Briptu Christeel Racheltania Berlatih di Amerika Serikat

Agaknya dia lebih cocok menjadi foto model. Wajahnya cantik, senyumnya manis, pembawaannya sangat ramah. Saya tak berhenti memandang sosok tinggi jangkung ini.




Perempuan berumur 23 tahun ini memulai ceritanya dengan wajah bahagia. “Iya, ada 28 orang yang dikirim ke sini. Dari dua Polda dan satu Satker Mabes Polri yaitu Satuan I Gegana. Kami bertiga termasuk di dalamnya, Briptu Martha A Nainggolan, Briptu Pularwati yang sekarang sedang cuti, dan saya sendiri. Dua puluh lima orang lainnya laki-laki.” 

Sehari-harinya kalau tidak sedang berlatih atau turun ke lapangan, tugasnya adalah staf di perencanaan anggaran Markas Komando Brimob Kelapa Dua. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa dia akan ditempatkan di gegana brimob. Sewaktu kecil, Christeel sering mengikuti lomba menyanyi dan modeling. Dia ingin menjadi artis. Namun seiring waktu cita-citanya berubah. 

Setamat kuliah dari salah satu perguruan tinggi bahasa asing di Jakarta, dia memutuskan masuk dispolwan tahun 2009. “Kalau ikut dispolwan ‘kan begitu selesai pelatihan sudah langsung bekerja jadi polisi. Ada jaminannya. Jadi tidak repot-repot lagi lamar ke sana-sini cari kerja. Dalam pikiran saya, awalnya ingin jadi polisi lalu lintas. Saya tidak mengira saat pelantikan tiba-tiba diumumkan bahwa penempatan saya di brimob. Shock. Sungguh waktu itu saya tidak mengenal brimob. Tetapi ya dijalankan saja. Orangtua juga sangat mendukung.”

Perempuan Gegana Anti-Teror Indonesia
Saya Bersama Christeel
Perempuan Gegana Anti Teror Indonesia

Perempuamn Gegana Anti Teror Indonesia


Hari-hari pertama di Brimob, Christeel merasakan perbedaan yang sangat jauh dengan saat di Dispolwan Ciputat. “Beda 360 derajat,” katanya. “ Di dispolwan pake helm biasa. Di sini pakai helm baja, semuanya baja, serba komando, praktikal banget, perlengkapan tidak pernah lepas dari badan. Tetapi sungguh ini hal yang sangat seru, saya senang menjalaninya. Ikhlas dan bahagia.”

Penempatannya di Brimob sebagai penembak jitu, ia syukuri. “Menembak di dispolwan dan di brimob beda banget. Di dispolwan itu berlatih menembak untuk mengetahui bisa menembak atau tidak. Namun di sini, menembak itu berarti tahu nama-nama senjata, jenisnya, cara membersihkannya, pelurunya, presisinya bagaimana, jarak berapa, akurasinya bagaimana, kecepatan bagaimana, pokoknya seru.....” Pengalaman saat pertama memegang senjata sungguhan diakuinya seperti sesuatu yang ajaib. Apalagi ketika peluru mengenai tepat sasaran. “Saat turun ke lapangan dengan senjata sungguhan berisi peluru, tanggung jawab kita besar sekali. Saya merasakan getaran yang sulit saya ceritakan ketika menarik pelatuknya.” 

Selain latihan fisik, mental pun ditempa. Christeel mengaku itu semua bukan halangan dan tidak membuatnya patah semangat. “Ikhlas dan bahagia. Tidak jarang saat berdoa saya menangis. Bukan menangis karena saya menderita, tetapi menangis minta diberi kemudahan dan kesabaran, juga menangis karena bersyukur saya bisa di sini.”

Ketika mengetahui dirinya dipilih mengikuti pelatihan di Amerika, Christeel semakin mantap bahwa apa yang dilakukannya selama ini dengan keikhlasan telah mendatangkan hasil. Bukan hal mudah menjadi salah satu dari tiga perempuan pertama yang mengikuti pelatihan ini dan menerima sertifikasi CRT. “Kami bertiga adalah wanita pertama yang diakui melalui sertifikasi pelatihan CRT yang latihannya tidak main-main, menggunakan peluru tajam, cairan kimia betulan, dan bom aktif sungguhan. Sebelum berangkat kami sudah dibekali banyak pelatihan dari kesatuan kami. Mulai dari dasar penggunaan senjata sampai dengan CQB yang orang lebih kenal dengan PJD (pertempuran jarak dekat).” 

Berkeliling Amerika juga menjadi pengalaman tak terlupakan. “Selama pelatihan bisa bergabung dengan kesatuan dari berbagai negara, yakni pasukan khusus negara lain. Pelatihan yang cukup sulit yang semunya bisa terlewati dengan baik.” Menurutnya itu adalah prestasi yang belum tentu bisa diraih setiap perempuan. 

“Perempuan masa kini banyak menonjolkan sisi kepemimpinannya. Lihat saja, menteri-menteri perempuan. Presiden perempuan. Banyak lagi lainnya. Perempuan bisa lembut dan bisa tegas. Bahkan bisa lebih tegas dari laki-laki,” ujarnya. “Mama saya adalah Kartini buat saya, karena mama melakukan apa saja yang belum tentu bisa dilakukan papa saya.” *

(Ditayangkan di Majalah Puan Pertiwi edisi 5/Th 2015)



























Comments