Aktualisasi Perempuan Bisa Menyebabkan Hancurnya Rumah Tangga

Tidak sedikit perempuan yang berhasil membangun karir sekaligus rumah tangganya. Namun, tak sedikit juga yang terpuruk dan berakhir dengan perceraian.




Atas nama emansipasi, perempuan berusaha mengekspresikan impiannya. Pendidikan yang tinggi dan titel yang disandang mendorong mereka mengaplikasikan keahliannya dengan bekerja di luar rumah. Selain bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup, bekerja di rumah juga sebagai aktualisasikan diri. Sayangnya, ini kerap menimbulkan masalah. Menghantar rumah tangga pada kehancuran.

Pemuasan Kebutuhan

Perempuan kini sudah mampu dan berani memperjuangkan haknya. Perempuan menjadi sangat mandiri bahkan memiliki kebebasan bersuara di berbagai sektor. Laki-laki jaman sekarang juga tidak lagi mengikat diri mereka dengan pandangan kuno bahwa seorang istri harus di rumah menjaga anak dan mengurus suami. Wawasan yang luas dan desakan kebutuhan menjadikan laki-laki lebih lunak dan membebaskan istrinya mengaktualisasikan diri di luar rumah. 


Sebenarnya apa aktualisasi itu? Abraham Maslow menyebutkan dalam bukunya ‘Hierarchy of Needs’, bahwa aktualisasi diri atau self actualization adalah kebutuhan dan pencapaian tertinggi seorang manusia. Sementara Tara De Thouars, BA, M.Psi, psikolog dari Sanatorium Dharmawangsa Mental Health Clinic, mengatakan bahwa aktualisasi diri ditandai dengan keinginan masing-masing untuk bisa meraih apa yang diinginkan dan menjadi potensi dirinya. 

Kebutuhan aktualisasi diri menjadi milik setiap orang. Laki-laki dan perempuan mempunyai akses yang sama. Namun, bukan hal yang mudah bagi perempuan untuk bisa mengaktualisasikan diri. Menjadi perempuan karir dibutuhkan energi. Dia harus membelah pikirannya antara rumah dan pekerjaan. Pada kenyataannya tidak semua perempuan berhasil melalui itu semua. 

Seperti Santi, pegawai sebuah bank swasta berusia 37 tahun, yang merasa bahagia bisa mewujudkan cita-citanya. Setelah 10 tahun berkarir di bidang marketing lending dengan prestasinya yang bagus, dia kini menduduki jabatan yang cukup penting. Sebuah jabatan yang sejak dulu diidam-diamkannya. Seiring dengan itu tanggung jawabnya kian besar. Santi lebih banyak berada di meja kerjanya ketimbang menemani keluarganya makan malam. Dia juga lebih banyak mengecek pekerjaan stafnya daripada mengecek pekerjaan rumah anak-anaknya. Suaminya mulai mengeluh, tetapi Santi selalu mempunyai pembelaan. 

“Biasanya orang yang punya aktualisasi diri yang cukup tinggi -dengan syarat kebutuhan dasar lainnya terpenuhi dengan baik- akan merasa sangat secure dalam hidupnya. Lebih sabar, lebih bisa menyelesaikan masalah dengan baik, logika dahulu baru emosi, dan merasa stabil secara emosi dan perilaku,” jelas Tara De Thouars, BA, M.Psi. “Tapi jika perempuan punya keinginan besar (ngotot) untuk berkarir dengan kondisi hal lainnya terbengkalai, dia malah akan insecure, kompetitif, sensitif terhadap situasi di sekelilingnya.”

Santi merasa suaminya tidak mendukung pencapaian yang diraihnya. Ketika akan menikah dulu, Santi sudah mengatakan kepada calon suaminya bahwa dia ingin berkarir di perbankan. “Sekarang, ketika semua cita-cita saya sudah tercapai, mengapa dia malah menuntut saya untuk lebih memikirkan anak-anak dan rumah? Harusnya dia tahu konsekwensi dari pencapaian saya,” keluh Santi. Sementara suaminya mengatakan bahwa dia tak pernah melarang Santi berkarir asal masih ingat akan kewajibannya sebagai seorang ibu dan istri.

“Saya bangga istri saya bisa mencapai karir sebagus itu. Namun, kebanggan saya berubah menjadi kesedihan ketika Santi menjadi lebih sering berada di luar rumah dan melalaikan tugas utamanya,” ujar suaminya. Akhirnya Santi dan suaminya kerap mengalami jalan buntu setiap membicarakan hal ini. Mereka menjadi sering cekcok mulut.

Ada lagi kisah Nindy, 30 tahun, karyawan sebuah retail. Dia beranggapan bahwa apa yang dia lakukan adalah untuk membantu keuangan keluarga, tetapi suaminya malah mencemburuinya. “Dulu, suami saya yang mencarikan pekerjaan buat saya. Kami sama-sama sadar kalau hanya mengandalkan gajinya saja, tidak akan cukup,” ujar Nindy. Nindy bekerja dengan penuh semangat karena ingat akan tujuannya mensejahterakan keluarga. Dia bekerja keras sampai larut. Suaminya kerap menginterogasinya. Nindy balik menuntut agar suaminya mengerti kalau dia tidak sempat memerhatikan anak-anak dan suaminya. Alhasil dia dan suaminya menjadi sering bertengkar. Nindy punya alasan setiap kali dia pulang malam, “Saya kan harus mencapai target penjualan. Saya dan tim pulang malam untuk hasil yang bagus.” Sementara suaminya beranggapan Nindy sudah tidak menurut kepadanya. “Saya mendukungnya bekerja. Tetapi kalau terus-terusan pulang malam, saya tidak setuju. Apa dia tidak ingat keluarga? Jangan-jangan dia mulai selingkuh,” tegas suaminya. Nindy tidak kuat juga. akhirnya dia menggugat cerai suaminya.

Putu Chandra Dewi Kardha, S.Sos, M.Si staf pengajar Departemen Sosiologi FISIP UI menjelaskan bahwa komunikasi antara pasangan harus lebih ditingkatkan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Sementara Handoko Fitriani SS, budayawan dan juga founder Mata Aksara yang bergerak di bidang sastra dan bahasa, yang kini tengah menyelesaikan magister filsafat UI, menilai kasus di atas hanya soal pembagian fungsi, peran dan kedudukan. Dia mengambil contoh Ibu Lurah yang mengurusi PKK di lingkungannya, sementara Bapak Lurah melaksanakan tugasnya sebagai Lurah. Bisa saja suaminya Santi bergantian memerhatikan anak-anaknya mengerjakan pekerjaan rumah di saat istrinya sedang sibuk. Kasih sayang orangtua kepada anak-anak tidak melulu ditunjukkan oleh sang ibu. Untuk kasus Nindy, bentuk pembagian fungsi mungkin dengan cara si suami menjemput Nindy saat Nindy pulang malam. Dengan demikian kecurigaan bisa ditepiskan sebab sang suami tahu pekerjaan istrinya. “Di era sekarang di mana perempuan bekerja menjadi sebuah gaya hidup, maka pembagian peran dan fungsi harusnya lebih kuat daripada mementingkan tradisi. Jika tidak, maka resikonya faktor psikologi akan rentan. Kondisi suami atau istri yang lelah setelah pulang bekerja akan mudah emosional dan memicu timbulnya pertengkaran.” 





Imbas Aktualisasi

Perempuan bekerja sebenarnya bukan hal yang baru. Namun, bagaimanapun perempuan mempunyai dua sisi yang sama-sama diperlukan. Dengan kata lain perempuan dapat berkegiatan untuk mengaktualisasikan dirinya dengan tetap memprioritaskan keluarga.

Menurut Putu Chandra Dewi Kardha, S.Sos, M.Si staf pengajar Departemen Sosiologi FISIP UI, bahwa perempuan bekerja sudah menjadi gaya hidup. Ini terjadi terutama kepada perempuan-perempuan single parent atau perempuan pencari nafkah utama. Sedangkan istri bekerja sudah menjadi hal yang biasa. Kalau akhirnya terjadi perubahan nilai, itu karena jumlah wanita bekeja semakin banyak. Perempuan di perkotaan mendapat kesempatan lebih banyak untuk mengaktualisasikan dirinya. 

Tara De Thouars, BA, M.Psi menilai kita tidak bisa menghindari gaya hidup itu. Meski demikian perempuan harus tahu kebutuhan dasar lainnnya yang harus dipenuhi dulu. “Harusnya dia juga mampu berkomunikasi dan mendiskusikan jalan tengah dengan pasangan sejauh mana ingin mencapai aktualisasi diri. Lalu menentukan prioritas hidup sehingga tidak ada perasaan bersalah untuk mengejar aktualisasi diri,” ujarnya. 

Nindy merasa pekerjaannya sekarang adalah untuk pemenuhan kebutuhan yang belum dia dapatkan dari suaminya. “Selain karena untuk membantu biaya rumah tangga, dengan bekerja menjadi gengsi tersendiri,” aku Nindy. “Ini membuat orang-orang akan memandang saya sebagai wanita mandiri. Bukan perempuan yang hanya menunggu suami pulang.” 

Ketika langkah perceraian yang akhirnya ditempuh Nindy, Tara De Thouars, BA, M.Psi menilai bahwa tidak semua pasangan hidup bisa mendukung pencapaian aktualisasi diri dan tidak semua orang bisa mengimbangi keinginan aktualisasi dirinya dengan realitas yang ada. “Terlalu fokus pada pekerjaan sehingga melupakan perannya di rumah dan mengakibatkan konflik di rumah tangga. Atau justru karena dia menemukan ketidakpuasan di rumah tangga dan dilarikan kepada fokus di pekerjaan.”

Hal ini terjadi kepada Yuli, seorang anggota dewan. Suaminya memutuskan mengakhiri pernikahan mereka karena keadaan rumah tangga sudah tidak harmonis lagi. “Semenjak saya menjadi anggota dewan, kegiatan saya menjadi sangat banyak. Ini adalah bagian dari tanggung jawab saya kepada rakyat. Namun, suami tidak mengerti hal ini. Dia menuntut saya mundur sebagai anggota dewan,” ujar Yuli. Perbedaan pandangan hidup kerap membuat perselisihan. Permintaan suaminya tidak bisa dipenuhi oleh Yuli. Karena tidak ada kesepakatan suami Yuli menggugat cerai Yuli. 

Aktualisasi tidak saja menimbulkan nilai-nilai yang positif tetapi juga memunculkan dampak yang tidak diinginkan. Antara lain; pecah atau terganggunya keharmonisan rumah tangga dikarenakan istri lalai dengan tugas-tugas utamanya dalam rumah, serta tidak bisa melayani suami dengan baik. Perkembangan anak menjadi kurang terkontrol karena sang ibu sibuk bekerja di luar rumah. Di sinilah timbulnya salah satu celah penyebab kenakalan anak dan remaja. Terjadinya percekcokan dan pertengkaran antara suami-istri, karena suami menuntut pelayanan penuh dari istri, sedangkan istri merasa capek setelah bekerja seharian di luar rumah. Dan yang juga kerap terjadi adalah munculnya perselingkuhan.

Menanggapi hal ini, Putu Chandra Dewi Kardha, S.Sos, M.Si mengatakan bahwa aktualisasi yang berimbas pada hal-hal di atas adalah faktor dari diri pasangan itu. Jika diimbangi dengan saling pengertian dan komunikasi yang baik kepada pasangan, maka semua akan bejalan dengan baik dan positif. (Pernah ditayangkan di Majalah Puan Pertiwi edisi 4/2015). 

Tara De Thouars, BA, M.Psi 


Aktualisasi Selagi Tidak Bertentangan dengan Ajaran yang Ditetapkan- Prof. Dr. Hj. Khuzaemah T.Yanggo - Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI


Keadaan rumah tangga seseorang menjadi berbeda pasca salah satu pasangan (istri) sukses, sebenarnya ditentukan oleh rasa saling pengertian dan tidak egois. Sikap tersebut sangat menentukan menjaga rumah tangga agar tidak hancur. Pada dasarnya, kesuksesan istri ditentukan oleh izin suami. 

Islam juga tidak melarang perempuan berkarir, selagi tidak bertentangan dengan ajaran yang sudah ditetapkan dan tidak melanggar aturan Islam. Jika seorang suami tidak merestui istri untuk pergi, maka janganlah melanggar. Perbuatan tersebut dapat menimbulkan dosa. Tidak hanya istri, suami pun harus bersikap demikian. Perempuan berkarir tidak dilarang, selagi tidak melangkahi aturan aturan yang ditetapkan Islam. Jangan karena dia berkarir lalu rumah tangganya berantakan. Pada dasarnya, tanggung jawab nafkah rumah tangga ada pada suami. Namun demikian, jika istri mampu untuk membantu suami, ada baiknya istri turut membantu. 

Selama suami merestui kegiatan yang istri lakukan, maka hal tersebut diperbolehkan. Tetapi jangan karena sudah ‘bebas’ dikasih izin suaminya untuk berkarir dan karirnya sukses, lantas dia meminta bercerai. Di dalam Al-qur’an, sudah disebutkan, jika terjadi konflik dalam rumah tangga, tidak bisa langsung dilakukan cerai. Harus melalui jalur perdamaian dahulu. Ada juru damai dari pihak suami, satu orang. Ada satu orang pula dari pihak istri. Jika jalur tersebut sudah tidak bisa dilakukan lagi, maka barulah cerai dilaksanakan.*