Gempa Nepal 28 April 2015 telah menghancurkan sebagian besar wilayah di sana. Pencarian korban yang tertimpa reruntuhan begitu sulit ditemukan. Namun, Alfa dan Delta berhasil menemukan delapan korban yang tertimbun di reruntuhan sebuah hotel di Khatmandu, Nepal.
Fitriana, Yovita, dan Herawati, adalah tiga perempuan tangguh yang tergabung dalam Sardog Jakarta Rescue. Mereka memiliki rasa kepedulian terhadap sesama. Rela tanpa upah yang penting misi keselamatan terlaksana. Saat tragedi gempa Nepal 28 April 2015 lalu, bersama Alfa dan Delta, dua anjing pelacak, mereka sigap berangkat dengan modal rasa kemanusiaan.
Jakarta Rescue (JR), suatu organisasi kemanusiaan yang bersifat mandiri dalam bidang Search and Rescue, membantu warga Jakarta baik di darat maupun di laut. Hadianto Warjaman atau Anto, mendirikan wadah ini pada 28 Juni 1986, berawal dari sebuah kecelakaan kereta api ‘Tragedi Bintaro’ di mana saat itu masyakarat hanya menonton saja tanpa memberikan pertolongan atau evakuasi kepada ribuan korban. Anto tergerak dan memanggil teman-temannya yang tergabung di Jakarta Wilis Club untuk mengevakuasi para korban dan membawa mereka ke rumah sakit terdekat. “Gerakan kemanusiaan yang dilakukan Jakarta Wilis Club itulah yang menginspirasi Bapak Anto untuk membentuk sebuah wadah penyelamatan,” kisah Fitriani, salah satu anggota Sar Dog Jakarta Rescue saat Puan Pertiwi menyambangi markas JR di Setu Babakan, Jakarta Selatan. Anto ingin JR menjadi wadah sosial kemanusiaan untuk membantu mengevakuasi masyarakat jika terjadi bencana atau kecelakaan. Wadah itu kelak menggalang dan membina generasi muda Jakarta sebagai kader penyelamat yang handal dengan pengetahuan dan wawasan berstandar Internasional.
Pada perjalanannya bukan hanya warga Jakarta saja yang menjadi tujuan pertolongan mereka, tetapi juga umat manusia di mana pun berada. Mereka telah menempuh berbagai daerah di Indonesia serta beberapa negara dalam misi penyelamatan.
Bagaimana kisah tiga perempuan ini bersama Alfa dan Delta saat berada di Nepal? Ini dia kisah seru mereka.
Jakarta Rescue (JR), suatu organisasi kemanusiaan yang bersifat mandiri dalam bidang Search and Rescue, membantu warga Jakarta baik di darat maupun di laut. Hadianto Warjaman atau Anto, mendirikan wadah ini pada 28 Juni 1986, berawal dari sebuah kecelakaan kereta api ‘Tragedi Bintaro’ di mana saat itu masyakarat hanya menonton saja tanpa memberikan pertolongan atau evakuasi kepada ribuan korban. Anto tergerak dan memanggil teman-temannya yang tergabung di Jakarta Wilis Club untuk mengevakuasi para korban dan membawa mereka ke rumah sakit terdekat. “Gerakan kemanusiaan yang dilakukan Jakarta Wilis Club itulah yang menginspirasi Bapak Anto untuk membentuk sebuah wadah penyelamatan,” kisah Fitriani, salah satu anggota Sar Dog Jakarta Rescue saat Puan Pertiwi menyambangi markas JR di Setu Babakan, Jakarta Selatan. Anto ingin JR menjadi wadah sosial kemanusiaan untuk membantu mengevakuasi masyarakat jika terjadi bencana atau kecelakaan. Wadah itu kelak menggalang dan membina generasi muda Jakarta sebagai kader penyelamat yang handal dengan pengetahuan dan wawasan berstandar Internasional.
Pada perjalanannya bukan hanya warga Jakarta saja yang menjadi tujuan pertolongan mereka, tetapi juga umat manusia di mana pun berada. Mereka telah menempuh berbagai daerah di Indonesia serta beberapa negara dalam misi penyelamatan.
Bagaimana kisah tiga perempuan ini bersama Alfa dan Delta saat berada di Nepal? Ini dia kisah seru mereka.
Baca Berikutnya:
