Meski terbukti meringankan beban mempelai, bahkan diimpikan semua kalangan, pernikahan dengan sponsor ini banyak mendapat kritikan. Beberapa kritikus di Amerika dan Inggis ternyata kurang menyetujui adanya trend ini.
Menurut mereka, ini seperti sedang berjualan di sebuah acara yang seharusnya khidmat. Mereka yang akan menjadi sponsor, bebas memajang merek atau produknya di mana saja. Untuk promosi saat acara resepsi pernikahan. sejauh mata memandang, para tamu akan disuguhi aneka merek yang terpampang di semua atribut pernikahan. “Bisa dikatakan dalam resepsi pernikahan kalian, bintangnya bukan kalian berdua. Tapi si produk itu.
Kalian bukan raja dan ratu sehari, tapi pemeran figuran,” ujar mereka.
“Jika Anda berani membuat beberapa kesepakatan dengan vendor-vendor pernikahan, Anda dapat memperoleh dukungan dari mereka. Semakin banyak sponsor yang berpartisipasi, maka Anda akan semakin sedikit Anda mengeluarkan biaya pernikahan. Namun karena Anda melakukan beberapa kesepakatan dengan mereka, tentunya ada beberapa hal yang Anda tidak bisa bebas menentukan detail pesta pernikahan Anda. Dan ini seperti bukan pernikahan Anda, tetapi seperti sedang berjualan di Bazar,” begitu pendapat para kritikus di Inggris.
Mengharapkan bantuan sponsor, bagaimana setelah pernikahan nanti? Pernikahan adalah awal kehidupan baru. Jika pernikahan mengandalkan sponsor, berarti Anda menggantungkan harapan pada orang lain. Walaupun hanya pernikahan yang sederhana, tapi itu memperlihatkan kalau Anda percaya diri dengan dirimu sendiri.
Dude Herlino tidak menyetujui pendapat tersebut. Menurutnya pernikahan artis dengan sponsor ini adalah sebuah hal yang wajar. Selama penggunaannya jelas dan halal. “Secara agama juga halal, daripada uang korupsi dipakai untuk acara pernikahan, daripada pake uang rakyat lebih baik pakai uang sponsor,” ujar Dude.
Adanya kesepakatan antara entertainer dengan iklan dan dengan promo produk, menjadikan ini sebagai hal yang menguntungkan. “Dan semuanya halal-halal saja, tidak melanggar hukum tidak melanggar aturan agama. Apalagi acara pernikahan adalah ibadah di Islam, buat saya sah-sah saja kalau artis menggunakan sponsor dalam pernikahannya. Justru akan lebih mempermudah dan juga dapat menjaga silaturahmi dengan klien-klien yang memberikan sponsor kepada kami,” tambah Dude.
Menentukan anggaran dan berpegang teguh pada hal itu adalah bagian paling sulit. Menguntungkan satu sama lain, bukan hanya pada saat acara pernikahan saja, tetapi akan lanjut dikemudian hari. Ketika iklan butuh ekspos dan artis dapat membantunya, hal itu seperti layaknya simbiosis mutualisme. Sebagai bagian dari pekerjaan para artis.
Adanya kesepakatan antara entertainer dengan iklan dan dengan promo produk, menjadikan ini sebagai hal yang menguntungkan. “Dan semuanya halal-halal saja, tidak melanggar hukum tidak melanggar aturan agama. Apalagi acara pernikahan adalah ibadah di Islam, buat saya sah-sah saja kalau artis menggunakan sponsor dalam pernikahannya. Justru akan lebih mempermudah dan juga dapat menjaga silaturahmi dengan klien-klien yang memberikan sponsor kepada kami,” tambah Dude.
Menentukan anggaran dan berpegang teguh pada hal itu adalah bagian paling sulit. Menguntungkan satu sama lain, bukan hanya pada saat acara pernikahan saja, tetapi akan lanjut dikemudian hari. Ketika iklan butuh ekspos dan artis dapat membantunya, hal itu seperti layaknya simbiosis mutualisme. Sebagai bagian dari pekerjaan para artis.
Repotnya mempersiapkan pernikahan ini juga karena efek dari pergeseran dalam masyarakat, berupa bentuk keluarga luas ke bentuk keluarga inti. Masni Erika Firmiana, S.Sos, M.Si mengatakan, dahulu, sistem kekerabatan relatif lebih kuat, tidak heran, karena bentuk masyarakatnya masih dapat dikatakan masyarakat tradisional, bentuk keluarga pun kebanyakan keluarga luas. Bahkan urusan "siapa menikah dengan siapa" atau urusan perjodohan, menjadi urusan keluarga besar. “Sekarang, hampir semua urusan dijalani dan diselesaikan sendiri oleh individu secara pribadi. Sekarang, masyarakat sudah semakin modern, dan bentuk keluarga pun sebagian besar sudah berupa keluarga inti. Komunikasi dan interaksi antara anggota keluarga besarpun tidak seintens seperti zaman dulu. Dengan situasi seperti ini, tentu relatif tidak mungkin meminta bantuan apa pun kepada anggota keluarga besar yang lain.”
Jadi, apakah pernikahan dengan sponsor ini merupakan efek dari ketenaran? atau benarkah karena kekerabatan tidak seerat dulu?*


Comments
Post a Comment