Connie Rahakundini Bakrie Analis Pertahanan dan Militer yang Senang Terjun Bebas dan Aerobatic

Hanya segelintir saja perempuan pengamat militer dan pertahanan di Indonesia. Dari yang segelintir itu, perempuan yang punya hobi terjun bebas dan aerobatic ini adalah satu di antaranya. Malahan, bisa dikatakan dialah perempuan pertama murni berkarir sebagai analis militer dan pertahanan di Indonesia.

www.erinpost.net



Besar dalam Dua Dunia yang Berbeda
“Saya lebih nyaman disebut sebagai analis pertahanan,” ujarnya ketika kami bertemu. Dia muncul seperti yang dijanjikannya di pukul dua siang itu, di lobi sebuah hotel. Wajahnya segar, cantik, dengan senyum yang terus mengembang. Posturnya yang tinggi besar tak membuat keramahan dan sikap akrabnya hilang. Saya merasa beruntung bertemu dengan sosok perempuan cerdas, satu-satunya analis pertahanan, yang dimiliki Indonesia. Prinsip dan cita-citanya begitu luhur. Membuktikan dan membaktikan dirinya pada dunia pertahanan Indonesia serta meluruskan pandangan yang keliru tentang dunia pertahanan.

Menurutnya kekuatan militer merupakan ukuran nyata tentang kekuatan suatu negara. “Wujud material militer dapat memengaruhi negara lain untuk tunduk sebagai musuh atau menjadi ‘bawahan’,” ujarnya menyambung prinsipnya di atas. Dia duduk dengan sikap santai dan sangat bersahabat.

Dibesarkan dalam keluarga yang memiliki dua dunia yang amat berbeda. Ayahnya, DR. Ir. Bakrie Arbie, adalah seorang doktor ahli nuklir, yang kesehariannya sibuk dengan penelitian. Sedangkan ibunya, Ani Sekarningsih Ardiwinata, adalah pendiri Padepokan Tarot dan pencipta tarot pewayangan.

Connie sangat memuja ayahnya. Dia sering memerhatikan dan mendengarkan ayahnya bercerita tentang Fisika, pentingnya logika, dan reaktor nuklir. Saat itu, ayahnya bercita-cita membangun pusat listrik tenaga nuklir. Sebaliknya, sang ibu malahan ingin Connie mengikuti jejaknya.

“Ya, lucu juga ya kalau ingat masa kecil. Penuh dengan bola kristal dan kartu-kartu ramal atau tarot. Pada akhirnya saya tahu, profesi ibu saya sebenarnya lebih kepada psikolog. Sebab setelah dia meramal pasiennya, dia mencoba memberikan solusi atau saran. Sementara itu ayah saya selalu bicara tentang penelitiannya,” kenangnya sambal tertawa.

rumahbundaerinblogspot.com
Saya Bersama Connie
Dari  Desainer ke Militer


Hidupnya yang penuh warna itu malah membawanya kepada dunia desain. Connie memilih Billy Blue School Graphic Design di Sydney. “Setelah lulus, saya kerja di periklanan. Malahan, salah satu karya desain saya memenangkan penghargaan tingkat internasional,” kenangnya.


Meski telah menorehkan prestasi, nyatanya dunia desain tak membuatnya lama berpijak di sana. Lalu bagaimana anak kedua -dan satu-satunya perempuan- dari tiga bersaudara itu tertarik mendalami dunia militer?


“Waktu itu Jakarta sedang dilanda kerusuhan. Mobil saya terhadang macet dan berhenti tepat di depan sebuah warung pinggir jalan. Ada seorang tentara yang saat itu sedang siaga, hendak membeli lotion anti nyamuk, mungkin untuk persiapan berjaga malam nanti. Tukang warungnya bilang harganya empat ribu. Saya lihat tentara itu membuka dompetnya. Lalu dia bilang, Bu, uangnya kurang besok lagi ya saya bayarnya. Anda bisa bayangkan perasaan saya?” mata Connie terbelalak saat menceritakan kisah itu. “Saya berada di dalam mobil BMW mewah dan tergesa-gesa pulang ke rumah, sementara si tentara itu, yang mempertaruhkan nyawanya untuk Indonesia, tak mampu membeli liotion anti nyamuk. Tahu, bagaimana hati saya? Sreeettt…, perih.”


Belum lagi setelah itu dia banyak mendapati pandangan masyarakat ketika itu agak sinis dan cenderung menyalahkan militer. Dia merasa ini sangat tidak adil. Pada titik itulah muncul keinginan membela militer. “Saya hanya ingin menempatkan militer kembali pada tempat seharusnya. Menjadi militer yang professional. Karena bagaimanapun kekuatan sebuah negara diukur oleh faktor militer selain ekonomi,” lanjutnya.


Dari kejadian itu Connie mulai tertarik memperhatikan kehidupan militer. Hal-hal yang terkait dengan militer dan pertahanan negara dipelajarinya. Untuk memenuhi rasa ingin tahunya pada dunia pertahanan, ia kembali ke bangku kuliah di jurusan Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia. Ketertarikannya kepada dunia militer semakin menggebu dan membuatnya berjodoh dengan Mantan Pangkostrad Letjen TNI Djadja Suparman. “Dialah teman diskusi yang baik, tapi seru. Kami
sering berdebat.”












Setelah itu Connie melanjutkan pendidikannya di Asia Pacific Centre for Security Studies (APCSS) di Honolulu, Hawaii, dan mengikuti pendidikan program eksekutif di Birmingham University, Inggris, sebelum menuju Tel Aviv. Saat ini Connie menjadi peneliti di INSS (Institute of National Security Studies), Tel Aviv, Israel, dan juga juga sempat mengikuti pendidikan militer di Fu Xing Kang War College, ROC. Ia menjadi pengajar di Fakultas Ilmu Politik dan Sosial Universitas Indonesia dan sekarang menjadi Dosen Hubungan International di President University. “Indonesia punya segala macam kekayaan alam yang kaya sementara luasnya lebih dari seribu kali wilayah Israel, tetapi mengapa tak bisa menyamai kedigdayaaan Israel?” ujarnya. Kelahiran Bandung, 3 Nopember ini juga mengomentari wajib militer yang akhirnya mendapat banyak kecaman karena dianggap sebagai militerisasi terhadap sipil. Connie menyebut Israel sebagai contoh paling bagus soal sistem pertahanan negara. Negara Zionis ini juga menerapkan wajib militer terhadap lelaki dan perempuan berusia minimal 18 tahun. Masa wajib militer buat lelaki tiga tahun dan dua tahun buat perempuan. “Padahal dengan anggaran pertahanan kita yang begitu rendah, wajib militer itu salah satu solusi. Wajib militer itu masuk dalam tentara cadangan. Salah satu solusi mempertahankan negara selain mendidik kaum muda untuk kenal dan mencintai tanah airnya.” Connie pun menyebutkan bahwa sebagai negara kelautan, mustinya militer Indonesia khususnya armada TNI AL dengan dukungan kekuatan dari TNI AU bisa menguasai kawasan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Kedua lautan ini dikenal sebagai Mare Pacificum dan Mare Closum (lautan damai dan lautan tertutup), militer Indonesia harusnya dibangun untuk berkiprah menjaga kedamaian dan ketertutupan lautan tersebut sehingga ancaman dann pencurian dapat diusir jauh dari sebelum memasuki perairan Indonesia. 
Hobinya Terjun Bebas

Kesibukan yang menyita waktunya membuat banyak orang bertanya, masih sempatkah ibu dari Audindra, Samantha, dan Merkava, menyisihkan waktunya? Dia tertawa, menggeleng dan menggerakkan tangannya. “Saya akui, saya adalah ibu dan istri yang hampir tidak pernah bisa selalu hadir di tengah keluarga.” 

Connie menjadi pembicara di Geneva Centre for Security Policy, menyampaikan pidato penting tentang pertahanan Indonesia di National Defence University (NDU) Washington, aktif memberikan pandangannya di Dewan Pertahanan Nasional (Wantannas), Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Kementerian Pertahanan, Kementerian Luar Negeri, dan Mabes TNI.

“Sedikit sekali waktu yang saya miliki untuk anak-anak dan keluarga. Secara fisik kami memang jarang bertemu, tetapi kami tetap berkomunikasi. Sesekali, saya menyempatkan memasak untuk mereka.

Di tengah kepenatannya, Connie berusaha membuat dirinya rileks dan tenang. Salah satu cara yang dilakukannya adalah melakukan terjun bebas dan juga merambah ke aerobatic. Mengenai hobi terjun bebas (free fall) ini, Connie mengatakan melawan ketakutan juga berarti jalan menuju kepasrahan pada titik terendah. "Saya merasakan begitu hebat dan Maha Kuasa-nya Sang Pencipta, sehingga saya merasakan detik-detik berharga saat berjumpalitan aerobatic atau saat free fall. Lupa pada duniawi, karena yang ada di hati hanya sang Pencipta dan orang orang terdekat.” 

Bagi Connie, pengorbanan paling besar hingga dia bisa berada pada titik sekarang adalah keluarga dan terutama anak-anaknya. Merekalah sosok yang paling mengerti keadaannya dan tidak pernah menuntut. Sebagai ibu, dia menyadari tidak sesempurna ibu-ibu lainnya. “Saya berusaha memberikan yang terbaik. Sejauh ini, inilah yang bisa saya berikan kepada mereka; sebuah kebanggaan pada bundanya yang harus ditebus dengan waktu kebersamaan yang terbatas, hehehe. 

Seminggu setelah perbincangan kami, kami pun sesekali menyapa via telepon dan WA. Bersahabat dengannya sungguh menyenangkan.*

Comments

Post a Comment