Perempuan kadang dapat memengaruhi hal-hal pemerintahan, begitu juga di masa Islam Abad Pertengahan. Shajar ad Durr adalah salah satunya. Dia pahlawan wanita yang terkenal gagah berani, bagian dari dinasti Ayyubiyah.
![]() |
| Shajar al Durr foto by Google |
Kebesaran Islam dalam Kepemimpinan Shajar al Durr.
Sebenarnya, ada tiga perempuan yang mencapai posisi formal kekuasaan di masa Islam Abad Pertengahan. Yang pertama adalah Radiya (d. 1240), putri Sultan Iltumush, yang memerintah Delhi selama tiga setengah tahun, yang kedua adalah Shajar ad-Durr (d. 1257) yang memerintah di Mamluk Mesir selama sekitar tiga bulan, dan yang ketiga adalah Tandu (d. 1419), putri Hasan Ibn Uways, yang memerintah selama sekitar tiga tahun di Mongol Ilkhanate dari Persia.
Budak yang Cantik dan Cerdas
Shajar mulanya seorang budak biasa yang berasal dari Turki. Dia digambarkan sebagai perempuan yang cantik memesona dan cerdas. Kecantikannya membuat As-Salih Ayyub terpesona dan membelinya sebagai budak. Salih Ayyub adalah putra dari Kamil, penguasa Dinasti Ayyubiyah.
Ketika Kamil meninggal dunia pada tahun 635 H/1238 M, pemimpin-pemimpin Ayyubiyah Mesir memproklamirkan anaknya, Abu bakar, sebagai Sultan Ayyubiyah dan memberinya gelar Adil 2. Salih Ayyub, yang pada saat itu berada di Benteng Kiva, menolak pemerintahan Abu Bakar dan pergi ke Mesir. Akhirnya masa pemerintahan Adil 2 hanya bertahan tidak lebih dari 3 tahun. Salih Ayyub menggulingkannya. Akhirnya Salih Ayyub diproklamirkan menjadi Sultan Mesir pada tahun 637 H/1240 M.
Selama beberapa waktu, Shajar menjadi selir favorit Salih Ayyub. Shajar pergi bersama Salih ke Mesir. Di sana ia melahirkan putera pertama mereka, al-Malik al-Mansour. Setelah kelahiran anak mereka, Salih pun menikahi Shajar.
Selama pemerintahan Salih Ayyub, Raja Perancis banyak mengirimkan ekspedisi perang terhadap Mesir. Salih Ayyub yang saat itu memiliki para perajurit mamluk (budak belian) yang terlatih, berhasil mengalahkan secara total pasukan Perancis. Shajar cukup berperan mendampingi suaminya. Dia ikut memberikan masukan dan dorongan pada setiap langkah yang diambil suaminya. Taktiknya begitu cerdas dan menguasai keadaan. Salih Ayyub semakin mengagumi dan memercayakan sesuatunya kepada Shajar.
![]() |
| Penyerangan tentara salib saat Sultan Salih dalam keadaan sakit / foto by Google |
![]() |
| Penyerangan terhadap Putera Mahkota TuranShah / foto by Google |
![]() |
| Raja King Louis IX / foto by Googla |
Menyelamatkan Sang Suami
Tubuh coffined Sultan diangkut secara rahasia dengan perahu ke benteng di pulau al-Rudah di sungai Nil. Meskipun almarhum Sultan tidak meninggalkan pesan mengenai siapa yang harus menggantikannya, Faris ad-Din Aktai dikirim ke Hasankeyf untuk memanggil al-Muazzam Turansyah, putra almarhum Sultan, untuk menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Sultan Mesir.
Menjadi Ratu
Turansyah bersedia menggantikan ayahnya. Ia belajar dari kematian ayahnya dari Faris ad-Din Aktai, komandan ayahnya yang telah dikirim dari Mesir untuk membawanya kembali dan mengejar perang melawan Louis IX dari Perancis dan Perang Salib Ketujuh.
Pada April 1249, As-Salih Ayyub jatuh sakit. Dari Suriah ia kembali ke Mesir, lalu pergi ke Ashmum-Tanah, dekat Damietta setelah ia mendengar bahwa Raja Louis IX dari Perancis telah mengumpulkan tentara-tentara salib di Siprus dan hendak melancarkan serangan melawan Mesir.
Salih Ayyub pun ditangkap dan dipenjara. Dia dimasukkan ke dalam penjara di al-Karak di Yordania. Shajar al-Durr berusaha menyelamatkan suami dari tindakan semena-mena dengan menemaninya di dalam penjara. Shajar ditemani seorang budak yang begitu setia kepadanya. Selama menemani suaminya, Shajar tetap melancarkan taktiknya dan menghimpun kekuatan. Dia tahu bagaimana harus bertindak. Selama mendampingi suami, Shajar banyak belajar tentang peperangan.
As-Salih Ayyub akhirnya meninggal saat ditandu dalam perjalanan ke istananya, setelah bebas dari penjara. Ia meninggal pada 22 November 1249 setelah memerintah Mesir selama hampir 10 tahun. Meski kesedihan menerjangnya, Shajar mencoba tegar menerima kematian suaminya.
Shajar al-Durr mengabarkan duka itu kepada Emir Fakhr ad-Din Yussuf Ben Syekh, komandan semua tentara Mesir dan Tawashi Jamal ad-Din Muhsin, kepala kasim yang menguasai istana. Karena negara sedang diserang oleh tentara salib, maka mereka memutuskan untuk menyembunyikan kematian Alih Ayyub. Shajar al-Durr melakukan ini agar semangat umat muslim tidak turun dan tergoyahkan. Shajar pun segera mengambil alih tugas suaminya, memerintah negara dan mengatur permasalahan-permasalahan.
Tubuh coffined Sultan diangkut secara rahasia dengan perahu ke benteng di pulau al-Rudah di sungai Nil. Meskipun almarhum Sultan tidak meninggalkan pesan mengenai siapa yang harus menggantikannya, Faris ad-Din Aktai dikirim ke Hasankeyf untuk memanggil al-Muazzam Turansyah, putra almarhum Sultan, untuk menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Sultan Mesir.
![]() |
| As-Salih Ayyub |
Menjadi Ratu
Turansyah bersedia menggantikan ayahnya. Ia belajar dari kematian ayahnya dari Faris ad-Din Aktai, komandan ayahnya yang telah dikirim dari Mesir untuk membawanya kembali dan mengejar perang melawan Louis IX dari Perancis dan Perang Salib Ketujuh.
Kabar kematian Sultan akhirnya sampai juga ke tentara salib di Damietta. Mereka pun datang menyerang. Fakhr ad-Din tewas dalam serangan mendadak itu. Penyerangan itu membuat Shajar bertindak cepat. Ia menyetujui rencana Baibars membela Al Mansurah. Pada Februari 1250, Sultan Al-Muazzam Turansyah tiba di Mesir dan bertahta di Al Salhiyah, karena ia tidak punya waktu untuk pergi ke Kairo, Turansyah langsung pergi ke Al Mansurah.
Pada tanggal 28 Muharram 648/2 Mei 1250, setelah perjamuan besar yang dilakukan Turansyah, Baibars dan sekelompok tentara Mamluk memaksa masuk ke arena jamuan berusaha membunuhnya. Turansyah terkena basutan pedang di tangannya. Dia pun melarikan diri ke sebuah menara di sebelah Sungai Nil. Mamluk mengejarnya dan membunuhnya tanpa ampun. Bahkan, hatinya dipotong dan dibawa kepada Louis IX.
Kepergian suami dan anaknya, membuat Shajar semakin bertekad untuk menaklukan Raja Louis. Shajar kemudian didaulat menjadi Ratu. Dalam kepemimpinannya, Shajar terkenal cekatan dan berani. Taktik dan strategi politiknya membawanya kepada kemenangan. Disebutkan bahwa Shajar unggul dalam peperangan terhadap perang salib juga sukses menangkap Raja Louis IX dari Perancis. Dalam periode ini telah terukir dalam sejarah munculnya pahlawan wanita yang terkenal gagah berani yaitu Shajar al-dur yang juga merupakan keluarga dari dinasti Ayyubiyah.
(Bersambung..... lanjut ke Shajar al Durr Ratu Islam Abad Pertengahan bag 2)




