Cinta Membuatku Hidup Lebih Lama
Meski dokter
memvonis usiaku tak akan lama, aku tetap menginginkan pernikahanku
dilaksanakan. Meski harus sekarat di hari sakral yang paling kutunggu, aku
bahagia bisa berdampingan dengan laki-laki yang paling kucintai. Dan cinta
ternyata begitu ajaib...
Aku tumbuh sebagai gadis
cantik yang periang dan energik dari Devon, Inggris. Beberapa jenis olah raga
sangat aku kuasai dan aku juga mengajar menari untuk beberapa anak gadis.
Sekilas nampaknya aku seperti gadis-gadis lain yang sempurna, sehat dan ceria. Namun
sebenarnya aku adalah perempuan dengan kelainan paru-paru yang setiap saat bisa
merenggut nyawaku.
Kelainan Sejak Lahir
Aku terlahir
dengan penyakit genetik cystic fibrosis, sebuah penyakit paru-paru kronis
yang berakibat fatal. Penyakit itu mempengaruhi
organ-organ internal dan terutama paru-paru dan sistem pencernaan yang bisa
tersumbat dengan lendir sehingga sulit untuk bernapas dan mencerna makanan. Kelainan yang kumiliki sejak lahir itu ditandai dengan cairan tubuh
yang kental dan lengket, terutama di pankreas dan paru-paru. Itu sangat
menyiksa terutama karena aku tak bisa melakukan aktiivitas seperti anak-anak
lainnya. Aku menghabiskan hidupku dengan menjalaninya seolah-olah setiap hari
adalah hari terakhirku. Di musim panas tahun 2011, saat usiaku menginjak 21, dokter
memvonis bahwa umurku tak akan bertahan hingga enam bulan ke depan kecuali jika
aku segera melakukan pencangkokan paru-paru.
Aku pun mendaftar
untuk transplantasi. Namun, aku sadar mencari donor paru-paru
tak mudah. Jadi, aku pasrah ketika vonis dokter itu kudengar. Namun, di usiaku
yang menginjak dewasa aku ingin merasakan menjadi pengantin. Maka vonis
kematian itu kusambut dengan sebuah permintaan; aku ingin menikah. Mungkin
dalam hidupku aku bisa merasakan sebagai
perempuan paling berbahagia dengan mengenakan baju pentantin impianku.
Stuart, kekasih yang
selama ini mendampingi dan menjadi motivatorku ternyata memenuhi permintaanku.
Dia melamarku. Aku bahagia sekali. Keluarga dan tim dokter tak bisa lagi
menghalangi rencana itu. Mereka mendukung dan bersiaga sewaktu-waktu aku
mengalami drop.
Laki-laki Yang Setia Untukku
Kisah tentang
sakitku dan rencana pernikahanku terdengar oleh stasiun televisi TLC. Mereka
menanyangkan persiapan pernikahan dalam judul 'Breathless Bride: Dying to
Live'. Sementara itu aku tengah berjuang mempertahakan hidupku sambil menunggu
pendonor paru-paru yang cocok.
Semakin hari
kondisiku kian buruk. Aku hampir tak bisa mempersiapkan pernikahanku, tetapi
aku merasa harus melakukan itu sebab ini adalah kesibukan satu kali dalam
hidupku. Malam hari aku harus menggunakan masker agar oksigen bisa disalurkan
ke paru-paruku saat aku tertidur. Di saat lemah seperti itu harapan hidup begitu
tipis. Aku tidak yakin bisa bertahan. Namun, Stuart terus menyemangati. Stuart
seolah tak melihat sakitku. Dia menganggap aku baik-baik saja sehingga aku pun
harus merasa baik-baik saja. Aku beruntung memiliki seseorang seperti dirinya
yang sabar dan penuh pengertian dan merelakan waktunya untuk terus berada di
sampingku yang sakit, berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
"Kita tidak
pernah tahu dengan siapa kita akan jatuh cinta," itu adalah kalimat yang
keluar dari mulut Stuart ketika seseorang menanyakan mengapa dia begitu setia
mendampingi aku yang sakit. Stuart juga pernah bilang, bahwa melihat aku menderita
sudah pasti membuatnya sangat sedih.
Pernikahan di Tengah Suasana Kritis
Dua hari menjelang
pernikahan, aku drop. Keluarga melarikan aku ke rumah sakit. Dokter mengatakan hanya
keajaban yang bisa menolongku. Aku stress luar biasa. Terngiang terus bahwa
hidupku hanya beberapa jam lagi. Kesakitan luar biasa dengan dada yang sesak
membuatku menyerah. Pernah aku meminta keluargaku untuk mencabut selang oksigen
dan membiarkan aku pergi. Tetapi remasan tangan Stuart lagi-lagi membuatku
sadar bahwa aku tak boleh menyerah. Masih banyak yang harus aku lalui. Stuart
akan sangat sedih bila aku mati, maka aku tak boleh mati. Stuart adalah
laki-laki yang luar biasa, sampai-sampai dia tidak berpikir bila saja aku
meninggal sesaat setelah dia menikahiku. Maka aku tak boleh membuatnya berduka.
Aku harus kuat.
Di masa-masa
kritis itu dokter menyarankan agar Stuart dan aku menggelar pernikahan di rumah
sakit. Namun aku menolak. Aku ingin pernikahan yang normal seperti layaknya
orang lain walau sangat sederhana. Mereka pun berusaha mewujudkan impian
terakhirku. Keluarga mendorong kursiku
ke tempat pernikahan yang terdekat dengan rumah sakit. Dalam suasana yang
sangat sederhana, aku dan Stuart mengucapkan janji suci dengan gaun pengantin
yang sangat aku sukai. Ketika pernikahan digelar, tiga perawat pun mendampingi
untuk berjaga-jaga terjadi sesuatu hal yang gawat. Setelah menikah, aku dikembalikan
ke rumah sakit. Para perawat mengatakan aku akan meninggal, tetapi aku bahagia
telah menikah.
Cangkok Paru-paru
Cangkok
paru-paru merupakan salah satu cara agar penderita cystic fibrosis bertahan
hidup. Menurut data CF Patient Registry, hampir 1.600 penderita penyakit
tersebut mendapatkan cangkok paru-paru sejak 1991. Sekitar 90% penderita bisa
hidup setahun setelah pencangkokan dan setengahnya tetap bertahan hingga lima
tahun kemudian.
Meski belum
mendapat cangkok paru-paru, aku tetap bertahan. Kujalani hari-hari setelah
pernikahan walau harus terbaring di rumah sakit.
Delapan hari
setelah menikah aku mendapat kabar bahwa ada paru-paru yang bisa dicangkokkan. Namun
ketika aku dan Stuart berada di rumah sakit, dokter baru mengetahui kalau organ
itu terlalu besar untuk tubuhku. Aku seperti terlempar pada kenyataan. Lagi-lagi
dokter mengatakan, hanya keajaiban yang bisa membuat aku tetap bertahan.
Akhirnya keajaiban
itu benar-benar terjadi. Dua minggu setelah peristiwa gagalnya pencangkokan, aku
mendapat kabar ada paru-paru lain yang cocok untukku. Aku bahagia sekali.
Operasi dilakukan selama empat jam. Yang paling berat
adalah ketika aku harus melalui masa pemulihan. Aku tidak pernah membayangkan
rasanya akan sesakit itu. Aku bahkan berhalusinasi dan merasa sangat tersiksa
setelah menjalani transplantasi. Di tengah rasa sakit itu aku berterima kasih
kepada pendonor dan keluarganya. Entah bagaimana perasaanku yang campur baur.
Haru, sedih, bahagia. Mereka sangat mulia mendonorkan paru-parunya.
Aku hidup Lebih Lama dan Lebih Sehat
Tiga tahun sudah
masa-asa sulit itu aku lalui. Kini aku kembali sehat dengan paru-paru ini. Hari-hariku
di Devon bersama Stuart begitu luar biasa. Kami melakukan banyak hal-
bersama-sama termasuk merayakan hari pernikahan dan kembali menekuni olah raga
yang kami sukai. Kami pergi menonton bahkan panjat tebing. Walau aku harus
tetap menjalani pengobatan dan antibiotik sepanjang hidupku, aku mencoba
menjadi istri yang baik. Mengenai mempunyai anak, aku rasa itu adalah hal yang
sulit. Aku tidak mempunyai harapan hidup yang normal, jadi aku tidak mau punya
anak. Aku tahu aku pasti akan meninggalkannya sewaktu-waktu dan aku akan sangat
sakit. Lalu Stuart harus mengurus anakku dan aku. Lagi pula, melahirkan setelah
ransplantasi itu sangat berbahaya ditambah kemungkinan menurunkan penyakit
cystic fibrosis ke anaknya. Aku dan Stuart akan menjadi orangtua asuh suatu
saat nanti. Pada saat ini adalah bagaimana kehidupan pernikahan kami. Aku juga bergabung sebagai sukarelawan dalam organisasi cystic fibrosis
dan pencangkokak organ, membantu mencarikan donor baru, dan meningkatkan kesadaran tentang
penyakit cystic fibrosis kepada masyarakat. (dikisahkan kembali oleh Erin)






Comments
Post a Comment