Sekelompok laki-laki yang hidup di Gurun Sahara kawasan Nigeria, Afrika Barat, berdiri berjajar sambil menari menirukan gerakan burung bangau. Mereka bersiap merayakan Festival Gerewol, sebuah perayaan untuk memikat hati perempuan
Itu adalah tarian burung bangau, unggas yang menurut suku Wodaabe, adalah lambang karisma dan keagungan. Para lelaki itu semuanya mengenakan make up dari tanah liat berwarna mencolok, dengan rata-rata kombinasi warna merah, kuning, dan putih. Make up nya sangat tebal seolah menutupi wajah asli mereka. Mirip seperti menggunakan topeng.
Mereka juga menggunakan gincu yang tebal dan merias gigi mereka hingga nampak putih benderang. Atribut lain yang digunakan pada festival ini adalah aksesoris yang terbuat dari manik-manik. Busananya setengah terbuka, alias banyak bagian yang tidak tertutup, dengan warna terang yang ontrak dengan warna kulit mereka yang hitam. Warna-warna terang itu merupakan warna simbolis. Seperti warna merah kekuningan di wajah dikaitkan dengan darah dan kekerasan, hanya bisa dipakai untuk acara tertentu. Sedangkan tanah liat kuning yang digunakan sebagai makeup wajah, merupakan warna sihir dan menyimbolkan perubahan. Sementara warna hitam yang dipakai untuk menggelapkan bibir dan mempertegaskan mata adalah warna favorit suku Wodaabe, terutama karena sangat bertentangan dengan warna putih, yang mereka anggap sebagai warna simbol kehilangan dan kematian.
Mereka terus menari, tak peduli hingga berjam-jam demi untuk menarik perhatian perempuan-perempuan dan dewan juri yang semuanya adalah perempuan.
Tradisi ini sebenarnya adalah festival ketampanan (Gerewol) untuk menghormati kesuburan dan air di wilayah pinggiran Sahara Afrika yang kering. Lalu mengapa akhirnya menjadi festival mencuri istri orang?
Next:

Comments
Post a Comment