Perkembangan teknologi banyak mempengaruhi gaya hidup. Bahkan, tanpa kita sadari sekian persen hidup kita ‘bergantung’ pada teknologi, seperti net, gadget, handphone, dan lain sebagainya.
Setiap orang memanfaatkan keberadaan teknologi itu sebagai kebutuhan, termasuk kebutuhan untuk mendapatkan citra, eksistensi, dan pengakuan. Tara De Thouars, BA, M.Psi, spikolog yang banyak menangani dunia remaja, mengatakan fenomena selfie adalah hal yang wajar sebagai bagian dari kebutuhan mendapatkan value.
“Karena mostly sebagian orang memang melakukannya. Hidup kita sekian persen sudah dialihkan ke teknologi. Bagaimana kita berkomunikasi dengan orang pun sekarang sudah berubah lewat handphone, media sosial, dan sebagainya,” ujar Tara saat ditemui di Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta. “Ini satu hal yang wajar. Sebagaian besar orang mempunyai kebutuhan untuk memiliki value, kelebihan. Bagaimana value itu terbentuk, berbeda-beda caranya. Dengan kita berkomunikasi lewat online, kemudian melalui media sosial, value akan meningkat. Contohnya kita posting selfie kita, terus orang memberikan komentar. Itu kan value kita naik.”
Hal serupa juga dapat kita jumpai dalam pendapat Dr. Mariann Hardey, seorang pengajar di Durham University dengan spesialisasi digital social media. "Selfie adalah salah satu revolusi bagaimana seorang manusia ingin diakui oleh orang lain dengan memajang atau sengaja memamerkan foto tersebut ke jejaring sosial atau media lainnya. Dengan memamerkan foto-foto selfie tersebut, maka orang yang bersangkutan ingin terlihat 'bernilai'. Lebih-lebih apabila ada yang berkomentar bagus tentang foto tersebut.”
Baca juga: Selfi Kenali Dampak dan Gangguannya
Namun tidak sedikit yang membantah bahwa selfie dilakukan hanya karena ingin melihat sosok dirinya dalam berbagai pose. Bagi Megah (23), karyawan sebuah bank yang saya jumpai di salah sebuah mall saat sedang berselfie, selfie dilakukannya untuk melihat dirinya sendiri dalam pose apa pun. “Kita bisa bebas bergaya, mau pose kayak apa, cocok apa nggak, gitu. Jadi lebih melihat diri kita sendiri dalam selfie itu. Dan gak semuanya diposting ke medsos kok,” ujarnya. Hal senada juga dikatakan Syifa Fauziah (24), seorang karyawan swasta, mengaku sering melakukan selfie bareng teman untuk koleksi saja. “Bukan untuk eksis, apalagi untuk tenar. Tapi buat koleksi foto bareng teman-teman aja.”
Beberapa menyebutkan alasan berselfie hanya karena untuk mengeksplorasi diri sendiri dan melihat tubuhnya sendiri bukan dengan maksud ingin narsis atau sejenisnya. Selain itu selfie adalah bentuk kemandirian. “Motret sendiri supaya gak nyusahin orang,” ujar Manda, siswi sekolah swasta di Jakarta. “Sebenarnya biar puas bergaya, kalo nyuruh orang motoin, kita suka gak enak mau ganti-ganti gaya.” (Ditayangkan di Majalah Puan Pertiwi edisi 2/Th 1)
Setiap orang memanfaatkan keberadaan teknologi itu sebagai kebutuhan, termasuk kebutuhan untuk mendapatkan citra, eksistensi, dan pengakuan. Tara De Thouars, BA, M.Psi, spikolog yang banyak menangani dunia remaja, mengatakan fenomena selfie adalah hal yang wajar sebagai bagian dari kebutuhan mendapatkan value.
“Karena mostly sebagian orang memang melakukannya. Hidup kita sekian persen sudah dialihkan ke teknologi. Bagaimana kita berkomunikasi dengan orang pun sekarang sudah berubah lewat handphone, media sosial, dan sebagainya,” ujar Tara saat ditemui di Sanatorium Dharmawangsa, Jakarta. “Ini satu hal yang wajar. Sebagaian besar orang mempunyai kebutuhan untuk memiliki value, kelebihan. Bagaimana value itu terbentuk, berbeda-beda caranya. Dengan kita berkomunikasi lewat online, kemudian melalui media sosial, value akan meningkat. Contohnya kita posting selfie kita, terus orang memberikan komentar. Itu kan value kita naik.”
Hal serupa juga dapat kita jumpai dalam pendapat Dr. Mariann Hardey, seorang pengajar di Durham University dengan spesialisasi digital social media. "Selfie adalah salah satu revolusi bagaimana seorang manusia ingin diakui oleh orang lain dengan memajang atau sengaja memamerkan foto tersebut ke jejaring sosial atau media lainnya. Dengan memamerkan foto-foto selfie tersebut, maka orang yang bersangkutan ingin terlihat 'bernilai'. Lebih-lebih apabila ada yang berkomentar bagus tentang foto tersebut.”
Baca juga: Selfi Kenali Dampak dan Gangguannya
Namun tidak sedikit yang membantah bahwa selfie dilakukan hanya karena ingin melihat sosok dirinya dalam berbagai pose. Bagi Megah (23), karyawan sebuah bank yang saya jumpai di salah sebuah mall saat sedang berselfie, selfie dilakukannya untuk melihat dirinya sendiri dalam pose apa pun. “Kita bisa bebas bergaya, mau pose kayak apa, cocok apa nggak, gitu. Jadi lebih melihat diri kita sendiri dalam selfie itu. Dan gak semuanya diposting ke medsos kok,” ujarnya. Hal senada juga dikatakan Syifa Fauziah (24), seorang karyawan swasta, mengaku sering melakukan selfie bareng teman untuk koleksi saja. “Bukan untuk eksis, apalagi untuk tenar. Tapi buat koleksi foto bareng teman-teman aja.”
Beberapa menyebutkan alasan berselfie hanya karena untuk mengeksplorasi diri sendiri dan melihat tubuhnya sendiri bukan dengan maksud ingin narsis atau sejenisnya. Selain itu selfie adalah bentuk kemandirian. “Motret sendiri supaya gak nyusahin orang,” ujar Manda, siswi sekolah swasta di Jakarta. “Sebenarnya biar puas bergaya, kalo nyuruh orang motoin, kita suka gak enak mau ganti-ganti gaya.” (Ditayangkan di Majalah Puan Pertiwi edisi 2/Th 1)


