Ketika Peraturan Sekolah Membelenggu Kecerdasan Anak

Dede Belum 6 Tahun, Jadi Gak Bisa Masuk SD Negeri

Ini adalah catatan yang aku tulis di note akun FB Reni TerataiAir, tertanggal di bawah judul. 

Bungsuku, Kirani -aku memanggilnya Dede-, begitu pendiam di sekolah. Pendiam, bukan pemalu. Dia berinteraksi dengan teman-teman, lingkungan, guru dan penjaga sekolah, sampai ke ibu kantin, dengan sangat baik. Dia juga melakukan tugas-tugas di sekolah, menjawab pertanyaan gurunya dengan baik, hanya dia tak banyak bicara. 
Bu Wanti, guru-nya, melekatkan sebutan "Putri Irit Suara" sementara Bu Sri, guru yang lain, menyebutnya "Putri Salju".

Aku memang jarang menemaninya ke sekolah kecuali di saat-saat tertentu. Si Mbak hanya bertugas mengantar dan menjemput sampai pintu gerbang sekolah. Di usianya yang kurang dari 5 tahun, Kirani sudah sangat mandiri dan langsung duduk di kelas TK B. Dia tidak harus ditunggui di sekolah. Dia bisa melakukan semua hal di sekolah tanpa perlu didampingi oleh aku atau Si Mbak.

Dan waktu berlalu begitu cepat.....

Aku terpaku saat melihat Dede yang mungil dan tenang itu, berdiri di atas panggung untuk menari di acara Pesta Seni yang diadakan sekolahnya. Bagi ibu-ibu lain, itu mungkin hal yang biasa, tetapi bagiku ini suatu hal yang sangat menakjubkan; bungsu yang pendiam, yang tak banyak bicara itu, berani tampil menari di panggung dan berdiri di barisan paling depan, sendirian!

Sewaktu tahu dia akan tampil, dan melihatnya bersiap-siap di sisi panggung, aku sudah menyiapkan diri bahwa aku akan melihat putri kecilku itu hanya terpaku di atas panggung, melakukan gerakan gugup, atau malahan hanya mematung dan jadi bahan tertawaan. Aku sudah bersiap untuk itu, dan memberikan kecupan hangat di dahinya sambil berkata; "Anak Mama pasti hebat!"

Ternyata aku keliru. Yang aku lihat di panggung sana adalah gadis penari yang gemulai, lincah dan sangat terlatih. Berkali-kali aku mengerjapkan mata; diakah Kiraniku?

Di tengah takjubku yang terus-terusan memandang ke atas panggung, seorang ibu menegurku, "Bundanya Kirani, ya? Waahhh, KIrani kecil-kecil cabe rawit. Dia paling tinggi nilainya di semua bidang. Tes IQ-nya juga paling tinggi."

Aku mengangguk gugup dan tersenyum. Tak lama kepala sekolah menghampiriku dan berkata; "Putri Anda hebat, Bunda. Pendiam tapi cerdas. Lusa, datanglah untuk menerima beberapa penghargaan buat Kirani."

Aku terpana. Alhamdulillah. Rasanya ini kebahagiaaku sebagai seorang ibu, dengan segala keterbatasanku.

Itu adalah saat-saat kelulusan TK. KIrani menyelesaikan TK B-nya dengan nilai yang memuaskan.

Lusanya, aku mendatangi sekolah dasar terdekat, tempat Fitri -aku memanggilnya Kaka- menuntut ilmu. Aku ingin mendaftarkan Dede Kirani di sana dan berharap dengan berada di satu sekolah, kedua putriku bisa terkontrol dengan baik.

Alasanku dulu memasukkan Kaka ke sekolah itu hanya semata jarak yang begitu dekat dari rumah; 50 meter. Sekarang pun aku berharap Dede bisa bersekolah di sana. Secara kwalitas, jujur sana, itu adalah sekolah negeri yang sangat biasa, bahkan terlalu biasa untuk kedua putriku yang bisa digolongkan dalam kategori anak-anak cerdas. Tak apa, jarak dekat membuat mereka lebih aman dan aku pun nyaman. Saat besar nanti, mereka bisa sekolah di mana pun yang mereka inginkan.

Tapi apa yang aku dapatkan ketika aku menghadap ke meja pendaftaran?

"Usia anak ibu baru enam tahun di 16 Juli nanti?" Petugas menggelengkan kepala. "Maaf, Bu. Kami belum bisa menerimanya. Masih terlalu kecil."

Aku sedikit terkejut. "Tapi kan, dia sudah lulus TK B dengan nilai yang sangat baik?" tanyaku.

"Itu tidak memengaruhi, Bu. Saat ini kami lebih mementingkan usia 7 tahun, usia sekolah. Anak ibu masih terlalu kecil."

"Jadi...?"

Tiba-tiba seorang petugas yang lain menyahut; "Kalau masih terlalu kecil gitu, takutnya nanti keteteran di kelasnya, Bu. Kasian."

Dahiku berkerut. Apa dia tidak mendengar kalimatku tadi; bahwa anakku sudah lulus TK dengan nilai yang sangat baik. Malahan ingin sekali aku berteriak; anakku juara, anakku cedas dan mandiri. Mau tau berapa IQ-nya? 129!

Kalimat itu tertelan di tenggorokan saat petugas itu bekata lagi; "Peraturan sekolah negeri saat ini memang begitu, yaitu sekolah untuk siswa berusia 7 tahun. Silakan ibu cari sekolah swasta saja."

Aku masih berusaha. "Apa nggak perlu di tes dulu, Bu?" tanyaku dengan sedih.

"Usia 6 tahun gak perlu pake tes-tesan segala. Udah pasti gak bisa diterima," sahut petugas

Glek! Terdengar sadis.

Aku lebih terkejut lagi saat menyadari ternyata Dede berdiri di sampingku. Dia pasti mendengar semuanya.

"Mama, cari sekolah lain aja, nggak apa-apa," ujarnya kemudian.

Ya, betul. Kami bisa mencari sekolah lain (tentunya swasta) yang jauh lebih baik dan bermutu, serta memiliki standar SDM yang di atas rata-rata untuk kwalitas dan personality-nya.

Tetapi saat ini, bukan itu yang menjadi tujuan utamaku. Kaka atau Dede belum perlu sekolah bermutu tinggi dengan Standar Internsional School. Mereka hanya perlu wadah belajar yang terdekat dari rumah dan aman, dan aku bisa bekerja dengan pikiran yang tenang. Berada di satu sekolah dengan kakaknya juga memudahkan Si Mbak untuk menjemputnya. 

Tak jauh dari tempatku terpaku, aku mendengar percakapan seorang ibu dengan petugas tadi.

"Udah 7 tahun lebih 4 bulan. Tapi belom bisa baca sama sekali. Malahan belum tau huruf."

"Iya, nggak apa-apa nanti kan diajari, isi formulirnya dulu. Minggu depan kembali lagi ya untuk data-data lainnya dan keperluan adminisrasinya."

"Jadi anak saya diterima ya?"

"Ya."

Usia belajar siswa 7 tahun, apakah harus menyingkirkan usia 6 tahun yang dalam segala hal jauh lebih layak?

Apakah anak cerdas yang masih terlalu belia harus tersingkir hanya karena peraturan sekolah negeri yang begitu mengikat? Kalau semua anak-anak cerdas yang belum berusia 7 tahun lari ke sekolah swasta, berarti kwalitas sekolah swasta akan semakin baik dengan murid-muridnya yang cerdas. Lalu sekolah negeri akan semakin tenggelam dengan sistem yang digunakan itu, sekalipun syarat-syarat itu adalah untuk memenuhi kebutuhan usia belajar anak berusia 7 tahun?


Aku tak tahu pola pendidikan jaman sekarang. Yang aku tahu, saat Kaka berusia 5,5 tahun, dia sudah bisa duduk manis di sekolah dasar itu dan sampai saat ini tetap konsisten mendapat rangking 5 besar.

Yah, sudah.







Dede KIrani saat lomba menggambar di TK dan menjadi juara 



Catatan tersebut belum aku lanjutkan. Bahwa dua minggu kemudian, kepala sekolah di SD tersebut menghubungiku dan mempersilakan aku mendaftarkan lagi Dede Kirani di sekolah itu.

Di kelas pertamanya itu, Dede Kirani termasuk anak yang tidak menyulitkan guru-gurunya. Tidak menangis di kelas, tidak minta ditunggui mamanya, tidak merusuh atau menjahili teman. Dia duduk manis dan tekun belajar.

Empat tahun berlalu....

Saat ini Dede Kirani sudah di kelas empat. Hasilnya? Setiap semester dia meraih 5 besar. Dia juga menjadi anak kesayangan guru di kelas 4 (yang merupakan petugas pendaftaran yang sempat menolaknya dulu).

Yah, begitulah :) Alhamdulillah




Comments