Masih ingat tentang musibah 35 bayi di Papua yang meninggal pada Oktober hingga Desember 2015? Akhirnya penyebab kematian bayi-bayi tersebut terungkap. Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyebutkan bahwa penyebab kematian 35 bayi dan 3 orang dewasa di Papua tersebut dikarenakan penyakit Pertusis dengan komplikasi Penumonia.
Pertusis memang meningkat di Kabupaten Nduga karena suhu udara di daerah ini lebih dingin dibanding tahun-tahun sebelumnya. Karena suhu dingin itu, penduduk lebih banyak tinggal di dalam rumah honai yang tidak memiliki ventilasi kemudian membuat perapian di dalamnya. Secara umum, kondisi ini dapat mengganggu pernapasan termasuk penyakit Pertusis.
"Kita khawatir karena kecurigaan awal, mereka meninggal karena adanya virus seperti Flu Burung atau MERS. Tapi setelah tim investigasi turun kesana, ternyata positif Pertusis dengan komplikasi Penumonia," jawabnya di sela-sela temu media di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat (11/12). "Mereka tinggal di honai yang di dalamnya ada 8-10 orang. Udara yang dingin karena efek mencairnya Jaya Wijaya membuat embun menjadi es. Hal ini memaksa mereka memasang api di dalam tanpa ventilasi. Inilah yang menyebabkan bayi tidak tahan dan meninggal," kata Menkes Nila Moeloek.
Untuk mencari penyebab kematian, tim gabungan dari Kemenkes, Kementan, Kemenhan, TNI, Polri, Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinkes Kabupaten, serta Satgas Kaki Telanjang juga melakukan pengobatan, memberikan pelayanan imunisasi dan makanan tambahan. Dari hasil pemeriksaan, 90 persen penduduk menderita ISPA.
Untuk mengendalikan kejadian ini, Kemenkes telah melakukan penanggulangan pertusis di Kecamatan Mbuwa dan Kecamatan Bulmiyalma, Kab. Nduga. “Selain itu menyiapkan program flying health care di Kabupaten Nduga, dan mendorong pemberian makanan tambahan (PMT) bagi Balita, ibu hamil dan PMT ASI, serta menempatkan tenaga kesehatan melalui program Nusantara Sehat," lanjutnya lagi. Ketersediaan air bersih di sana juga menjadi perhatian Menkes. Kemenkes melakukan koordinasi dengan lintas sektor untuk dapat membangun perumahan yang layak serta ketersediaan air bersih.*
"Kita khawatir karena kecurigaan awal, mereka meninggal karena adanya virus seperti Flu Burung atau MERS. Tapi setelah tim investigasi turun kesana, ternyata positif Pertusis dengan komplikasi Penumonia," jawabnya di sela-sela temu media di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat (11/12). "Mereka tinggal di honai yang di dalamnya ada 8-10 orang. Udara yang dingin karena efek mencairnya Jaya Wijaya membuat embun menjadi es. Hal ini memaksa mereka memasang api di dalam tanpa ventilasi. Inilah yang menyebabkan bayi tidak tahan dan meninggal," kata Menkes Nila Moeloek.
Untuk mencari penyebab kematian, tim gabungan dari Kemenkes, Kementan, Kemenhan, TNI, Polri, Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinkes Kabupaten, serta Satgas Kaki Telanjang juga melakukan pengobatan, memberikan pelayanan imunisasi dan makanan tambahan. Dari hasil pemeriksaan, 90 persen penduduk menderita ISPA.
Untuk mengendalikan kejadian ini, Kemenkes telah melakukan penanggulangan pertusis di Kecamatan Mbuwa dan Kecamatan Bulmiyalma, Kab. Nduga. “Selain itu menyiapkan program flying health care di Kabupaten Nduga, dan mendorong pemberian makanan tambahan (PMT) bagi Balita, ibu hamil dan PMT ASI, serta menempatkan tenaga kesehatan melalui program Nusantara Sehat," lanjutnya lagi. Ketersediaan air bersih di sana juga menjadi perhatian Menkes. Kemenkes melakukan koordinasi dengan lintas sektor untuk dapat membangun perumahan yang layak serta ketersediaan air bersih.*

Comments
Post a Comment