Kisah Sejati: Kristie Mills Tancock

Cinta Membuatku Hidup Lebih Lama

Meski dokter memvonis usiaku tak akan lama, aku tetap menginginkan pernikahanku dilaksanakan. Meski harus sekarat di hari sakral yang paling kutunggu, aku bahagia bisa berdampingan dengan laki-laki yang paling kucintai. Dan cinta ternyata begitu ajaib...  

          Aku tumbuh sebagai gadis cantik yang periang dan energik dari Devon, Inggris. Beberapa jenis olah raga sangat aku kuasai dan aku juga mengajar menari untuk beberapa anak gadis. Sekilas nampaknya aku seperti gadis-gadis lain yang sempurna, sehat dan ceria. Namun sebenarnya aku adalah perempuan dengan kelainan paru-paru yang setiap saat bisa merenggut nyawaku.



Kelainan Sejak Lahir
Aku terlahir dengan penyakit genetik cystic fibrosis, sebuah penyakit paru-paru kronis yang berakibat fatal. Penyakit itu mempengaruhi organ-organ internal dan terutama paru-paru dan sistem pencernaan yang bisa tersumbat dengan lendir sehingga sulit untuk bernapas dan mencerna makanan. Kelainan yang kumiliki sejak lahir itu ditandai dengan cairan tubuh yang kental dan lengket, terutama di pankreas dan paru-paru. Itu sangat menyiksa terutama karena aku tak bisa melakukan aktiivitas seperti anak-anak lainnya. Aku menghabiskan hidupku dengan menjalaninya seolah-olah setiap hari adalah hari terakhirku. Di musim panas tahun 2011, saat usiaku menginjak 21, dokter memvonis bahwa umurku tak akan bertahan hingga enam bulan ke depan kecuali jika aku segera melakukan pencangkokan paru-paru.
Aku pun mendaftar untuk transplantasi. Namun, aku sadar mencari donor paru-paru tak mudah. Jadi, aku pasrah ketika vonis dokter itu kudengar. Namun, di usiaku yang menginjak dewasa aku ingin merasakan menjadi pengantin. Maka vonis kematian itu kusambut dengan sebuah permintaan; aku ingin menikah. Mungkin dalam hidupku aku  bisa merasakan sebagai perempuan paling berbahagia dengan mengenakan baju pentantin impianku.
Stuart, kekasih yang selama ini mendampingi dan menjadi motivatorku ternyata memenuhi permintaanku. Dia melamarku. Aku bahagia sekali. Keluarga dan tim dokter tak bisa lagi menghalangi rencana itu. Mereka mendukung dan bersiaga sewaktu-waktu aku mengalami drop.



Laki-laki Yang Setia Untukku
Kisah tentang sakitku dan rencana pernikahanku terdengar oleh stasiun televisi TLC. Mereka menanyangkan persiapan pernikahan dalam judul 'Breathless Bride: Dying to Live'. Sementara itu aku tengah berjuang mempertahakan hidupku sambil menunggu pendonor paru-paru yang cocok.
Semakin hari kondisiku kian buruk. Aku hampir tak bisa mempersiapkan pernikahanku, tetapi aku merasa harus melakukan itu sebab ini adalah kesibukan satu kali dalam hidupku. Malam hari aku harus menggunakan masker agar oksigen bisa disalurkan ke paru-paruku saat aku tertidur. Di saat lemah seperti itu harapan hidup begitu tipis. Aku tidak yakin bisa bertahan. Namun, Stuart terus menyemangati. Stuart seolah tak melihat sakitku. Dia menganggap aku baik-baik saja sehingga aku pun harus merasa baik-baik saja. Aku beruntung memiliki seseorang seperti dirinya yang sabar dan penuh pengertian dan merelakan waktunya untuk terus berada di sampingku yang sakit, berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
"Kita tidak pernah tahu dengan siapa kita akan jatuh cinta," itu adalah kalimat yang keluar dari mulut Stuart ketika seseorang menanyakan mengapa dia begitu setia mendampingi aku yang sakit. Stuart juga pernah bilang, bahwa melihat aku menderita sudah pasti membuatnya sangat sedih.
  

Pernikahan di Tengah Suasana Kritis
Dua hari menjelang pernikahan, aku drop. Keluarga melarikan aku ke rumah sakit. Dokter mengatakan hanya keajaban yang bisa menolongku. Aku stress luar biasa. Terngiang terus bahwa hidupku hanya beberapa jam lagi. Kesakitan luar biasa dengan dada yang sesak membuatku menyerah. Pernah aku meminta keluargaku untuk mencabut selang oksigen dan membiarkan aku pergi. Tetapi remasan tangan Stuart lagi-lagi membuatku sadar bahwa aku tak boleh menyerah. Masih banyak yang harus aku lalui. Stuart akan sangat sedih bila aku mati, maka aku tak boleh mati. Stuart adalah laki-laki yang luar biasa, sampai-sampai dia tidak berpikir bila saja aku meninggal sesaat setelah dia menikahiku. Maka aku tak boleh membuatnya berduka. Aku harus kuat.
Di masa-masa kritis itu dokter menyarankan agar Stuart dan aku menggelar pernikahan di rumah sakit. Namun aku menolak. Aku ingin pernikahan yang normal seperti layaknya orang lain walau sangat sederhana. Mereka pun berusaha mewujudkan impian terakhirku.  Keluarga mendorong kursiku ke tempat pernikahan yang terdekat dengan rumah sakit. Dalam suasana yang sangat sederhana, aku dan Stuart mengucapkan janji suci dengan gaun pengantin yang sangat aku sukai. Ketika pernikahan digelar, tiga perawat pun mendampingi untuk berjaga-jaga terjadi sesuatu hal yang gawat. Setelah menikah, aku dikembalikan ke rumah sakit. Para perawat mengatakan aku akan meninggal, tetapi aku bahagia telah menikah.
 

Cangkok Paru-paru
Cangkok paru-paru merupakan salah satu cara agar penderita cystic fibrosis bertahan hidup. Menurut data CF Patient Registry, hampir 1.600 penderita penyakit tersebut mendapatkan cangkok paru-paru sejak 1991. Sekitar 90% penderita bisa hidup setahun setelah pencangkokan dan setengahnya tetap bertahan hingga lima tahun kemudian.
Meski belum mendapat cangkok paru-paru, aku tetap bertahan. Kujalani hari-hari setelah pernikahan walau harus terbaring di rumah sakit.
Delapan hari setelah menikah aku mendapat kabar bahwa ada paru-paru yang bisa dicangkokkan. Namun ketika aku dan Stuart berada di rumah sakit, dokter baru mengetahui kalau organ itu terlalu besar untuk tubuhku. Aku seperti terlempar pada kenyataan. Lagi-lagi dokter mengatakan, hanya keajaiban yang bisa membuat aku tetap bertahan.
Akhirnya keajaiban itu benar-benar terjadi. Dua minggu setelah peristiwa gagalnya pencangkokan, aku mendapat kabar ada paru-paru lain yang cocok untukku. Aku bahagia sekali.
Operasi dilakukan selama empat jam. Yang paling berat adalah ketika aku harus melalui masa pemulihan. Aku tidak pernah membayangkan rasanya akan sesakit itu. Aku bahkan berhalusinasi dan merasa sangat tersiksa setelah menjalani transplantasi. Di tengah rasa sakit itu aku berterima kasih kepada pendonor dan keluarganya. Entah bagaimana perasaanku yang campur baur. Haru, sedih, bahagia. Mereka sangat mulia mendonorkan paru-parunya.


Aku hidup Lebih Lama dan Lebih Sehat
Tiga tahun sudah masa-asa sulit itu aku lalui. Kini aku kembali sehat dengan paru-paru ini. Hari-hariku di Devon bersama Stuart begitu luar biasa. Kami melakukan banyak hal- bersama-sama termasuk merayakan hari pernikahan dan kembali menekuni olah raga yang kami sukai. Kami pergi menonton bahkan panjat tebing. Walau aku harus tetap menjalani pengobatan dan antibiotik sepanjang hidupku, aku mencoba menjadi istri yang baik. Mengenai mempunyai anak, aku rasa itu adalah hal yang sulit. Aku tidak mempunyai harapan hidup yang normal, jadi aku tidak mau punya anak. Aku tahu aku pasti akan meninggalkannya sewaktu-waktu dan aku akan sangat sakit. Lalu Stuart harus mengurus anakku dan aku. Lagi pula, melahirkan setelah ransplantasi itu sangat berbahaya ditambah kemungkinan menurunkan penyakit cystic fibrosis ke anaknya. Aku dan Stuart akan menjadi orangtua asuh suatu saat nanti. Pada saat ini adalah bagaimana kehidupan pernikahan kami. Aku juga bergabung sebagai sukarelawan dalam organisasi cystic fibrosis dan pencangkokak organ, membantu mencarikan donor baru, dan meningkatkan kesadaran tentang penyakit cystic fibrosis kepada masyarakat. (dikisahkan kembali oleh Erin)


Comments