Prianti Gagarin: Batik Sebagai Kurikulum

Menjadi seorang Duta Besar sungguh sangat menarik, karena bisa secara langsung merancang strategi politik luar negeri, melaksanakan, dan melihat hasil diplomasi. Ia mencintai pekerjaan ini, bahkan sukses membawa batik dikenal di Venezuela dan menjadikannya kurikulum di sebuah sekolah desain di sana. 

bundaerinpost.blogspot.com


Kecintaannya kepada batik menginspirasinya untuk mengenalkan batik ke luar negeri. Kolektor batik ini pun selalu mengenakan batik di berbagai kesempatan. Menurutnya, mengenalkan batik harus dimulai dari diri sendiri untuk selalu memakai batik.

Di suatu siang, saya menemui Duta Besar RI untuk Venezuela ini di sebuah restoran di bilangan Kebayoran, pada jam yang sudah disepakati.



Dimulai dari Mencintai Batik
Koleksi batiknya sangat lengkap. Terdiri dari hampir semua jenis batik yang ada di seluruh daerah di Indonesia. Baik batik cap, printing, maupun tulis. Bahannya pun ada yang dari bahan sutera, atau katun. Selain batik, Prianti juga mengoleksi kain dari seluruh propinsi di Nusantara seperti songket, ulos, sasirangan, dan sebagainya.

“Sudah lama saya suka batik dan kerajinan lain, semisalnya tenun. Tapi, kalau memelajari batik secara intens, itu sekitar tahun 2010,” terangnya.“Setelah selesai tugas dari Brussel, saya memiliki waktu lebih luang, jadi saya mempelajari batik secara intens. Saya pergi ke berbagai daerah, mengunjungi sentra-sentra batik seperti Yogyakarta, Solo, sampai Madura.”

Dari ‘jalan-jalan’-nya itu, Prianti memiliki banyak kenalan para desainer batik, juga kelompok pencinta batik. Dia juga mendalami filosofi batik, sejarahnya, serta proses pembuatannya. Ia juga menunjangnya dengan berbagai literatur. Karena setelah ia baca, banyak negara yang memiliki hasil kerajinan yang proses pembuatannya mirip dengan batik, hanya coraknya saja yang berbeda. Dari puluhan buku tentang tekstil yang dibelinya di New York, negara yang memiliki teknik mirip membatik itu misalnya Persia, Cina, Jepang, juga India.

Batik juga yang membuatnya bersemangat mengenalkan budaya Indonesia ke ke tingkat dunia. Ia ingin menunjukkan batik sebagai ikon komoditas Indonesia. Kalau berbicara mengenai batik, maka masyarakat dunia tahu bahwa itu adalah karya seni budaya khas Indonesia. Prianti juga ingin batik tak hanya memiliki nilai seni dan ditaruh di museum saja, tapi juga memiliki nilai ekonomi. Artinya, batik bisa memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Indonesia. Nasib para UKM di daerah-daerah pun bisa meningkat.




Kurikulum Batik Sarana Pererat Negara
Sejak dirinya diberi kepercayaan sebagai Duta Besar RI untuk Venezuela pada tahun 2012, Prianti semakin menemukan jalan untuk mengangkat batik ke dunia. Dalam setiap kesempatan ia selalu mengenakan batik dan kain. Ia ingin menunjukkan kepada masyarakat Venezuela bahwa batik itu unik dan keren.

Kebiasaannya mengenakan batik akhirnya menarik erhatian banyak kalangan, termasuk para desainer lokal. Corak batik yang dikenakan Prianti unik.

“Suatu hari, tiba-tiba saya diminta menjadi juri di acara fashion. Meski terkejut tetapi saya senang. Saya terima tawaran tersebut.”

Direktur sekolah mode Brivil yang juga hadir di acara tersebut, lantas memintanya menjadi pengajar di sekolah mode miliknya, untuk mengajar tentang kain tradisional. Prianti tak menyia-nyiakan kesempatan itu sebab itu adalah kesempatan bagus untuk mengenalkan batik lebih jauh pada masyarakat Venezuela.

Merasa apa yang diberikan Prianti begitu menarik dan bagus, sekolah tersebut meminta Prianti untuk terus mengajar di sana. Bahkan, mereka meminta Prianti memasukkan kurikulum pengajaran tentang batik di sekolah mode tersebut. “Dari situ, saya tidak hanya mengajar di sekolah mode tersebut, tapi juga di Caracas dan berbagai kota di Venezuela. Akhirnya, batik menjadi sarana diplomasi untuk mempererat persahabatan sekaligus meningkatkan ekonomi para pengrajin di tanah air.” Hal itulah yang mendasatinya menulis buku ‘Diplomacy Batik’ yang dicetak dalam dua bahasa, Spanyol dan Inggris.

Penggemar olah raga, mulai dari jogging, aerobik, tenis, hingga renang, ini juga membangun sebuah komunitas ‘Canting’. Beberapa dubes negara sahabat, para seniman setempat, desainer, sampai pegawai dan anak sekolah yang ingin tahu tentang batik, btergabung dalam komunitas tersebut.



Mulanya Ingin Menjadi Dosen
Lulusan Fisip Universitas Indonesia ini sebenarnya ingin menjadi dosen. Mengajar adalah hobinya. Namun, ternyata menjelang kelulusannya, ia mendapatkan beasiswa dari Kementrian Luar Negeri. Di Kementrian Luar Negeri inilah ia mendapat pendidikan sebagai diplomat selama 12 bulan.

Prianti pernah ditugaskan ke Genewa, Swiss, sebagai Sekretaris III Bidang Ekonomi Pembangunan PBB. Kemudian ditugaskan di New York, di komite yang setiap hari memimpin sidang PBB. Prianti juga pernah menjadi Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan Kementerian Luar Negeri di Jakarta. Tugasnya mendidik para diplomat Indonesia serta diplomat asing yang di negaranya tidak ada akademi diplomat, seperti Timor Leste atau Palestina.

Dunia politik ternyata mempertemukannya dengan Herman Djatmiko yang juga adalah seorang diplomat. Prianti bertemu suaminya ketika sama-sama menempuh pendidikan di Sekdilu. Yang menarik, Prianti dan suami tidak pernah mendapat penempatan tugas yang sama. Ketika Prianti bertugas di New York, suaminya berada di Meksiko. Ketika Prianti kembali ke Indonesia, suaminya ditugaskan di Seoul.

“Yang terpenting adalah komunikasi dan kepercayaan. Begitu juga terhdap anak kami. Meskipun dia melihat orangtuanya sibuk dan tidak berada di satu negara, dia tahu bahwa orangtuanya tetap memperhatikannya.”

Dhanang Sengkalit Djatmiko, putranya, sempat menemaninya di Venezuela, sebelum kemudian kuliah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Mereka berkumpul satu tahun sekali di Indonesia. Saat Dhanang kecil, ada satu peristiwa yang memilukan ketika Prianti harus meninggalkannya. Ketika itu Prianti harus ikut pesawat presiden. Dhanang ingin ikut merasakan naik pesawat terbang presiden. Namun, tentu saja itu tak mungkin. Dhanang yang cerdas pun mencari akal. Dia berkata, “Mommy, saya bisa kok membantu apa saja di dalam pesawat,” katanya, mengingat pramugari-pramugari bisa ikut serta di pesawat tersebut yang tugasnya untuk membantu penumpang. Kalimat itu membuat Prianti terharu. Perpisahan dengan buah hati untuk tugas berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, harus ia hadapi. “Itulah konsekwensinya,” ujarnya.

Saat ini Prianti merasa lebih lega karena anaknya telah beranjak dewasa dan bisa menjaga diri. Walau kesibukan begitu menyita waktunya, doa selalu ia panjatkan untuk sang buah hati. "Perempuan hebat adalah perempuan yang sadar akan kodratnya. Selain harus berjuang untuk kemajuan bangsa, ia juga sadar bahwa perempuan harus menjadi ibu yang baik bagi keluarga karena peran ibu sangat besar untuk menunjang kesuksesan suami atau anak-anaknya," ujar penyuka makanan Sunda ini mengakhiri pertemuan.