Yovita Dwi Setyowati Aroma Mayat Menyengat

Perempuan muda yang berstatus sebagai mahasiswa keperawatan di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta ini melihat bahwa kegiatan yang dilakukan oleh JR sangat menggugah hatinya. Dia memutuskan ikut bergabung, ketika Fitriana yang merupakan dosennya di keperawatan, mengajaknya ikut serta dalam misi penyelamatan banjir Jakarta. 

www.erinpost.com


“Saya bergabung sejak 2007, sebenarnya lebih ke paramedic sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Ketika bergabung, pertama kali latihan adalah water rescue. Saat itu, di JR belum ada misi kemanusiaan, masih seputar penyelamatan buat banjir. Saya coba ikutan, dan seru,” ujar gadis kelahiran Jakarta 7 Maret 1988.  

Latihan fisik yang dilakukan adalah berenang malam-malam mengitari Setu Babakan. Saat dia bergabung, banyak juga peserta lain, jumlahnya puluhan. “Tapi waktu yang terus berjalan akhirnya membuktikan siapa yang tahan, jadi tinggal sedikit sekarang. Sebab tidak semua orang sanggup melakukan latihan-latihan ini, jadi akhirnya yang aktif hanya sedikit,” keluhnya. Dia menyayangkan hal itu. Sebab Yovita menyadari kebutuhan akan tim penyelamatan bencana terutama karena Jakarta begitu padat penduduknya dan sangat rawan banjir atau kebakaran.” 

Lalu mengapa Yovita tetap bertahan hingga saat ini? “Pertama saya suka dengan kegiatan-kegiatan sosial, apalagi ini misi kemanusiaan, udah gitu saya juga suka olahraga. Saya ini ikut taekwondo. Setidaknya ilmu bela diri saya berguna.”

Dukungan keluarga atas apa yang dilakukannya membuat gadis yang suka membaca ini semakin semangat dan bertahan mengikuti setiap kegiatan JR jika waktunya tepat. “Pas lagi nggak ada kuliah atau ujian, saya ikut pelatihan di JR.

Lalu bagaimana dia bisa sampai berangkat ke Nepal bersama dua perempuan anggota Sardog JR serta Alfa dan Delta? “Saya ini sebenarnya bukan dari tim Sar Dog, tapi dari paramedic JR. Jadi saya belum terlalu paham soal dunia Sar Dog. Tapi saya kenal baik dengan Alfa dan Delta,” ujar Yovita sambil mengelus Delta. Waktu kejadian gempa Nepal Yovita sebenarnya sedang kuliah program S2 Keperawatan di Taiwan. Dia pulang ke Jakarta untuk mengambil beberapa data terkait tugas kuliah. “Tau-tau Mbak Fitri menelepon saya dan mengajak saya ke Nepal dalam misi kemanusiaan. Saya juga pernah ikutan pelatihan penanganan bencana di Nepal. Jadi ketika peristiwa gempa Nepal, saya sudah kenal baik negara itu. Tidak terlalu sulit mengenal medannya.”

Awalnya keluarga tidak mendukung, namun setelah Yovita menjelaskan akhirnya keluarga memberi restu. “Pertama mendarat di Balaju, melihat kota itu porak poranda. Lalu ada suatu daerah yang semuanya hancur banget. Kemudian ada dua hotel yang satu sudah hancur yang satu sudah miring. Nah, ketika saya datang ke sana, itu aroma mayat sudah menyengat hidung. Kami pun observasi sekitar. Kita bertanya terhadap tim lain yang bertemu di sana, apakah kita bisa bekerjasama de ngan mereka. Atau mungkin kita akan pergi ke daerah lain yang belum terjamah tim. Akhirnya kami menuju Bunggabucok, suatu daerah yang belum terjamah tim lain saat kami datang. Banyak kisah seru dan sulit saya ceritakan dengan kata-kata.”*