Ekspresi wajahnya dingin, sorot matanya tajam, dan rambut panjangnya terurai. Lukisan yang terletak di ruangan The Sugar Baron Room Hotel Tugu, Malang, menyita perhatian pengunjung. Konon, pengunjung yang menatapnya akan tergidik dan aura dingin akan terasa di sekitar ruangan.
![]() |
| Hui Lan |
Ruangan itu semakin menguarkan aroma mistis. Beberapa bahkan mengaku ada perasaan ganjil dan juga ‘didatangi’ dalam mimpi setelah melihat lukisan itu. Bukan hanya tampilannya yang tidak biasa, tetapi juga karena sosok perempuan dalam lukisan itu yang begitu fenomenal.
Dialah Oei Hui Lan, putri Raja Gula dari Semarang yang juga pria terkaya di Asia Tenggara di abad 19.
![]() |
| Oei Tiong Ham si Raja Gula dari Semarang, ayah Hui Lan |
![]() |
| 200 juta gulden, Oei Tiong Ham, si Raja Gula dari Semarang, orang paling kaya se-Asia Tenggara tahun 1800-an. |
![]() |
| Tahun 1975 Makam Oei Tiong Ham dipindahkan dari Semarang ke Singapura |
![]() |
| Rumah besar Oei |
Nyaris tak ada yang mengingat jejaknya. Perempuan Semarang yang menjalankan diplomasi informal untuk Generalissimo Chiang Kai Shek pada Perang Dunia II itu seolah terlupakan. Kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 21 Desember 1889, adalah putri Oei Tiong Ham, konglomerat pertama Asia Tenggara, bos Kian Gwan Concern yang dijuluki ”Rockefeller Asia”. Oei Hui Lan adalah sosialita dunia, menghabiskan waktu di Semarang, Singapura, London, Paris, Shanghai, Beijing, Washington DC, dan New York, Amerika Serikat. Dia menjadi tokoh di belakang layar diplomasi dunia setelah menikahi Duta Besar dan kelak Menteri Luar Negeri Republik Tiongkok.
Kisah hidup Oei Hui Lan cukup fenomenal. Oei Hui Lan adalah putri kedua dari istri pertama ayahnya. Kakaknya bernama Tjong Lan. Mereka hanya dua bersaudara. Ayahnya mempunyai 42 anak dari 18 gundik. Bagi orang China anak gundik pun dianggap sebagai anak yang sah. Selain cantik Oei Hui Lan juga sangat cakap. Dia sering diajak mendampingi ayahnya berdagang ke beberapa negara seperti Cina, Amerika, dan Eropa.
Ayahnya, Oei Tiong Ham, adalah orang terkaya di Asia Tenggara pada saat itu. Dia juga menjadi tonggak sejarah perubahan Bangsa Cina di Bumi Nusantara. Ibunya, Goei Bing Nio, seorang perempuan yang ambisius. Kekayaan suaminya menjadikannya perempuan yang membeli apa saja yang bisa meningkatkan citra keluarga. Perhiasan, pakaian mahal, kendaraan, hingga plesiran ke Eropa. Dari Goei, Oei Hui Lan belajar cara bergaul dengan kalangan Jet Set Eropa dan berhasil menempatkan status keluarga Oei sejajar dengan keluarga kerajaan Inggris.
Oei Hui Lan dibesarkan dalam istana megah. Luasnya mencapai 9.2 hektar dengan gaya arsitek Eropa dan China. Ada 40 pembantu rumah tangga, 50 tukang kebun, dan dua koki asal Cina dan Eropa. Uang ayahnya bertumpuk mencapai atap rumah dan selalu tak habis-habis walau selalu dikeluarkan.
![]() |
| Bersama para istri pejabat |
![]() |
| Ketiga anjing kesayangannya |
![]() |
| Madame Welington Koo dan kehidupan sosialita |
Putri yang Kesepian
Oei Hui Lan meniru apa yang dilakukan ibunya. Plesiran, belanja, dan bergaul. Namun, nyatanya kekayaan dan berbagai fasilitas yang dimiliki sang ayah malah membuat hidup Oei Hui Lan begitu sempit. Ibunya membatasi pergaulannya dengan laki-laki. Banyak pria berdarah bangsawan Eropa tergila-gila dengannya. Tapi ibunya tak ingin punya menantu bule, juga tak mau Oei Hui Lan menikah dengan laki-laki biasa. Ibunya juga memilih meninggalkan ayahnya dan mengajak Oei Hui Lan tinggal di London. Setelah ditinggal, ayahnya malah meninggalkan Jawa dan tinggal di Singapura bersama gundik kesayangannya.
Obsesi ibunya untuk membuat Oei Hui Lan menjadi orang terpandang akhirnya membuatnya harus menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta. Oei Hui Lan dijodohkan dengan Wellington Koo, orang nomor dua di China yang menjadi duta besar Cina untuk Amerika. Pernikahan ini membawa Oei Hui Lan dikenal oleh semua pembesar negara-negara yang menjalin hubungan dengan China. Dia juga ikut berbaur dengan berbagai keluarga presiden, kerajaan, menteri, dan anggota pemerintahan dengan strata atas.
Gaya hidup Oei Hui Lan dan Wellintong bertolak belakang. Oei Hui Lan senang menghabur uang, Wellington sederhana dan bersahaja. Penghasilan Wellington hanya $ 600 dolar perbulan. Sementara Hui Lan bisa menghabiskan 80,000 pound untuk sekali menghias rumah. Tapi Oei Hui Lan tak mengeluh tentang gaji dan gaya hidup suaminya karena dia masih bisa menghabiskan uang ayahnya. Yang dia keluhkan malahan sikap suaminya yang seperti tak memedulikannya. Suaminya begitu dingin dan sibuk dengan urusan negara. Oei Hui Lan akhirnya menghabiskan waktu dengan berpesta dan memelihara banyak anjing sebagai temannya.
![]() |
| Inilah lukisan yang menjadi misteri dan fenomenal. Lukisan misteri yang hingga kini membuat bulu kuduk merinding |
Kepergian Ayah dan Kesendirian
Suatu kali Oei Hui Lan mengunjungi ayahnya di Singapura. Ia sangat kaget melihat pola hidup ayahnya yang telah berubah 180 derajat semenjak menikah lagi dengan gundiknya. Ayahnya yang kaya raya hidup sederhana. Hidup di ruko kecil di daerah kumuh, jauh sekali dari ingatannya tentang istana mereka saat di Indonesia. Walau uangnya masih sangat banyak bahkan terlalu banyak, ternyata ayahnya sudah tak bersemangat lagi terhadap bisnisnya dan memilih hidup damai dan tenang.
Ayahnya meninggal di Singapura karena serangan jantung pada 6 Juni 1924. Inilah awal masa suram bagi Oei Hui Lan. Selama ada ayahnya, hidupnya aman. Bukan hanya dalam hal keuangan, tetapi lebih dari itu. tak ada yang berani berbuat jahat dan mencelakainya. Saat mengiringi jenazah ayahnya untuk dimakamkan di Semarang, Oei Hui Lan tahu bahwa kehidupannya akan sangat berubah.
Walau Oei Hui Lan membagi warisan yang sangat banyak untuknya, tetapi ayahnya membagi hartanya secara tidak merata kepada anak-anak dari gundiknya. Itulah awal kehancuran keluarga Oei Hui Lan.
Di negeri seberang Oei Tiong Ham dikenang dan namanya diabadikan sebagai nama jalan, taman, serta memorial hall, lalu istana Hui Lan menjadi National University of Singapore. Nama besar Oei Tiong Ham begitu dihormati. Ironisnya di Indonesia sendiri jejak si Raja Gula asal Indonesia yang sempat memberi kontribusi bagi negara ini nyaris tanpa jejak, hilang dan dilupakan. Sedikit sekali orang yang mengenalnya.
Oei Hui Lan masih terus berfoya-foya. Perang Dunia Kedua kemudian merenggut seluruh hartanya di China. Ia hanya bisa meratapi semuanya, namun tetap tidak mengubah pola hidupnya yang bak putri di pesta dansa. Menyusul ibunya meninggal dan suaminya yang kemudian menikah dengan wanita lain.
Di masa tuanya, Oei Hui Lan semakin kesepian. Anak-anaknya berpencar mencari kehidupannya sendiri. Oei Hui Lan hanya ditemani anjing-anjingnya. Merasa kesepian di rumah besar dan megah itu, dia pun pindah ke sebuah apartemen kecil di Amerika. Ketika terjadi perampokan di apartemenya itulah Oei Hui Lan kian menyadari kesendiriannya. Bahwa sebanyak apa pun hartanya tak membuatnya menjadi nyaman dan dicintai. Harta tidak bisa membeli cinta dan kebahagiaan.
Oei Hui Lan membuat sebuah buku yang diterbitkan di Amerika, “No Feast Last Forever”, sesuai dengan jalan hidup yang akan ditempuh semua orang. Tidak ada pesta yang tak berakhir. Bahkan pertemuan pun akan mengalami perpisahan. Segala pesta, kehidupan glamor, kemewahan harta, dan segala sesuatu yang menyertainya pada akhirnya akan habis juga. Kebahagiaan yang justru tak lekang oleh waktu justru tidak pernah Ia miliki, dan justru menjadi hal yang paling disesalinya seumur hidupnya.
Oei Hui Lan meninggal dunia di tahun 1992. Tak ada yang tahu persis sejak kapan lukisan dirinya itu terpajang di Hotel Tugu dan siapa pelukisnya. Lukisan muram seorang perempuan kaya raya yang menghabiskan masa tuanya hanya bersama anjing peliharaannya. Ada yang menyebutkan bahwa sorot mata tajam dalam lukisan itu adalah pancaran kekecewaan sekaligus kecemasan sang putri akan orang-orang di sekitarnya.*












from the top of the list of Forbes's richest kings. Wealth king of the longest in the world in the holding power
ReplyDeletetogel sgp