Hasil Survey: Ternyata Perempuan Lebih Banyak Berselingkuh

Ternyata tak hanya laki-laki yang selingkuh. Perempuan juga... Mirisnya, hubungan perselingkuhan yang terjadi pada perempuan akan sangat berisiko. Karena perempuan kebanyakan bermain dengan hati.





Bukan gegabah saya menulis artikel ini, tulisan yang telah dimuat di Majalah Puan Pertiwi edisi  Oktober 2015. Berdasar hasil investigasi dan terjun langsung ke lapangan inilah fakta yang saya temukan. Ketika itu saya membaca sebuah survey yang dilakukan di Inggris yang menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan. Dari 3000 responden, terungkap bahwa lebih banyak responden perempuan yang mengaku pernah berselingkuh dibandingkan dengan pria. Benarkah?



Penelitian yang dilakukan di penghujung tahun 2014 itu menunjukkan kenaikan dibandingkan dengan penelitian pada tahun 2013. Jika pada tahun 2013 menunjukkan ada 81 % laki-laki dan sisanya perempuan yang mencari pasangan di luar pernikahan, maka pada tahun 2014, jumlah responden perempuan yang selingkuh menjadi 77%. 


Mengapa ini bisa terjadi? Lalu bagaimana dengan di Indonesia sendiri? Saya pun mencoba mencari tahu tentang hal ini.



Hilangnya Waktu Kebersamaan


Dalam survey itu terdata kelompok usia perempuan 35-40 tahun adalah kelompok umur yang paling mungkin berselingkuh. Salah satu alasan yang diungkapkan adalah karena mereka merasa sudah tidak dihargai lagi. Termasuk di dalamnya pertengkaran-pertengkaran yang menyakiti secara fisik dan psikis. 

Para responden mengaku mereka senang ketika menemukan teman yang bisa mendengar curhatan mereka. Namun, semakin sering bertemu dan bergaul dengan bukan pasangannya lama-kelamaan akan menimbulkan perasaan di hati. Suka karena terbiasa. Terlebih dengan keadaan di dalam rumah yang sudah tak nyaman lagi. 




Para pakar psikologi di Inggris yang disodori hasil survey itu mengatakan bahwa kebanyakan alasan utama seorang perempuan berselingkuh karena menemukan kenyamanan dari pihak ketiga. Ketika dia menemukan seseorang yang begitu menghargai dan memujanya, maka dia seperti menemukan tempat yang tepat untuk ‘bersandar’. Perasaan diterima apa adanya dan perasaan bahagia itulah yang akhirnya menimbulkan keterikatan emosional. Sekalipun di satu sisi seorang perempuan belum meninggalkan pasangannya, tetapi dia sudah memberikan 'separuh hati'-nya pada laki-laki lain. Dan bahayanya, hal itu ia lakukan dengan serius. Hal ini berbeda dengan laki-laki yang berselingkuh karena alasan fisik. 

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Walau belum ada data tentang hal ini, tetapi beberapa responden usia 28 – 30 tahun yang saya (tim Puan Pertiwi Majalah) mintai pendapatnya kebanyakan menyatakan bahwa perempuan membutuhkan rasa nyaman dan aman dari pasangannya. Jika itu hilang maka perempuan akan mudah dekat dengan seseorang yang bisa memberi kedua hal itu. 

“Sehari-hari tak dipedulikan, sibuk dengan kerjaannya sendiri, tiba di rumah hanya negur seadanya lalu langsung tidur. Besoknya bangun, berangkat lagi. Saya pernah berpikir ini saya penjaga rumah atau istrinya,” ujar Ratna (30), seorang pengajar part time di sebuah sekolah swasta di Jakarta. Ratna mengatakan adanya fasilitas antar jemput yang membawanya ke tempatnya mengajar membuat suaminya tak pernah mengantarnya. Itu membuat komunikasi antar mereka semakin berkurang. “Saya tidak berpikir selingkuh, amit-amit. Namun hal ini bisa menyebabkan keringnya komunikasi dan hilangnya kedekatan. Bukan tidak mungkin ada perempuan-perempuan yang merasa lebih dekat dengan teman sekerjanya.”

Kurangnya waktu bersama dan kesibukan yang tak dikendalikan bisa menyebabkan istri mencari perhatian lebih dari pria lain. “Jika itu terus-terusan terjadi, bisa membuat kedekatan emosional yang dapat merusak keharmonisan rumah tangga,” demikian uraian Drg. Andi Rahmatika Dewi Ketua DPRD Partai Nasdem Kota Makassar saat rekan saya mencoba menghubunginya lewat telepon.

Seperti kisah Wulan (29), karyawan swasta di Bandung ini mengaku berselingkuh karena suaminya tak pernah menganggapnya ada. “Suami kalau pulang kerja tidak langsung pulang. Dia pasti nongkrong dulu sama teman-temannya, entah ngopi, entah main bilyar, sampai larut malam. Kalau akhir pekan, pergi mancing seharian sama teman-temannya. Dia tidak pernah bertanya saya ada di mana atau sudah pulang belum. Saya sendirian terus di rumah. Kalau saya meneleponnya dia pasti menjawab tidur aja duluan saya masih sama teman-teman. Saya kesepian. Jadi saya ikutan hang out sama-teman-teman setelah pulang kantor. Di antara teman-teman itu ada yang sangat perhatian sama saya. Akhirnya kami dekat.” Wulan menjalani hubungan itu dengan santai. Dia dan ‘si pria lain’ ini sama-sama tau keadaan masing-masing yang sudah berumah tangga. “Saling memberi perhatian tanpa merusak rumah tangga masing-masing. Itu menjadi penguat saya. Hidup saya menjadi berwarna. Saya merasa damai dan dicintai.” 

Zoya Dianaesthika Amirin, M.Psi, FIAS, yang saya temui mengatakan jarang sekali perempuan berselingkuh karena seks. “Mungkin karena orang yang disukainya memiliki sikap yang romantis, perhatian, baik, dan lain-lain. Sedangkan laki-laki bisa lebih cepat berselingkuh ketika si pasangannya kurang memuaskan hasratnya secara seksual.” Menurut Zoya juga, baik laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki kecendrungan yang sama untuk melakukan perselingkuhan.

Lalu hal apalagi yang membuat perempuan berselingkuh? 




Perhatian: Menghindari Plagiarisme, diharap siapa pun yang hendak menggunakan tulisan ini baik sebagian atau keseluruhannya tolong cantumkan sumbernya. JIka ditemukan kasus plagiarisme, saya akan tidak akan segan-segan melaporkannya.