Seragam yang Kebesaran

Menjadi anggota Satpol PP berarti harus punya bekal baik fisik maupun mental, sebab kelak tugas yang mereka jalani tidaklah mudah. Mereka akan lebih sering berada di lapangan menertibkan Jakarta dan bertemu dengan orang-orang dengan berbagai karakter. 




Mereka pun diberi pelatihan. Nunung masih ingat betul bagaimana dia selalu degdegan tiap kali mendengar alarmbell. “Kita hanya diberi waktu kurang dari lima menit untuk bersiap-siap baris ke lapangan. Mau kita lagi tidur atau sedang apa saja, pokoknya harus siap. Makanya selalu deg-degan kalau mendengar bunyi alarmbell itu,” cerita Nunung. 

Dari Satpol PP Provinsi DKI Jakarta ada Feni Agustina, Nur Komala, dan Supriyani yang masih mengingat pengalaman ketika mengikuti pelatihan. Mereka juga sempat tak terpikir menjadi Satpol PP. Nur Komala yang akrab disapa Mala pernah gagal menjadi seorang Polisi Wanita. Namun, dia tidak berputus asa. Ia mencoba daftar untuk menjadi seorang Satpol PP. Saat menjalani pendidikan, bukan menjadi hal mudah saat latihan fisik. Dirinya harus melawan sengatan tajam matahari yang membuat kulitnya menghitam dan pecah-pecah. “Pendidikan pertama capek, kurang tidur, gosong. Sampai ganti kulit di sana he he he,” tuturnya. “ di Lido suhunya dingin, tetapi paparan sinar mataharinya langung ke kulit, jadinya pecah-pecah. Banyak juga yang sakit, tapi saya nggak,” sambungnya.

Baca juga: Gagah tetapi Lembut Saat di Lapangan

Feni Agustina mengaku merasa senang menekuni profesinya ini. Perempuan kelahiran Majalengka ini harus menjalani latihan fisik dan materi yang berlokasi di Lido dan Rindam. Walaupun latihan fisik termasuk berat, tetapi dirinya selamat tanpa cedera. “Gak mengalami cedera fisik saat latihan, jangan sampai deh,” ucapnya. Sementara Supriyani merasa surprise ketika mengetahui dirinya lulus dan menerima seragam PDL. “Nah kok seragamnya seperti ini,” katanya sambil tertawa. “Ukuran seragamnya kebesaran jadi harus diiket pake tali.” Setelah mengetahui bahwa profesi yang akan dijalaninya harus bergelut dengan PKL, razia PSK dan lain-lain, Supriyani mencoba menjalaninya tanpa terbersit niat sedikitpun untuk mundur.*