Dra. Suryani Sidik Motik: Problem di Indonesia adalah Hambatan Budaya

Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi pengusaha untuk menciptakan lapangan kerja. Pengangguran merupakan masalah besar. Untuk itulah dia ingin menjadi pengusaha yang diperhitungkan di republik ini. 


Rumah Bunda Erin

Sore dengan matahari yang masih memanggang, saya dan fotografer bertandang ke rumah seorang pengusaha asli Betawi yang ramah dan bersahaja. Rumah itu bergaya kuno dan rindang dengan banyak pepohonan besar. Nampak asri, ditambah dengan berbagai perabotan antik.


Rumah Bunda Erin


Sang Ayah adalah Guru 

Lahir dan tumbuh sebagai perempuan Betawi, disyukuri oleh perempuan bernama lengkap Dra. Suryani Sidik Motik ini sebagai anugerah. “Orang Betawi kebanyakan memiliki tanah yang luas. Jadi, itu bisa buat lahan usaha,” ujarnya riang, saat Puan Pertiwi menemuinya di kediamannya di bilangan Menteng, Jakarta. 

Ketika ia kecil, ayahnya bekerja di sebuah pabrik sepatu. Selain menjadi mandor di sana, ayahnya juga menjadi suplier bahan-bahan sepatu di pabrik tersebut. Ketika dia duduk di bangku SMP, Yani, panggilan akrabnya, mencoba mengikuti jejak ayah dengan berjualan sepatu di halaman rumahnya. “Mungkin itu adalah factory outlet pertama yang ada di Indonesia ya. Bahan-bahannya saya ambil dari pabrik tempat ayah saya bekerja, tentunya dengan harga miring, lalu saya jual kembali. Hasilnya lumayan,” kenangnya. Sejak kecil terbiasa melihat keluarga berdagang, membuat minatnya pada dunia usaha berkembang. Ditambah dengan sikap sang ayah, Sidik, yang dengan mendidik anak-anaknya bekerja keras. Bagi Yani, ayahnyalah yang melatihnya menjadi pemimpin. 



Ketika duduk di bangku SMA, ayahnya mengelola bisnis becak. Ayahnya telah melibatkannya dalam bisnis ini. Yani terjun langsung mengawasi becak dan managemen bisnisnya. Juga menjaga agar jangan sampai para penarik becaknya melanggar lalu lintas. Dari sinilah ia belajar cara mengorganisasikan orang dan menjalankan manajemen dengan tepat. 

“Kami dibiasakan untuk disiplin dalam bekerja dan menggunakan uang,” ujar Yani. Ketika ayah meninggal, Yanilah yang meneruskan semua usaha ayahnya itu. Namun kemudian, aturan Pemerintah Provinsi DKI Jakara soal angkutan umum, membuat usaha becaknya tutup. 

Yani tak putus asa. Ajakan seorang teman untuk berbisnis ini itu, pun dijalaninya. Semangatnya tak pernah runtuh walau harus jatuh bangun. 






Suami adalah hadiah dari Tuhan 

Jiwa usahanya terus bergerak. Sensifitasnya terhadap kondisi sekeliling sangat membantunya dalam mengambil keputusan akan usaha apa yang tepat untuk dijalankannya. Pertemuannya dengan Faisal Motik, yang kini menjadi suaminya, dianggapnya sebagai suatu hadiah dari Tuhan.

“Bapak itu teman semasa kuliah dulu. Kami merupakan teman sepermainan, mungkin begitulah sebutannya. Ketika saya pulang berlibur ke tanah air, ketika itu saya kuliah di Maryland University, saya bertemu Bapak lagi. Karena teman-teman lain sudah entah di mana, jadi Bapak yang menemani saya kemana mana selama di tanah air. Dari situlah kami dekat.”

Yani cukup tercengang ketika tiba-tiba Faisal mengajaknya menikah. “Bayangkan saja, tidak pakai acara pacaran, tau-tau mengajak menikah, hehehe.” Namun, tanpa perlu berlama-lama dia pun menerima lamaran itu. Pernikahannya dengan Faisal yang merupakan keluarga besar pengusaha, membawa kebaikan bagi langkahnya dalam dunia usaha. 

Merintis usaha dari nol dan sempat jatuh bangun membuat Suryani Motik paham akan permasalahan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Kini, Yani menjadi salah satu social entrepreneur yang sukses di tanah air. Kepintarannya dalam melihat kebutuhan organisasi menjadi kunci suksesnya. Semua nampak jelas saat dia dipecaya memimpin organisasi Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) periode 1997 – 2000. Dalam buku yang ditulis Dr. Martha Tilaar dan Wulan Tilaar Widarto, M.Sc, Leadership Quotient. Perempuan Pemimpin Indonesia (Grasindo, 2003), Presiden Direktur Indo Prima Group, ini dianalogikan sebagai bunga teratai. Secara majasi, bunga teratai memiliki sifat relijius, anggun, jujur, suci, dan independen. Tentu penulis buku itu tak asal saja menganalogkan Yani dengan bunga teratai. Karena ternyata dalam keseharian, Yani memang sangat relijius sehingga tingkah lakunya anggun, santun, jujur, tak terpengaruh oleh lingkungan sekitar.

Yani juga aktif sebagai pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Dia dipercaya menjadi pengurus Kadin bidang Pengembangan Korporasi dan Hukum. Dia juga sering menjadi pembicara di berbagai seminar, concern utamanya adalah entrepreneurship di Indonesia. Kini, dia sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) periode 2010 – 2015.


Terpecah Pengusaha atau Politisi
Menurut perempuan yang juga dosen program master di sekolah bisnis Intitut Teknologi Bandung ini, Indonesia membutuhkan lebih banyak lagi pengusaha untuk menciptakan lapangan kerja. “Pengangguran merupakan masalah besar,” ujarnya. Dan sebagai pengusaha, dalam mengelola Usaha Kecil Menengah (UKM) di tanah air tak ubahnya mengelola sebuah perusahaan. Butuh kerja keras dan strategi jitu untuk mendukung UKM agar mampu bersaing dalam kancah pasar nasional maupun global. 

“Menjadi pengusaha itu harus luwes. Prinsipnya selalu terbuka terhadap peluang bisnis yang ada di pasar. Pengusaha harus mampu melihat potensi pasar di masa depan dan sektor bisnis apa saja yang berpeluang, serta tren bisnis masa depan,” ujar pemilik Indo Prima Group yang bergerak di bisnis konsultan manajemen. Jasa konsultasi yang ditawarkan perusahaannya ini adalah cara mengelola perusahaan dengan baik seperti bagaimana meningkatkan sales dan melakukan cost efisiensi. 

Ibu dua anak ini bercita-cita menjadi pengusaha yang diperhitungkan di negeri ini. Namun sempat pula fokusnya terpecah antara menjadi pengusaha atau politisi. 

“Waktu kuliah dulu, saya aktif di berbagai organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Isafis, dan Kelompok Kerja Partai Golkar. Nah pada pemilihan legislatif lalu, saya mendapat tawaran untuk menjadi anggota legislatif dari beberapa partai politik peserta pemilu,” jelasnya. Walau kemudian hal itu perlu dia pikirkan lagi. 

Lalu bagaimana perempuan mengelola dirinya untuk menjadi pengusaha? Penyuka semua masakan ini berpendapat bahwa problem utama di Indonesia bagi perempuan yang ingin menjadi pengusaha adalah hambatan budaya. “Di sini kan begitu, perempuan tidak boleh lebih tinggi dari suami, terutama dalam hal pendapatan ya, masih sangat dominant di Indonesia. Makanya, ini yang membuat pengusaha tak berani mengambil peluang bisnis yang ada di depan mata,” ujarnya. Perempuan harus bisa menggali potensi yang ada dalam dirinya tanpa harus melupakan kodratnya. Sebab langkah perempuan dalam bidang apa pun, tanpa dukungan keluarga dan suami, tak akan berjalan lancar, tambahnya.


(artikel ini saya tulis dan ditayangkan untuk Majalah Puan Pertiwi dan saya arsipkan di blog ini)

Comments