalah Bapak Priyo Iswanto, yang kelak akan menggantikan tugasnya di Kolombia, serta seorang rekan, Bapak Nyoman.
"Jadi, benar masa tugas Ibu di Kolombia sudah berakhir?" tanya saya penasaran. Ibu Ninik mengangguk. Kami menikmati kopi Vietnam yang sedap dan tidak terlalu manis.
"Saat ini saya masih bolak-balik ke Kolombia, tetapi untuk hal yang lainnya," ujar Ibu Ninik.
Saya melihat semangatnya masih sama seperti saat pertama kali saya bertemu dengannya di tahun 2015 lalu. Ia telah mengunjungi lebih 23 dari 32 departemen atau provinsi di Kolombia, baik atas undangan gubernur atau walikota setempat, atau pun karena ada kerja sama yang dijalin. Bersama staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bogota ia mengunjungi beberapa daerah terpencil untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. “Mengajarkan kepada petani kelapa sawit bagaimana menanam, berkebun, memelihara dan memanfaatkan kelapa sawit mulai dari akar hingga daunnya, juga tanaman tumpang sari apa saja yang bisa ditanam di antara pohon-pohon kelapa sawit,” ujarnya ketika itu.
Tak hanya itu, Ibu Ninik juga aktif membantu anak-anak serta perempuan korban konflik. Baik secara langsung dengan mendatangi mereka dan memberikan bantuan berupa alat-alat sekolah, juga mengajar kesenian dan budaya Indonesia. “Mereka bisa menjadi soft power bagi KBRI Bogota,” ujarnya. Dan saya tahu, sampai saat kami duduk menikmati kopi Vietnam ini semangatnya masih sama utuh.
"Lalu apa rencana terdekat Ibu?" tanya saya lagi.
"Ohh, tidak," Bapak Priyo tertawa. "Ini makan siang santai, ngobrol-ngobrol."
Ya, ini adalah makan siang yang paling santai bersama para pejabat negara.
Ibu Ninik banyak bercerita tentang Bogota di saat akhir-akhir ini. Bagaimana ia merasakan hangatnya rumah keduanya di sana. Lima tahun bertugas tentu banyak sekali kenangan untuknya.
Sop ala Vietnam --yang aku lupa apa nama menunya-- telah tersaji. Semangkuk besar, dan saya yakin tak mudah untuk menghabiskannya sendirian. Seandainya Ibu Ninik bertanya lebih dulu, saya akan mengatakan kalau bagian saya cukup setengah porsi saja.
"Persiapan Bapak menuju Bogota, apa saja, Pak?" tanya saya, ketika obrolan semakin larut mengenai negara penghasil kopi yang kini tengah menggalakkan dunia fashion. Bapak Priyo menjelaskan dengan ringan. Namun, yang paling menarik adalah ketika ia membicarakan peran sang istri. Bagaimana istri memiliki andil besar sebagai partnernya dalam bertugas, terutama saat di luar negeri.
"Ketika saya sedang melaksanakan tugas negara, istri membantu menjamu tamu dengan makanan khas Indonesia, dan dengan berpakaian batik, misalnya...." ujar Bapak Priyo. "Istri harus kita sertakan, harus kita libatkan, karena perannya juga sama besar. Membawa nama baik negara kita di dunia luar. Saat kita sedang fokus membahas negara, istri bisa mewakili peran sosial kita dengan dia turut aktif di berbagai kegiatan kemanusiaan di negara tempat kita bertugas. Ikut organisasi perempuan, kunjungan ke panti, dan lain-lain."
"Nah, itulah nikmatnya laki-laki," tukas Ibu Ninik. "Tugas-tugasnya dibantu oleh sang istri. Nah, kalau saya? Double-double ini. Ya tugas negara juga, ya berkegiatan sosial juga."
"Nah, itu dia! Apa rahasia Ibu sampai bisa tetap semangat, tidak pernah terlihat lelah, dan bisa membagi waktu dengan keluarga?" potong saya.
"Ya, saya berusaha menikmatinya. Sebab ketika kita merasa enjoy dengan apa yang menjadi tugas kita, maka kita tidak merasa berat. Saya senang sekali telah selesai melaksanakan tugas-tugas. Semua yang telah saya jalani adalah hal yang menyenangkan dan membahagiakan.”
Tak hanya itu, Ibu Ninik juga aktif membantu anak-anak serta perempuan korban konflik. Baik secara langsung dengan mendatangi mereka dan memberikan bantuan berupa alat-alat sekolah, juga mengajar kesenian dan budaya Indonesia. “Mereka bisa menjadi soft power bagi KBRI Bogota,” ujarnya. Dan saya tahu, sampai saat kami duduk menikmati kopi Vietnam ini semangatnya masih sama utuh.
Karir yang ia capai saat ini, sebenarnya sama sekali di luar dugaannya. Di waktu muda, Ibu Ninik bercita-cita menjadi akuntan, bukan diplomat. Namun, ia menganggap itu adalah kesempatan yang Tuhan berikan. “Kesempatan harus dinikmati dan bagaimana caranya agar bisa bermanfaat bagi keluarga dan orang di sekitar serta negeri tercinta,” begitu ia pernah berkata. Meski bukan untuk yang pertama kali bertugas di luar negeri, Niniek mengaku tugasnya ini membuatnya merasa istimewa. Sebagai perempuan dia diberi kepercayaan untuk mewakili negaranya di luar negeri.
"Lalu apa rencana terdekat Ibu?" tanya saya lagi.
Ibu Ninik menggeleng. "Yang pasti saya ingin menikmati dulu masa-masa purna tugas. Kembali kepada kehidupan yang ada di sini. Saya tahu, masih banyak sekali hal yang harus saya kerjakan terkait dengan kegiatan sosial dan lainnya."
"Nah, acara makan siang ini, apa ada kaitannya juga dengan pekerjaan?" tanya saya menggoda, mengingat kami berada satu meja dengan calon pengganti Ibu Ninik. Bapak Priyo sebelumnya adalah Charge d'Affairs di KBRI Roma. Jadi, pengalaman sebagai perwakilan Indonesia di negara luar, sudah ia rasakan selama bertahun-tahun.
"Ohh, tidak," Bapak Priyo tertawa. "Ini makan siang santai, ngobrol-ngobrol."
Ya, ini adalah makan siang yang paling santai bersama para pejabat negara.
Ibu Ninik banyak bercerita tentang Bogota di saat akhir-akhir ini. Bagaimana ia merasakan hangatnya rumah keduanya di sana. Lima tahun bertugas tentu banyak sekali kenangan untuknya.
Sop ala Vietnam --yang aku lupa apa nama menunya-- telah tersaji. Semangkuk besar, dan saya yakin tak mudah untuk menghabiskannya sendirian. Seandainya Ibu Ninik bertanya lebih dulu, saya akan mengatakan kalau bagian saya cukup setengah porsi saja.
"Persiapan Bapak menuju Bogota, apa saja, Pak?" tanya saya, ketika obrolan semakin larut mengenai negara penghasil kopi yang kini tengah menggalakkan dunia fashion. Bapak Priyo menjelaskan dengan ringan. Namun, yang paling menarik adalah ketika ia membicarakan peran sang istri. Bagaimana istri memiliki andil besar sebagai partnernya dalam bertugas, terutama saat di luar negeri.
"Ketika saya sedang melaksanakan tugas negara, istri membantu menjamu tamu dengan makanan khas Indonesia, dan dengan berpakaian batik, misalnya...." ujar Bapak Priyo. "Istri harus kita sertakan, harus kita libatkan, karena perannya juga sama besar. Membawa nama baik negara kita di dunia luar. Saat kita sedang fokus membahas negara, istri bisa mewakili peran sosial kita dengan dia turut aktif di berbagai kegiatan kemanusiaan di negara tempat kita bertugas. Ikut organisasi perempuan, kunjungan ke panti, dan lain-lain."
"Nah, itulah nikmatnya laki-laki," tukas Ibu Ninik. "Tugas-tugasnya dibantu oleh sang istri. Nah, kalau saya? Double-double ini. Ya tugas negara juga, ya berkegiatan sosial juga."
"Nah, itu dia! Apa rahasia Ibu sampai bisa tetap semangat, tidak pernah terlihat lelah, dan bisa membagi waktu dengan keluarga?" potong saya.
"Ya, saya berusaha menikmatinya. Sebab ketika kita merasa enjoy dengan apa yang menjadi tugas kita, maka kita tidak merasa berat. Saya senang sekali telah selesai melaksanakan tugas-tugas. Semua yang telah saya jalani adalah hal yang menyenangkan dan membahagiakan.”
Karena Perempuan Begitu Istimewa
'Sop ayam' di depan saya benar-benar tidak tandas sempurna. Saya kekenyangan. Namun, Ibu Ninik tetap memaksa saya menghabiskan panganan seperti wafle dengan campuran es krim. Padahal, saya kepinginnya nambah kopi lagi.
“Di era sekarang, banyak sekali perempuan menjalankan peran yang serupa dengan laki-laki. Asalkan punya cukup kemampuan dan kemauan, semua akan berjalan baik. Perempuan sekarang itu cerdas dan mandiri,” ujar Ibu Ninik lagi, setelah obrolan sempat beralih ke batik dan tenun Kolombia.
"Di Kolombia, dominan itu perempuan. Banyak perempuanyang menempati posisi penting di sana. Karena apa, ya karena bagaimana pun perempuan itu lebih menarik dibandingkan laki-laki."
Saya lihat Bapak Priyo mengangguk menyetujui kalimat Ibu Ninik.
"Perempuan adalah hal yang menarik. Apalagi jika perempuan itu memiliki latar edukasi yang baik serta networking yang baik. Akan terlihat makin cantik karena memiliki nilai lebih,” ujar Ibu Ninik lagi.
Ngobrol dengan ibu cantik ini memang tak cukup waktu. Selalu ada hal menarik yang ia sampaikan, yang sangat bermanfaat. Bagi saya, dia luar biasa. Belum banyak mengenalnya tetapi saya sudah seperti adik dan sahabat.
Hampir dua jam kami berbicang, Bapak Priyo pamit lebih dulu, kembali bertugas di Kemlu. Banyak yang harus beliau siapkan menjelang masa tugasnya sebagai dubes nanti. Sementara Ibu Ninik, dengan riang berbisik bahwa ia secepatnya kembali lagi ke Bogota.
"Saya akan menerima penghargaan dari Asosiasi Pers Kolombia di Hari Perempuan Internasional, di Kolombia."
Wah, benar kan. Tak bisa saya ingat berapa anugerah yang sudah ia kantongi. *


