Mualaf Pertama yang Menorehkan Sejarah Islam di Negeri Kerajaan

Kehadiran muslim di Inggris sudah berlangsung selama tiga abad. Bahkan mualaf pertama adalah seorang Yahudi yang kemudian membangun masjid pertama di Inggris dan mengislamkan banyak orang. Kini, Islam menjadi agama terbesar kedua di negeri kerajaan itu




Saya tertarik untuk menuliskan kisah keberadaan Islam di negeri Ratu Elizabeth. Bukan semata karena tugas di majalah tempat saya bekerja, tetapi karena menurut saya Inggris memiliki nuansa religi yang syahdu. Syahdu? Ya, saya membayangkan negeri kerajaan dengan gedung-gedung indah di mana Sang Ratu berkuasa ternyata memiliki riwayat Islam yang menarik. 

Keberadaan Muslim di negeri kerajaan itu berhubungan dengan East India Company yang dikenal sebagai laskar dari India. Setelah dibukanya terusan Suez tahun 1869, arus imigran pun meningkat dan jumlah kaum Muslim di Inggris semakin banyak. Para imigran itu membentuk komunitas-komunitas kecil dan pemukiman di kota pelabuhan; cardiff, South Shields, Liverpool, dan juga London. Keberadaan kaum Muslim inilah yang akhirnya mendorong mereka untuk mendirikan bangunan sebagai tempat ibadah mereka. 

Lalu siapakah orang yang menyebarkan Islam di negeri ini? 

Tulisan ini adalah hasil rangkuman dari berbagai bacaan yang saya temui. Untuk pic-nya saya ambil dari google. 


Mualaf Pertama
Komunitas muslim di negara itu memiliki akar budaya yang berbeda satu sama lain. Imigran pertama yang datang ke Inggris adalah orang Yaman dari Aden (Menurut M. Ali Kettani, dalam bukunya "Minoritas Muslim di Dunia Dewasa Ini". Mereka berkelompok dan menghimpun diri di Cardif dan di situ membangun salah satu masjid pertama di Inggris tahun 1870. Sebelum pergantian abad, datang kelompok muslim lain dari India dan menetap di dekat London. Di sana mereka membangun masjid Shah Jehan di Woking. 

Pada pertengahan abad ke-19, seorang tokoh kenamaan Inggris mencoba memahami Islam. Dia menemukan kedamaian di dalamnya dan akhirnya menjadi mualaf. Laki-laki ini bernama William Henry Quilliam, kelahiran Liverpool, 10 April 1856. Dia berasal dari keluarga kaya raya. Ayahnya, Robert Quilliam, adalah seorang pembuat jam. William kecil sudah mendapatkan pendidikan yang memadai. Agama Islam dikenalnya ketika ia mengunjungi wilayah Perancis Selatan pada tahun 1882. Sejak saat itu, ia mulai banyak mempelajari mengenai Islam dan ajarannya. Ketertarikannya terhadap Islam semakin bertambah manakala ia berkunjung ke Aljazair dan Tunisia. William mengganti namanya menjadi Abdullah Quilliam. Dengan menyandang nama baru ini, William gencar mempromosikan ajaran Islam kepada masyarakat Liverpool. 

Untuk mendukung syiar Islam di kota Liverpool, ia berinisiatif untuk mendirikan sebuah lembaga khusus bagi orang-orang yang ingin mengetahui dan belajar tentang Islam. Maka, pada 1889, ia pun mendirikan Liverpool Muslim Institute. Tak hanya sebatas menjadi pusat informasi Islam, Abdullah kemudian memfungsikan bangunan Liverpool Muslim Institute menjadi tempat beribadah bagi komunitas Muslim Liverpool. Bangunan Masjid Liverpool Muslim Institute ini mampu menampung sekitar seratus orang jamaah.

Berkat jasanya, syiar Islam bisa merambah ke kota yang terletak di bagian barat laut Inggris. Dan, masyarakat Muslim di sana bisa menjalankan ibadah dan berbagai kegiatan lainnya secara bersama. 

William sejak muda dikenal aktif sebagai penulis sastra. Lewat karya-karyanya dia berupaya menarik simpati masyarakat non-Muslim di Liverpool. Upayanya berbuah manis. Dalam rentang waktu sepuluh tahun berdakwah, ia berhasil mengislamkan lebih dari 150 warga asli Inggris, baik dari kalangan ilmuwan, intelektual, maupun para pemuka masyarakat, termasuk ibunya sendiri. Namun tingginya intoleransi agama menyebabkan Quilliam dan para pengikutnya pindah dari Inggris ke Istambul pada 1908. Dia kembali ke Inggris dengan nama Haroun Mustapha Leon dan menetap di Woking, sampai ia meninggal pada 1932.Pada tahun 1999, kelompok muslim dari Merseyside mendirikan Masyarakat Abdullah Quilliam untuk mempertahankan peninggalannya. "Masjid ini sangat penting karena merupakan masjid pertama di Inggris. Pusat aktivitas Islam pada zaman Ratu Victoria dan lahirnya Islam di Inggris.



Mesjid Tertua Dibangun oleh Yahudi
Masjid tertua di Inggris adalah Masjid Shah Jahan dibangun di Woking pada tahun 1889. Menariknya, Shah Jahan menjadi masjid pertama yang dibangun di Inggris dan Eropa Utara serta masuk dalam daftar bangunan cagar budaya. Mesjid ini memiliki rupa yang sangat cantik bergaya India Mughal. Nama masjid ini diambil dari nama Shah Jahan Begum, salah satu dari empat penguasa muslim dari India yang memerintah antara 1819 dan 1926. Shah Jahan Begum menyumbang sangat besar untuk pembangunan masjid ini. 

Masjid ini dibangun oleh seorang dokter keturuan Yahudi Hungaria, Dr Gottlieb Wilhelm Leitner. Gottlieb adalah seorang ilmuwan yang memang tertarik dengan kehidupan di dunia Timur dan menguasai 25 bahasa, termasuk Bahasa Arab. Dia berhasil membujuk penguasa negara bagian Bopal di India untuk membiayai satu komplek perpustakaan, asrama, masjid, dan bahkan sebuah universitas Islam yang ia namakan Oriental Institute. Sayangnya, saat Gottlieb meninggal pada 1899, Oriental Institute ditutup dan nasib Shah Jahan Mosque menjadi terbengkalai. Hingga pada 1913, Khwaja Kamal-ud-Din yang merupakan seorang pengacara kaya raya asal Lahore, menyelamatkan Shah Jahan Mosque.

Sejak itu masjid-mesjid tumbuh di Inggris. Pada sekitar akhir 1960, tercatat sembilan masjid sebagai tempat ibadah di Inggris. Namun, sekitar tahun 1966, terdapat loncatan sehingga jumlah masjid terus bertambah. Diperkirakan ada sekitar 100 masjid di daerah London Raya, 50 di Lancashire, 40 di Yorkshire, dan 30 di Midlands, serta ada 3 masjid di Skotlandia, dan 2 di Wales. Berdasarkan catatan dr Registeral-General, sebuah departemen pemerintahan di England dan Wales, tercatat jumlah masjid di Inggris pada tahun 1990 berjumlah sekitar 452 mesjid.

























































Muslimah Inggris dan Pendidikan


Muslim di Inggris hidup dalam kelompok-kelompok atau organisasi sesuai dengan aspirasi dan dari mana mereka berasal. Dua organisasi terbesar adalah Deobandis dan Barelwis. Dua kelompok ini juga sangat tekenal di India. Kelompok dan ajaran sufi juga berkembang di masyarakat Islam Inggris.



Anak-anak muda di Inggris beserta para muslimah di sana berpendapat bahwa pendidikan sangat penting. Sayangnya, tidak mudah menjadi bagian muslim di sekolah-sekolah negeri Inggris. Sekolah Al Qur’an dan pendidikan yang terpusat di masjid dimaksudkan orangtua muslim untuk membentengi pengaruh westernisasi, budaya sekuler, dan mempertahankan budaya islami. Bagi para muslimah Inggris Islam adalah agama bervisi. Saat ini perempuan muslim Inggris semakin memperketat jadwal belajar membaca Al Quran dan hukum-hukum Islam untuk bekal anak-anaknya. 

Beberapa malam dalam seminggu anak-anak muslim khususnya yang lahir di Inggris belajar Al Qur’an, Bahasa Arab, hukum-hukum Islam dan bahasa leluhur kedua orangtua mereka. Para guru pendidikan non formal ini biasanya dilakukan oleh imam sholat di masjid atau sarjana agama berkualitas yang khusus didatangkan dari negeri asal imigran muslim di Inggris. Sekitar bulan Mei 2015 lalu, bahkan kaum muslimah Inggris menggelar pameran bertajuk kehidupan Muslimah Inggris. Bertempat di British Royal Concert Hall di ibukota London, Inggris, pameran yang diadakan bertujuan mendobrak hambatan yang berlaku tentang wanita Muslim di kalangan masyarakat Inggris. Saat ini kita akan menjumpai banyak perempuan berhijab (bahkan bercadar) di negeri ini.







































































Agama Terbesar Kedua di Inggris


Islam sekarang menjadi agama terbesar kedua di Inggris. Penduduk muslim terbesar di Inggris berada di Kota Tower Hamlets, di sebelah timur Kota London. Kota tersebut menjadi satu-satunya kawasan dimana jumlah Umat Islam melebihi Umat Kristiani. Bahkan, Lutfur Rahman menjadi satu-satunya walikota muslim di Inggris. Pria keturunan Bangladesh ini maju sebagai calon independen pada pemilu 2011 lalu. 





Populasi muslim di Inggris lambat laun semakin banyak. Salah satu kota terbesar di negara Ratu Elizabeth ini bahkan tercatat memiliki jumlah penganut Islam belia lebih banyak dibandingkan agama lainnya.(Erin berbagai sumber/ft google)