Kita pernah menganggap sepele pekerjaannya. Padahal sebagai satuan pengaman, tugas perempuan-perempuan Satuan Polisi Pamong Praja ini cukup berat dan memerlukan banyak kecermatan dan ketegasan


Saya dan fotografer berkesempatan mengikuti kegiatan razia joki yang dilakukan Satpoltik dariSatpol PP Provinsi Jakarta. Pagi itu, dengan mobil dinas Satpol PP, kami menyusuri jalan-jalan yang menuju kawasan Three in One. Biasanya, hanya satu mobil yang digunakan untuk operasi ini, tetapi karena kami ikut serta maka ada dua mobil yang diturunkan.
Kami bergerak beriringan. Ada 10 anggota yang turun razia pagi itu. Diena dan Wika, dua satpoltik yang ditugaskan membawa kendaraan dinas, selalu siaga dengan instruksi yang diberikan anggota lain yang duduk di sebelahnya yang berperan mengawasi.
“Para joki itu pintar. Mereka berpura-pura sebagai penumpang yang sedang menunggu bus untuk menghindari penertiban Satpol PP,” ujar Diena. Baru saja dia selesai bicara, terdengar instruksi dari teman lainnya agar mobil menepi.
Nampak di sisi jalan dekat halte, seorang ibu sambil menggendong anaknya tergesa-gesa naik ke dalam bus yang kebetulan berhenti di halte. “Itu salah satu joki yang kabur begitu melihat mobil satpol,” ujar Diena.
Karena sasaran sudah kabur, kami pun bergerak lagi. Beberapa meter kemudian, mobil dinas di depan kami berhenti. Serentak semua satpoltik turun dan menghambur ke jalan, berlari mengejar ke satu titik. Rupanya ada joki yang kabur begitu melihat mobil patroli.
“Yang bisa dikejar ya kita kejar, tetapi kami melihat kemungkinan-kemungkinan lain. Kalau terlalu membahayakan ya, kami hentikan pengejaran. Saat penangkapan, kami berusaha agar tidak terlalu menarik perhatian massa lain. Kami bergerak halus tapi sigap dan tepat sasaran,” jelas Diena.
Kali ini pengejaran mereka berhasil. Joki yang kabur itu berhasil ditangkap. Dia seorang ibu yang menggendong anaknya. Si ibu menjerit dan meronta saat ditangkap. “Biasanya pelaku sengaja teriak-teriak sambil menangis ketika kami tangkap semata agar massa yang melihatnya merasa kasian lalu membantunya melepaskan diri dari kami. Akibatnya malah warga menyerang kami karena dianggapnya kami menyakiti mereka,” cerita Endang yang satu mobil dengan kami.
Petugas Bimbingan dan Penyaluran Panti Sosial saat serah terima para joki yang tertangkap
|
Sungguh pengalaman yang unik saat mengikuti operasi mereka. Meski penampilan mereka di lapangan nampak ‘gagah’ tetapi mereka tetap berbicara dengan lembut dan santun kepada para joki yang meronta minta dilepaskan.
Para joki yang tertangkap itu kemudian dibawa ke Panti Sosial. Mereka akan direhabilitasi selama 15-21 hari di sana. Selama rehabilitasi itu mereka diberi pencerahan dan ketrampilan. “Agar ketika mereka keluar dari sini, mereka mendapat bekal untuk bisa mandiri dengan membuat sesuatu yang menopang ekonomi mereka, tidak jadi joki lagi,” ujar Bapak Daniel, petugas dari Bimbingan dan Penyaluran Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya, Kedoya, Jakarta Barat, saat serah terima joki yang tertangkap. Panti Sosial Bina Insan Kedoya ini adalah salah satu panti sosial yang menampung semua penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di Jakarta.*
Tulisan Terkait: Seragam yang Kebesaran