Kebesaran Islam dalam Kepemimpinan Shajar al Durr. Sejarah mencatat bahwa pahlawan wanita gagah perkasa ini telah mampu menunjukkan sikap kebesaran Islam dengan membebaskan dan mengizinkan Raja Louis IX kembali ke negerinya Perancis.
Kepergian suami dan anaknya, membuat Shajar semakin bertekad untuk menaklukan Raja Louis. Ia pun mencari strategi dan menghimpun pasukan. Sama saat masih mendampingi suaminya, taktik dan strateginya begitu cerdas dan menguasai keadaan.
Digulingkan dan Menikah
Ketangkasan dan strateginya membawanya kepada kemenangan. Terlebih ketika ia didaulat sebagai Ratu. Dalam kepemimpinannya inilah Shajar unggul dalam beberapa peperangan. Di antaranya Perang Salib Ketujuh dan sukses menangkap Raja Louis IX dari Perancis.
Dalam periode ini telah terukir dalam sejarah munculnya pahlawan wanita yang terkenal gagah berani yaitu Shajar al-dur yang juga merupakan keluarga dari dinasti Ayyubiyah. Ia memainkan peranan penting dalam persiapan mempertahankan Mesir Utara. Beliaulah ketua negara dan nama beliau disebutkan dalam khutbah, bahkan nama beliau ditatahkan dengan gelaran “Malikat al-Muslimin” (Ratu Muslimin). Nama Shajar juga dicetak dalam koin mata uang.
Sayangnya, walau bagaimanapun, ternyata sulit bagi masyarakat Islam kala itu menerima pemerintahan seorang perempuan. Shajar dianggap tak layak memimpin negara hanya karena statusnya yang perempuan. Banyak pihak yang berusaha menggulingkannya. Posisi Shajar al-Durr sebagai Ratu dan sultan perempuan pun hanya bisa bersifat sementara. Doktrin politik Islam menyatakan bahwa penguasa Muslim, antara persyaratan lainnya, harus menjadi manusia tanpa cacat mental dan fisik. Selain itu, karena perempuan dari strata atas masyarakat Timur Tengah dibatasi untuk di dalam ruangan dan Shajar al-Durr sehingga tidak bisa mengambil bagian dalam jalannya upacara jalan dan berbagai prosesi kesultanan.
Karena berbagai tekanan itulah, maka pada bulan Ogos 1250, Shajar al Durr menikah dengan panglima besar Izz al Din Aybak, sultan pertama Kerajaan Mamluk. Pernikahannya ini adalah cara agar Shajar bisa tetap menjalankan taktik dan strateginya untuk negara. Ketika ia telah sah menjadi istri Aybak, meskipun suaminya yang memegang tahta, Shajar al-Durr tetap mengekalkan kuasaanya, bahkan memastikan bahawa dokumen-dokumen negara dimaterikan dengan kedua-dua nama pemerintah tersebut, dan bukan hanya pada nama Aybak.
Cemburu dan Pembunuhan
Perselisihan mulai terlihat di beberapa tahun setelah pernikahan mereka. Terutama di tahun 1257, perselisihan dan kecurigaan berlatar politik dan asmara bahkan telah menjadi bagian dari hubungan antara Shajar dan Aybak. Dikisahkan kalau Shajar sering menentang suaminya, juga sang suami yang terlalu keras. Aybak pernah bermaksud menceraikan Shajar. Hal inilah yang memancing kecurigaan Shajar akan hadirnya perempuan lain.
Rumah tangga yang tegang itu akhirnya membawa dampak pada kelangsungan kerajaan. Apalagi saat berita tentang Aybak yang telah menikah lagi membuat Shajar dibakar cemburu.
Tekanan itu membuat Shajar nekat. Bersama alah seorang pegawainya, ia membunuh suaminya saat sang suami tengah mandi. Shajar membuat alibi dengan mengatakan bahwa suaminya mati mendadak pada malam hari.
Namun, Mamluk Aybak yang dipimpin oleh Qutuz tidak percaya begitu saja. Ia memerintahkan pasukannya menangkap Shajar dan pegawainya. Shajar ditelanjangi dan dipukul hingga tewas. Tubuhnya dibiarkan tergeletak di luar benteng. Menurut sejarawan Ibn Iyas, hajar al Durr diseret dengan kain di sekitar pinggangnya. Mayat Shajar dibiarkan tergeletak di parit selama tiga hari, tidak dikuburkan. Sampai, suatu malam, massa datang dan melepas kain yang terbuat dari sutra dan mutiara yang meilit di pinggang Shajar.
Selepas kematian Aybak dan Shajar, al Mansur Ali, anak dari Aybak diangkat menjadi sultan baru, menggantikan ayahnya.
Makam Shajar al Durr
Meskipun kepergiannya membawa kisah kelam, tetapi nama Shajar tetap harum dan dikenang sebagai perempuan pahlawan Islam. Nama Shajar juga diabadikan dalam koin mata uang Kairo saat itu.
Shajar al-Durr dimakamkan di kuburan yang tidak jauh dari Masjid Tulun yang merupakan permata Islam arsitektur penguburan. Di dalam makamnya ada mihrab (doa niche) dihiasi dengan mosaik dari "pohon kehidupan". Makan sederhana itu terletak di Kota Kuartal Kairo. (Tamat/dari berbagai sumber)



