Gadis cantik penghuni Sungai Rhine itu kerap menampakkan diri di senja hari saat sinar matahari mulai kemerahan. Dia duduk di tebing batu sambil menyisir rambutnya dan menyanyikan lagu sedih. Kehadirannya kerap membuat kapal yang melintas mengalami kecelakaan.
Sungai Rhein Sumber Google
|
Sungai Rhine adalah salah satu sungai terbesar di Jerman. Membentang dari Jeman Barat dan bermuara di laut utara. Melintasi Kota Koblenz dan Bingen. Di lekukan sungai, terdapat tebing batu yang tinggi dan curam. Dari tebing batu itu kerap terdengar suara-suara seperti alunan musik atau nyanyian. Itu sebabnya penduduk setempat menyebut tebing batu itu sebagai Lorelei, berasal dari kata lureln yang artinya bergumam dan Lei yang artinya batu. Batu bergumam atau batu bernyanyi.
Ini adalah sebuah legenda masyarakat di Jerman. Legenda ini sangat terkenal. Mungkin Anda pernah mendengarnya? Legenda ini ada beberapa versi. Saya mengambil versi yang lebih banyak dikenal orang
Putri yang Menunggu Kekasih
Alkisah, di masa lalu ada seorang gadis bernama Lorelei. Gadis rupawan itu terjun dari atas tebing batu ke sungai yang dangkal. Kemudian arwahnya selalu duduk di atas tebing tersebut hingga saat ini. Dia kerap muncul sembari menyisir rambut emasnya yang panjang dan bernyanyi. Paras cantik dan nyanyiannya itu membuat buyar konsentrasi nahkota kapal. Mereka terbuai hingga menyebabkan kapalnya karam. Begitulah kisah yang berkembang tentang tebing batu dan nyanyian di sungai Rhine.
Kisah Lorelei terdapat pada sajak Clemens Brentano yang ditulis pada tahun 1801. Dalam baladanya Brentano menceritakan Loreley jatuh cinta pada seorang pastor. Pastor tersebut membawanya ke biara, namun karena tahu bahwa cintanya tak bisa menjadi kenyataan, Loreley memutuskan untuk terjun dari tebing. Heinrich Heine kemudian me-recycle cerita tersebut pada puisinya yang berjudul Die Lorelei tahun 1824. Heine menceritakan seorang gadis yang duduk di atas tebing, bernyanyi sambil menyisir rambutnya. Lagu dan paras cantiknya membunuh para pelaut yang tengah mengarungi sungai.
Legenda Putri Duyung
Kata Lorelei juga berarti duyung atau putri duyung. Suara-suara yang terdengar di tebing batu tersebut dikait-kaitkan dengan mitos putri duyung yang mendiami sungai Rhine. Lorelei dianggap suka menyesatkan para pelayar yang melintasi sungai Rhine.
Alkisah ada seorang peri cantik berambut pirang yang terbang melintasi sungai Rhine. Ia adalah seorang peri air, beberapa versi lain menyebutnya seorang makhluk penjaga sungai Rhine. Dia memutuskan mendarat di atas tebing batu di dilekukan sungai Rhine saat melihat seorang laki-laki tampan sedang berusaha memperbaiki kapal nelayan yang rusak. Peri cantik itu menampakkan diri dan menolong pemuda tersebut memperbaiki kapal. Keduanya pun jatuh cinta. si pemuda adalah pengantar barang dagangan yang melintas sungai Rhine hampir setiap hari. Mereka pun berjanji bertemu lagi setelah si pemuda selesai bekerja, yaitu sore hari di tempat tersebut.
Selanjutnya mereka selalu bertemu di atas tebing. Peri cantik pandai menyanyi dan sang pemuda mengiringinya dengan harpa. Mereka terlihat bahagia. Namun, percintaan mereka akhirnya diketahui oleh raja peri. Peri cantik dilarang berhubungan dengan manusia, apa lagi mencintai manusia. Raja peri menghukumnya dengan memenjaranya.
Si pemuda terus menunggu peri. Setiap sore dia menanti dengan setia. Setiap kali pula dia pulang dengan kecewa. Terus begitu hingga sekian waktu. Ketika penantiannya sia-sia, si pemuda mulai kecewa. Suatu hari dengan rasa tidak sabar dia pandangi ujung tebing tersebut, dimana dia selalu melihat kekasihnya duduk menanti kedatangannya sambil bernyanyi. Dia terus memanjat tebing yang terjal dan curam. Namun kakinya terpeleset. Sekuat tenaga ia berpeganngan pada batu-batuan tebing, tetapi tak berhasil. Pegangannya terlepas, jatuh terbentur dinding tebing dan akhirnya jatuh ke sungai.
Sementara itu, peri cantik memohon kepada raja peri untuk membebaskannya. Tak tahan dengan rengekan si peri, raja peri mengambulkan keinginannya dengan satu syarat. Peri cantik tak lagi diperbolehkan masuk istana. Dia diusir dan tak lagi dianggap sebagai seorang peri. Peri cantik tak memerdulikan perkataan sang raja, ia pergi dengan hati gembira. Si peri menunggu di tebing batu. Ia menunggu dan menunggu, tetapi kekasinya tak kunjung datang. Suatu hari ada rombongan kapal yang melintas di sungai Rhine, tepat di bawah tebing. Peri cantik mencuri dengar pembicaraan manusia yang ada di dalam kapal. Dia terkejut mendengar bahwa kekasihnya telah mati karena jatuh saat memanjat tebig. Peri cantik pun menangis, ia sedih karena kehilangan kekasihnya. Ia kembali duduk di ujung tebing, menyanyikan lagu pilu dan menangisi kekasihnya.
Sejak saat itu, setiap senja hari ia tetap duduk diujung tebing sambil menyanyi dan menyisir rambutnya yang panjang dan pirang. Ia menyanyi seolah menuggu kedatangan kekasihnya. Nyanyiannya menarik hati laki-laki yang melintas di sungai Rhine. Mereka terpikat oleh keindahan suara dan kecantikan wajahnya. Mereka tanpa sadar memanjat tebing untuk menemui si peri. Namun saat mereka hampir mencapai ujung tebing, peri catik menghilang. Dan setiap laki-laki yang menjat tebing pasti jatuh dan mati, sama seperti kekasihnya. Nyanyiannya juga memikat seluruh awak kapal dan akhirnya membuat kapal tersebut kecelakaan atau tenggelam.
Sejak saat ini, tidak ada kapal atau pemuda yang berani melintas di sungai Rhine saat senja hari. Telah banyak dilaporkan orang hilang dan kecelakaan tepat di bawah tebing sungai Rhine.
Perangkap di bawah Sungai dan Legenda
Sebenarnya, di tengah sungai tersebut terdapat gundukan pasir yang membelah aliran sungai menjadi dua. Di sebelah kiri arusnya mengalir deras, sementara yang kanan lebih tenang. Setelah melewati gundukan pasir, dua arus tadi bertemu kembali dengan kecepatan yang berbeda dan menghasilkan pusaran. Banyak nakhoda yang tengah terpana dengan si peri cantik itu tak sadar masuk “perangkap” tersebut. Sejarah mencatat, sejumlah kapal pernah karam di tempat tersebut. Kawasan itu kemudian dinamai Lorelei yang artinya batu dengan arus yang deras. Legenda itu dituliskan dalam serangkaian puisi oleh sastrawan Jerman, Heinrich Heine (1824). Untuk mencegah berulangnya kecelakaan tersebut, pemerintah Jerman membangun rambu-rambu untuk mengingatkan kapal-kapal yang akan melintas di wilayah tersebut.*
Comments
Post a Comment