Briptu Martha Agustina Nainggolan THE SUNSHINE FROM INDONESIA

Beberapa tahun lalu dia tak pernah membayangkan tergabung dalam kesatuan gegana brimob, apalagi sebagai penerjun.  Mengikuti  dispolwan  di Ciputat tahun 2007 gadis asal Sumatera Utara itu memang bercita-cita menjadi polisi.
bundaerin.blogspot.co.id

“Dulu di kampung halaman, waktu saya kecil, ibu saya pergi bekerja dengan menumpang truk orang.  Naik-turun truk begitu, tahu-tahu diberhentikan oleh polisi. Saya suka kesal melihatnya.  Orang mau bekerja, mau cari uang, kok diberhentikan sama polisi. Dari situ saya berpikir, baiknya saya jadi polisi saja kalau begitu. “
Masuk dispolwan, mengikuti berbagai tes, lalu pelantikan, dan tiba-tiba diumumkan bahwa dia diarahkan masuk dalam tim gegana.  Setelah mengikuti psikotes, lalu magang di Jatinangor, Bandung,  ternyata Martha diarahkan  untuk jadi penerjun. “Sungguh, masuk gegana saja tidak menyangka, eh malah dapatnya bagian penerjun. Jadi dua kali lipat kagetnya.”
Namun, semua ia jalankan dengan sungguh-sungguh.  Dia tak ingin mengecewakan kedua orangtuanya, B Nainggolan dan Ratna Simbolon. Apalagi sebagai anak pertama, dia harus memberi contoh kepada adik-adiknya bahwa kerja keras dan kesungguhan adalah modal dalam mencapai cita-cita. Latihan di kopassus, kostrad, Batu Jajar - Bandung,  dan yang terakhir dia mendapat kesempatan terpilih untuk mengikuti pelatihan JRT Jiboom Respon Tim di Amerika Serikat.  “Ini keberangkatan saya yang kedua kalinya ke Amerika. Awalnya ke Virginia, lalu yang terakhir ke Florida. Mental saya semakin terbentuk selama berlatih di sana. Kebanggaan yang memunculkan semangat sehingga saya merasa harus jauh lebih baik dari sebelumnya.
Bagaimana kisahnya bisa terpilih mengikuti pelatihan di Amerika? “Tentu dilihat dari prestasinya selama mengikuti berbagai pelatihan di Mako Brimob ini. Kebetulan saya juga disponsori oleh Pemprov Jawa Barat untuk mendapatkan lisensi penerjun,” ujar polwan yang pernah meraih medali perunggu dengan nilai 51 bagi kontingen  Depok di Porda Jabar XII di kawasan Plaza Pemkab Bekasi, November 2014 lalu.  Keberaniannya melayang-layang di udara dalam menekuni olahraga terjun payung itu tentu berkat kebiasaannya berlatih dan bertugas di Kesatuan Gegana Brimob. 
Lalu bagaimana gadis 28 tahun ini malah bisa berprestasi sebagai polwan penerjun sementara dulu sempat terkejut-kejut saat diarahkan sebagai penerjun?
Saat simulasi penjinakan bom oleh Briptu Martha

bundaerin.blogspot.co.id

“Itulah hikmahnya,” ujarnya sambil tertawa. “Saya tidak pernah membayangkan jadi penerjun. Setiap kali latihan terjun, saya beraninya terjun ramai-ramai. Sementara teman-teman saya sudah lulus terjun sendirian. Suatu kali—dan  ini menjadi pengalaman saya yang paling seru dan berkesan—ketika  terjun yang ke-13 di tempat pelatihan terjun Pondok Cabe. Dalam kondisi awan yang gelap di ketinggian 8000 kaki, saya harus terjun sendirian. Saya ragu-ragu, takut. Jumping master berjanji akan memegangi baju saya.  Eh, tahunya saya lompat sendiri.  Nah, saat itulah segala hal yang belum pernah saya bayangkan terjadi.  Oh, ternyata saya mampu! Huaa, itu  surprise. Dari situlah saya lebih semangat berlatih, malah akhirnya mengukir prestasi. “
Ground training, materi perkenalan alat-alat, cara melipat payung, cara melompat dari pesawat, kondisi pesawatnya, jenis pesawatnya,  kecepatan mendarat, itu semua dipelajarinya dengan cermat dan latihan ektra keras. Mental dan fisik harus dilatih. Sekarang dia tak pernah mengenal keder saat melakukan loncatan dari pesawat.  Namun begitu dia tak mau menganggap remeh lawan dalam setiap perlombaan yang diikutinya. 
Seperti ketika di Amerika, Martha juga tak pernah menganggap remeh teman dari pasukan khusus negara lain. “Camp kami, The O’Gara Group semua intrukstur merupakan mantan pasukan-pasukan khusus USA. Pelatihan yang cukup sulit dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Semua kami lewati dengan hasil yang tidak mengecewakan. Para instruktur bangga terhadap kami, yang semula mereka pikir tidak bisa apa-apa. Team Instruktur, Marc Santo, berkata Girls, three of you are amazing, beautiful sunshine from Indonesia, strong woman and we proud of  you. You are the first woman in this world that we have teach here’. Kira-kira begitu katanya saat penutupan pelatihan.
Martha menilai bahwa perempuan lebih detail, mengatasi masalah dengan sabar dan jeli. “Itu sebabnya mengapa banyak perempuan yang berhasil dalam kariernya. Bahkan di bidang yang ‘dulu’ bukanlah bidang perempuan. Saya berterima kasih kepada RA Kartini, karena dengan adanya emansipasi saya bisa melakukan apa yang tadinya hanya dapat dilakukan pria.” Bagi Martha, peran perempuan sangat penting. Perempuan mampu melalui setiap tahap kehidupannya, sebagai anak, remaja, ibu, dan nenek.
Lalu apa impian Martha selanjutnya? Gadis yang dalam waktu dekat akan menikah dengan sesama anggota polisi ini tersenyum penuh semangat. “Impian saya? Tergabung dalam  misi perdamaian PBB... Amin!” *

bundaerin.blogspot.co.id





Comments