Kalian tahu, kebahagiaan seorang ibu adalah ketika ia melihat anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang baik, sehat, dan cerdas. Saat ada seorang anak yang baik telah berprestasi di sekolah dan lingkungannya, saat itulah kita mesti melihat siapa yang ada di sebelahnya!
Ketika membaca sebuah berita tentang kemenangan remaja 17 tahun di ajang Olimpiade Biologi dunia, saya merasa harus mencari tahu siapa sosok ibu yang melahirkannya. Inilah hasil wawancara saya dengan sang bunda, sosok hebat yang telah menjadikan anak-anaknya tumbuh baik dan cerdas.
![]() |
| Maria Patricia Inggriani/foto dokpri |
Ninik Sulastri
Ibunda Maria Patricia InggrianiAku adalah ibu yang paling berbangga, tetapi mungkin ada yang jauh lebih berbangga lagi; Indonesia! Ketika Maria Patricia Inggriani, seorang gadis 17 tahun, berhasil mempersembahkan medali emas untuk bidang science dan biologi dunia!
Aku percaya, semua yang kita dapatkan adalah berkat dan rencana Tuhan. Tanpa bantuan Tuhan, kita tidak bisa sukses sekeras apa pun kita berusaha. Aku selalu menanamkan hal itu kepada anak-anakku. Ketika melihat Petty, putri ketigaku, berdiri di depan panggung sana untuk menerima kalungan medali emas atas prestasinya di Internasional Olimpiade dan menerima beasiswa hingga S3, aku sadar, perjuanganku justeru masih sangat panjang. Aku harus mendampingi dan menyemangatinya, karena dia mempunyai tanggungjawab yang lebih besar lagi kepada negara ini.
![]() |
| Memberi hormat di atas panggung dalam acara pembukaan International Biologi Olympiade di Aarrhus Denmark bersma peserta lain dari Indonesia |
Mental Bertanding Sejak KecilSering aku tersenyum sendiri bila mengingat belasan tahun lalu, ketika anak-anak masih kecil. Bukan hal yang mudah merawat empat bocah yang memiliki kegemaran yang berbeda. Mereka, yang jarak kelahirannya berdekatan, membuat riuh suasana rumah dengan teriakan dan tangisan. Belum lagi bila di antaranya ada yang bertengkar.
Namaku Ninik Sulastri. Aku menikah dengan Surijawan Sujono setelah tujuh tahun melalui masa-masa pacaran. Suamiku sangat perhatian dan penuh mengerti. Bersamanya kulalui hari-hari berumah tangga dengan damai. Kami selalu berdoa dan bersyukur. Kami percaya Tuhan memberi yang terbaik.
Aku mengandung keempat anakku dengan melalui masa ngidam yang cukup sulit. Sampai usia kandungan tujuh bulan, aku masih muntah-muntah dan sulit makan. Namun, yang lebih menderita ketika aku mengandung anak ketiga. Saat usia kandungan berjalan empat bulan, aku terkena typus. Masa ngidam itu harus bergelut dengan kondisi kesehatan yang minim. Aku sampai begitu khawatir dengan kesehatan anak ketigaku itu. Namun, rupanya Tuhan sangat mengasihi aku dan anakku. Dia lahir sehat tanpa kekurangan apa pun. Kuberi nama dia Maria Patricia Inggriani, dengan panggilan sayang, Petty.
Petty susah makan sejak kecil. Sulit membujuknya. Dia hanya mau minum susu saja. Paling buah Lyche, cokelat dan ice cream. Selama di Play Group itu, Petty hanya berbekal susu beruang satu kaleng saja. Petty termasuk anak yang berani. Di hari pertama masuk Play Group, sementara yang lain menangis di dalam kelas, Petty malah nyelonong keluar dan menyapa salah satu ibu-ibu di sana. Petty sama sekali tidak kenal dengan ibu-ibu itu, tapi dia berani berkata, “Tante, bisa antar saya pulang? Rumah saya dekat, nanti saya tunjukin. Ibu itu sempat kaget, dia membawa Petty ke dalam kelas dan menemui gurunya.
Petty sangat suka membaca buku. Mungkin itu yang membuatnya lebih percaya diri. Saat di bangku SD Petty mengikuti lomba Story Telling dan selalu juara. Dia juga rajin mengikuti berbagai kejuaraan. Mental bertanding sudah ditempa sejak kecil. Untuk pertama kali Petty mendapat hadiah uang adalah waktu di SD kelas 4, karena juara satu komputer. Petty juga memiliki otak yang cemerlang. Dia bisa menghafal semua pelajaran. Sebelum diberi pertanyaan, dia menjelaskan semua yang ada di catatan.
Namaku Ninik Sulastri. Aku menikah dengan Surijawan Sujono setelah tujuh tahun melalui masa-masa pacaran. Suamiku sangat perhatian dan penuh mengerti. Bersamanya kulalui hari-hari berumah tangga dengan damai. Kami selalu berdoa dan bersyukur. Kami percaya Tuhan memberi yang terbaik.
Aku mengandung keempat anakku dengan melalui masa ngidam yang cukup sulit. Sampai usia kandungan tujuh bulan, aku masih muntah-muntah dan sulit makan. Namun, yang lebih menderita ketika aku mengandung anak ketiga. Saat usia kandungan berjalan empat bulan, aku terkena typus. Masa ngidam itu harus bergelut dengan kondisi kesehatan yang minim. Aku sampai begitu khawatir dengan kesehatan anak ketigaku itu. Namun, rupanya Tuhan sangat mengasihi aku dan anakku. Dia lahir sehat tanpa kekurangan apa pun. Kuberi nama dia Maria Patricia Inggriani, dengan panggilan sayang, Petty.
Petty susah makan sejak kecil. Sulit membujuknya. Dia hanya mau minum susu saja. Paling buah Lyche, cokelat dan ice cream. Selama di Play Group itu, Petty hanya berbekal susu beruang satu kaleng saja. Petty termasuk anak yang berani. Di hari pertama masuk Play Group, sementara yang lain menangis di dalam kelas, Petty malah nyelonong keluar dan menyapa salah satu ibu-ibu di sana. Petty sama sekali tidak kenal dengan ibu-ibu itu, tapi dia berani berkata, “Tante, bisa antar saya pulang? Rumah saya dekat, nanti saya tunjukin. Ibu itu sempat kaget, dia membawa Petty ke dalam kelas dan menemui gurunya.
Petty sangat suka membaca buku. Mungkin itu yang membuatnya lebih percaya diri. Saat di bangku SD Petty mengikuti lomba Story Telling dan selalu juara. Dia juga rajin mengikuti berbagai kejuaraan. Mental bertanding sudah ditempa sejak kecil. Untuk pertama kali Petty mendapat hadiah uang adalah waktu di SD kelas 4, karena juara satu komputer. Petty juga memiliki otak yang cemerlang. Dia bisa menghafal semua pelajaran. Sebelum diberi pertanyaan, dia menjelaskan semua yang ada di catatan.
![]() |
| Petty di tengah keluarga/ft dokpri |
Langganan Bea Siswa
Aku berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anakku, terutama dalam pendidikannya. Mereka aku sekolahkan di sekolah terbaik. Keempat anakku memiliki kelebihan masing-masing, mereka juga juara kelas. Namun hanya Petty yang rajin mengikuti aneka lomba, sehingga piala dan piagam yang terpampang di rumah kebanyakan atas nama Petty.
Ketika di SMP, Petty mendapat penghargaan medali Biologi. Pelajaran yang sangat dia sukai. Itu sebabnya, Petty ditawari masuk SMA Kharisma Bangsa, sekolah milik yayasan Turki yang letaknya di Pondok Cabe, Pamulang. Meskipun dekat dari rumah, Petty diharuskan masuk asrama karena begitulah peraturan sekolah. Petty mendapat beasiswa di sana, sehingga semuanya gratis. Di sekolah itu Petty semakin giat belajar sebab sekolah selalu mendatangkan tenaga ahli untuk pendidikan biologinya.
Putri ketigaku itu pekerja keras. Apa pun dia lakukan dengan sungguh-sungguh, tidak setengah-setengah. Dia sangat polos dan disiplin. Meski begitu, dia sangat baik dan perhatian kepada teman-temannya. Dia akan menerangkan pelajaran kepada teman yang bertanya padanya, khususnya Biologi. Begitu juga kepada adiknya, Petty berbakat menjadi guru yang baik.
Saking seriusnya bila melakukan sesuatu, Petty sampai melupakan jadwal makan. Sudahlah dia susah makan, ditambah lagi dengan sering mengabaikan jadwal makan. Aku sering mengkhawatirkan kesehatannya. Tak bosan-bosan aku mengingatkan Petty soal jadwal makan.
Ketika di SMP, Petty mendapat penghargaan medali Biologi. Pelajaran yang sangat dia sukai. Itu sebabnya, Petty ditawari masuk SMA Kharisma Bangsa, sekolah milik yayasan Turki yang letaknya di Pondok Cabe, Pamulang. Meskipun dekat dari rumah, Petty diharuskan masuk asrama karena begitulah peraturan sekolah. Petty mendapat beasiswa di sana, sehingga semuanya gratis. Di sekolah itu Petty semakin giat belajar sebab sekolah selalu mendatangkan tenaga ahli untuk pendidikan biologinya.
Putri ketigaku itu pekerja keras. Apa pun dia lakukan dengan sungguh-sungguh, tidak setengah-setengah. Dia sangat polos dan disiplin. Meski begitu, dia sangat baik dan perhatian kepada teman-temannya. Dia akan menerangkan pelajaran kepada teman yang bertanya padanya, khususnya Biologi. Begitu juga kepada adiknya, Petty berbakat menjadi guru yang baik.
Saking seriusnya bila melakukan sesuatu, Petty sampai melupakan jadwal makan. Sudahlah dia susah makan, ditambah lagi dengan sering mengabaikan jadwal makan. Aku sering mengkhawatirkan kesehatannya. Tak bosan-bosan aku mengingatkan Petty soal jadwal makan.
Kena Maag Saat Pelatnas
Aku bangga ketika Petty dipilih mengikuti International Biology Olympiad (IBO) di Aarhus, Denmark yang berlangsung 12-19 Juli 2015. Namun, sebelum itu, Petty harus mengikuti seleksi dan masuk pelatnas. Di sinilah Petty benar-benar berjuang. Dia belajar siang dan malam agar bisa lolos eliminasi di pelatnas. Itu juga berarti Petty untuk sementara meninggalkan pelajaran di sekolahnya. Sering aku merasa trenyuh melihat putriku itu menghabiskan waktunya dengan setumpuk pelajaran. Waktunya habis untuk mengejar ketertinggalan materi pelajaran di sekolahnya saat dia mengikuti pelatihan nasional, sementara anak-anak seusianya asyik berkesempatan kongkow dari satu mall ke mall lainnya. Pernah aku bertanya apakah dia menyesal dengan kondisi ini, dia malahan menggeleng. Dia bilang dia sangat bersyukur, selama di pelatnas dia diberi talenta dan kesempatan untuk terus mengembangkan diri, terutama memperdalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dari materi di sekolahnya.
Aku sempat panik ketika mendengar kabar Petty stress saat mengetahui jadwal pelatnas ternyata nyaris berbarengan dengan jadwal UN. Sebagai seorang ibu aku berusaha memberikan yang terbaik. Aku katakan kepadanya untuk jangan memaksakan diri dan memilih yang terbaik. Namun, Petty tetap berkeras. Akhirnya aku meminta bantuan Suster Petra untuk mendampingi Petty, memberi dorongan rohani dan semangat di saat Petty stress itu. Karena stres itu pula yang akhirnya menyebabkan Petty terkena sakit maag selama pelatnas. Menurut cerita Petty, selama di pelatnas pelajaran 3 tahun dipadatin menjadi seperti 6 bulan. Jadi, saat teman-teman sedang menikmati jam istirahat, Petty malah belajar untuk kejar PR-PR sekolah selama ikut olimpiade. Aku juga berusaha meminta dukungan dari Pak Widodo, ahli Kimia dan Pak Mulyono, ahli Fisika. Berkat bantuan beliau, Petty akhirnya tidak kesulitan waktu UN, malahan bisa masuk SBMPTN UGM FK.
Juara Dunia Hasil Kerja KerasnyaAkhirnya, perjuangan Petty tidak sia-sia. Dia berhasil merebut medali emas di International Biology Olympiad (IBO) itu. dia wakil Indonesia yang berhasil menyabet juara pertama. aku bahagia sekali. Dia berkompetisi dengan 241 siswa dari 61 negara. Tim Olimpiade Biologi Indonesia berhasil membawa emas, perak dan perunggu. Selain Maria, nama peraih medali lainnya adalah Valdi Ven Japranata (SMA Kristen IPEKA Sunter) peraih medali perak, Hana Fauzyyah Hanidin (SMA Semesta Semarang) perak dan Nagita Gianty Annisa (MAN Insan Cendekia) peraih medali perunggu. Menurut Petty, dia tidak menyangka kalau ada tes praktikum dan teori di olimpiade itu. Apalagi Petty juga mengalami sakit perut. Maag-nya kumat lagi. Tapi syukurlah, Petty malah mendapat nilai tertinggi.
Kompetitor terberat di sana adalah peserta asal Amerika Serikat, Korea, Singapura dan Taiwan. Pasalnya, negara-negara itu sudah mengaplikasikan teknologi memadai di setiap kelas praktikum. Sehingga, siswa tidak lagi kelimpungan karena sudah terbiasa. Kalau di USA, pelajaran sekolahnya sudah pakai alat canggih seperti kuliah jadi siap untuk ikut olimpiade, kalau sekolah kita kan jarang, itulah sebagian curhatan Petty padaku melalui WA sebelum dia kembai ke tanah air. Kata Petty, dia berterima kasih sebab pemerintah Indonesia sudah cukup baik memfasilitasi para siswa-siswi sekolah dari tingkat dasar hingga atas untuk ikut lomba-lomba di kancah internasional. Selain mendapat medali emas, Petty juga mendapat bea siswa sampai S3. Soal beasiswa ini saya berharap tidak sekadar janji saja, tetapi tertulis dan sah. Sehingga saat terjadi ganti menteri, bea siswa itu tetap terlaksana. Juga agar bisa segera kami terima, mengingat perjalanan kuliah Petty hingga saat ini sudah berlangsung hampir 1 semester, dan kami sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Saya bersyukur kepada Tuhan. Semua yang Petty dapat adalah berkat dan rencana Tuhan.Tanpa bantuan Tuhan, Petty tidak bisa sukses. Saya bangga tentunya Petty bisa membawa nama Indonesia di luar negeri, bersyukur dan berterima kasih kepada semua guru-guru yang telah membimbingnya.
Tanggal 24 Agustus, Pak Jusman Sihombing dari Kemenbud menelepon, beliau meminta Petty datang. Saat itu ada acara jumpa pers tentang penumbuhan budi pekerti. Petty dan adiknya berkesempatan bertemu dengan Anis Baswedan. Kegembiraan itu bertambah waktu mendengar Petty diundang ke Istana pada tanggal 17 Agustus. Mimpi pun tak pernah bisa masuk Istana bertemu Presiden dan Ibu Negara, dan pejabat. Saya bersyukur dan terima kasih sama Tuhan, ini semua berkat Yang Maha Kuasa.
Aku dan suami merasa sangat lega sekarang. UN sukses, berhasil masuk masuk UGM FK, dan membawa medali Emas dari Denmark. Namun, perjuangan Petty baru awal. Sekarang dia harus berjuang lagi supaya menjadi dokter yang pandai dan baik. (Erin/Dokpri)
Aku sempat panik ketika mendengar kabar Petty stress saat mengetahui jadwal pelatnas ternyata nyaris berbarengan dengan jadwal UN. Sebagai seorang ibu aku berusaha memberikan yang terbaik. Aku katakan kepadanya untuk jangan memaksakan diri dan memilih yang terbaik. Namun, Petty tetap berkeras. Akhirnya aku meminta bantuan Suster Petra untuk mendampingi Petty, memberi dorongan rohani dan semangat di saat Petty stress itu. Karena stres itu pula yang akhirnya menyebabkan Petty terkena sakit maag selama pelatnas. Menurut cerita Petty, selama di pelatnas pelajaran 3 tahun dipadatin menjadi seperti 6 bulan. Jadi, saat teman-teman sedang menikmati jam istirahat, Petty malah belajar untuk kejar PR-PR sekolah selama ikut olimpiade. Aku juga berusaha meminta dukungan dari Pak Widodo, ahli Kimia dan Pak Mulyono, ahli Fisika. Berkat bantuan beliau, Petty akhirnya tidak kesulitan waktu UN, malahan bisa masuk SBMPTN UGM FK.
Juara Dunia Hasil Kerja KerasnyaAkhirnya, perjuangan Petty tidak sia-sia. Dia berhasil merebut medali emas di International Biology Olympiad (IBO) itu. dia wakil Indonesia yang berhasil menyabet juara pertama. aku bahagia sekali. Dia berkompetisi dengan 241 siswa dari 61 negara. Tim Olimpiade Biologi Indonesia berhasil membawa emas, perak dan perunggu. Selain Maria, nama peraih medali lainnya adalah Valdi Ven Japranata (SMA Kristen IPEKA Sunter) peraih medali perak, Hana Fauzyyah Hanidin (SMA Semesta Semarang) perak dan Nagita Gianty Annisa (MAN Insan Cendekia) peraih medali perunggu. Menurut Petty, dia tidak menyangka kalau ada tes praktikum dan teori di olimpiade itu. Apalagi Petty juga mengalami sakit perut. Maag-nya kumat lagi. Tapi syukurlah, Petty malah mendapat nilai tertinggi.
Kompetitor terberat di sana adalah peserta asal Amerika Serikat, Korea, Singapura dan Taiwan. Pasalnya, negara-negara itu sudah mengaplikasikan teknologi memadai di setiap kelas praktikum. Sehingga, siswa tidak lagi kelimpungan karena sudah terbiasa. Kalau di USA, pelajaran sekolahnya sudah pakai alat canggih seperti kuliah jadi siap untuk ikut olimpiade, kalau sekolah kita kan jarang, itulah sebagian curhatan Petty padaku melalui WA sebelum dia kembai ke tanah air. Kata Petty, dia berterima kasih sebab pemerintah Indonesia sudah cukup baik memfasilitasi para siswa-siswi sekolah dari tingkat dasar hingga atas untuk ikut lomba-lomba di kancah internasional. Selain mendapat medali emas, Petty juga mendapat bea siswa sampai S3. Soal beasiswa ini saya berharap tidak sekadar janji saja, tetapi tertulis dan sah. Sehingga saat terjadi ganti menteri, bea siswa itu tetap terlaksana. Juga agar bisa segera kami terima, mengingat perjalanan kuliah Petty hingga saat ini sudah berlangsung hampir 1 semester, dan kami sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Saya bersyukur kepada Tuhan. Semua yang Petty dapat adalah berkat dan rencana Tuhan.Tanpa bantuan Tuhan, Petty tidak bisa sukses. Saya bangga tentunya Petty bisa membawa nama Indonesia di luar negeri, bersyukur dan berterima kasih kepada semua guru-guru yang telah membimbingnya.
Tanggal 24 Agustus, Pak Jusman Sihombing dari Kemenbud menelepon, beliau meminta Petty datang. Saat itu ada acara jumpa pers tentang penumbuhan budi pekerti. Petty dan adiknya berkesempatan bertemu dengan Anis Baswedan. Kegembiraan itu bertambah waktu mendengar Petty diundang ke Istana pada tanggal 17 Agustus. Mimpi pun tak pernah bisa masuk Istana bertemu Presiden dan Ibu Negara, dan pejabat. Saya bersyukur dan terima kasih sama Tuhan, ini semua berkat Yang Maha Kuasa.
Aku dan suami merasa sangat lega sekarang. UN sukses, berhasil masuk masuk UGM FK, dan membawa medali Emas dari Denmark. Namun, perjuangan Petty baru awal. Sekarang dia harus berjuang lagi supaya menjadi dokter yang pandai dan baik. (Erin/Dokpri)




Comments
Post a Comment