Semua perempuan membutuhkan perhatian dari pasangannya. Mereka berharap pasangan akan melakukannya tanpa diminta. Namun, bukankah tak ada yang sempurna di dunia ini?
Tulisan saya ini sudah ditayangkan di Majalah Puan Pertiwi edisi Okt 2015
Perhatian: Menghindari Plagiarisme, diharap siapa pun yang hendak menggunakan tulisan ini baik sebagian atau keseluruhannya tolong cantumkan sumbernya. JIka ditemukan kasus plagiarisme, saya akan tidak akan segan-segan melaporkannya.
Ketika seorang perempuan merasa sang laki-laki cenderung cuek dan ogah-ogahan mendengarkan apa yang dikatakannya, mungkin saja bukan berarti ia tak menghargai.
Selain munculnya laki-laki yang memberikan rasa nyaman dan hilangnya waktu kebersamaan, membuat perempuan mengalami keterikatan emosional, sehingga membuat perempuan merasa nyaman dan berlindung di balik perselingkuhannya,
Mengenai perempuan berselingkuh ini, artis Aditya Putri mengatakan, “Menurutku wanita bisa selingkuh karena fondasi agama yang kurang kokoh. Karena kalau seorang istri yang paham akan nilai kepatuhan terhadap suami dan janjinya pada Tuhan, dia gak akan mengambil jalan pintas mencari kenyamanan dari selain suami atau keluarganya.”
Pernikahan memang penuh dengan lika-liku. Ketangguhan pasangan suami isteri terhadap komitmen bisa mengalahkan segalanya. Maka ciptakan komunikasi yang baik dengan pasangan agar tak menimbulkan ganjalan.
“Faktor yang mungkin jadi pertimbangan untuk terbersit selingkuh bagi wanita di antaranya kurang diperhatikan dan adanya kendala komunikasi berkepanjangan dengan sang suami. Walaupun begitu, saranku seburuk apa pun situasinya lebih baik diselesaikan hingga tuntas terlebih dahulu ketimbang diselesaikan dengan mencari selingkuhan yang notabene akan menjadi masalah baru dalam rumah tangga,” ujar Aditya Putri lagi.
“Tipsnya selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki. Memang rumput tetangga selalu lebih hijau. Oleh karena itu agar terhindar mari pelihara terus rumput sendiri supaya tetap indah, karena setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing,” tambah Drg. Andi Rahmatika Dewi Ketua DPRD Partai Nasdem Kota Makassar, menyambung pendapatnya pada tulisan saya di judul Hasil Survey: Ternyata Perempaun Banyak yang Selingkuh.
Jika merasa akan meledak dan tak tahan lagi dengan sikap pasangan, coba kenanglah masa pacaran dan jalan panjang yang harus ditempuh untuk dapat bersatu. Seperti yang dikatakan Zoya Dianaesthika Amirin, M.Psi, FIAS, “Kita memang tidak bisa mengontrol pasangan, lebih baik tanamkan kepercayaan pada pasangan. Kelola emosi dengan baik dan belajar mengungkapkan apa yang ada di hati, bukan pikiran. Karena pikiran bisa menghasilkan emosi namun hati bisa lebih menenangkan. Semoga dengan komunikasi yang lebih baik, pasangan dan kitapun bisa lebih harmonis.”
Komunikasi teratur dan tetap menunjukkan rasa sayang adalah salah satu cara memelihara cinta dalam hati masing-masing pasangan. Dengan meninggalkan ego dan menunjukkan kasih maka hubungan akan bisa dipertahankan. Semoga saja rumah tangga masih bisa diselamatkan.*
Untuk melengkapi artikel ini, rekan saya, Mas Ade, berhasil menghubungi salah seorang penasihat perkawinan. Ini yang dikatakan Erna Marina Kusuma M.Psi. C.Ft. (Australian Psychology Society Membership):
Laki-laki Tidak Secara Verbal
Jika kita lihat perbedaan dasar hubungan laki-laki dan perempuan dalam hal kebutuhan, laki-laki pada dasarnya butuh dihormati sedangkan perempuan butuh dimengerti. Saat pacaran, laki-laki seringkali sukarela meluangkan waktu untuk mendengarkan dan bercerita banyak hal, karena masih dalam masa penjajakan. Namun di saat laki-laki sudah mulai mengenal lebih dalam, umumnya mereka akan mengurangi sharing secara verbal. Setelah menikah, laki-laki kembali ke habitat asalnya yaitu tidak kontak secara verbal. Bagi laki-laki bicara hanya diperlukan untuk bicara hal yang penting saja. Akibatnya perempuan sering kesepian karena kurangnya waktu untuk mengobrol. Perlu kita ingat perempuan membutuhkan tempat untuk berbicara dan didengarkan.
Ketika komunikasi yang terjadi frekuensinya berkurang, maka perempuan akan merasa tidak dimengerti lagi. Hal ini memicu wanita untuk mencari teman bicara yang dapat membuatnya merasa nyaman dan di mengerti. Teman bicara dapat berupa anggota keluarga, pembantu, anak, saudara, sahabat, dan teman. Jika perempuan tidak dapat menemukan teman yang tepat untuk sharing, maka kemungkinan perselingkuhan bisa terjadi. Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah perlunya komunikasi yang terbuka antara suami istri. Di samping itu, adanya hobby atau kegiatan positif lainnya dapat membantu perempuan menghabiskan waktunya dengan gembira tanpa adanya perasaan kesepian.
Tulisan saya ini sudah ditayangkan di Majalah Puan Pertiwi edisi Okt 2015
Perhatian: Menghindari Plagiarisme, diharap siapa pun yang hendak menggunakan tulisan ini baik sebagian atau keseluruhannya tolong cantumkan sumbernya. JIka ditemukan kasus plagiarisme, saya akan tidak akan segan-segan melaporkannya.

Comments
Post a Comment