Lebih baik diam kalau tidak tahu apa yang mau disampaikan, itulah pesan kedua orangtua dr. Ryan Thamrin, pakar seksologi yang tengah naik daun. Ia ingat pesan orangtuanya itu hingga kini.
Lantas ketika ia banyak berbicara di berbagai forum kesehatan, ia tahu bahwa ia telah memiliki bekal yang sangat cukup untuk menyampaikan sesuatu. Nah, apa yang bisa kita gali dari dokter yang yang masih lajang ini? Mari kita mengenal lebih dekat.
Siapa yang tak kenal dr. Ryan Thamrin? Saya menemui sosok jangkung itu di suatu siang di sebuah kedai kopi di daerah Jakarta Selatan. Ia hadir mengenakan kemeja warna pastel. Aroma sabun mandi yang segar samar tercium saat dia meletakkan menu makan siangnya, sepotong sandwich dan segelas green tea latte.
Menjadi Contoh Bagi Adik
Tampan. Tak heran ia memiliki ribuan fans yang tergabung dalam FATER, singkatan dari Fans Akut Dokter Ryan, sebuah komunitas yang dibentuk sendiri oleh para penggemar dr.Ryan. “Itu ajang silaturahmi saya dengan para fans. Saya harus memberi perhatian juga kepada mereka untuk menghargai perhatian mereka. Makanya saya membuat acara Meet n Great untuk para fans,” tuturnya, “Tetapi sebenarnya saya menjalani hidup ini seperti air yang mengalir, tidak pernah terpikir bahwa saya bisa jadi public figure,” tambahnya lagi merendah. Senyumnya pasti membuat perempuan meleleh.
Dengan warna-warninya perjalanan yang kemudian terbentang di depannya, menurut Ryan, “Saya hanya mengambil kesempatan yang ada, dan bekerja sebaik-baiknya,” tambahnya. Kemudian ia bercerita tentang masa kanak-kanak di Riau. Pria kelahiran 27 Mei 1978 ini menghabiskan masa indah itu tak beda dengan kanak-kanak yang lain. “Saya juga mengejar layangan, main gundu, berenang di laut, soalnya rumah saya dekat dengan laut. Kadang juga mencuri buah ceri punya tetangga sama teman-teman…” kenangnya sambil tertawa kecil.
Dan karena tak beda dengan anak laki-laki lainnya, “Saya juga pernah berkelahi dengan sesama teman. Tapi ada kalanya juga membantu teman yang butuh pertolongan,” tambahnya lagi.
Putra ketiga dari 5 bersaudara ini merasa beruntung memiliki masa kecil yang natural seperti anak lainnya. Itu menjadikannya sosok yang berani dan mempunyai banyak kawan. Orangtua juga sangat berperan dalam menjadikannya sosok yang mandiri. “Mereka tak pernah memposisikan diri sebagai orangtua, mereka justru memposisikan sebagai teman. Jadi nyaman kalau ngobrol, becanda, curhat. Secara psikis, di situlah rasa percaya diri kami, anak-anaknya, tumbuh. Itu modal buat kami. Dan ketika kakak-kakak saya satu persatu meninggalkan rumah untuk kost melanjutkan kuliah dan saya menjadi anak yang tertua di rumah, saya harus memberi contoh yang baik untuk adik-adik saya.”
Hobi Menghasilkan Uang
Selulus SMA, Ryan meninggalkan kota kelahirannya untuk kuliah di Fakultas Kedokteran di Universitas Gajah Mada. Sebagai anak kos, Ryan harus pandai-pandai membawa diri. Jauh dari keluarga juga berarti harus pandai mengatasi segala masalah sendiri, termasuk soal keuangan. Beruntung seorang teman mengajaknya untuk ikut memeragakan busana. “Ini pengalaman pertama saya jadi model. Selama ini saya belum pernah ikut jadi model. Ya sudahlah, apa salahnya saya coba, toh cuma di depan teman-teman saja,” tuturnya.
Tak pernah diduganya, usai peragaan, ia mendapat honor. “Wah lumayan sekali untuk anak kos seperti saya. Dari situlah saya mulai mengenal dunia model, banyak tawaran untuk peragaan. Saya senang dengan kegiatan baru ini.”
Peluang pun terbuka ketika kemudian ia mengikuti pemilihan Cover Boy sebuah majalah remaja, cover model sebuah majalah dewasa, dan Abang Jakarta tahun 2003. “Tetapi saya tidak pernah bercita-cita menjadi model. Ini hanya sekedar hobi saja yang menyenangkan karena saya mendapat honor untuk menambah tebal kantong saya sebagai anak kos-kosan,” ujarnya sambil tertawa kecil, memperlihatkan rapi giginya. “Mencari uang hasil kerja sendiri itu beda rasanya, nikmaaat banget makannya,” katanya.
Toh ia terpikir untuk menjaga kesehatan dan penampilannya. Ia melakukan tread mill lima kali dalam seminggu, serta diet dengan pola makanan sehat. “Tetapi kalau ketemu ikan asin, wah, hancur diet saya, hahaa…” tawanya berderai.
Kurangnya Pengetahuan tentang Menopause
Ada sesuatu yang digenggam erat oleh Ryan Thamrin semasa masih berkubang dalam jenjang perjalanan pendidikan. “Jadilah sesuatu yang bersinar di dunia yang belum banyak peminatnya, kira-kira kalimat semacam itu yang menginspirasi saya. Maka setelah selesai kuliah Kedokteran, saya pun mengambil master seksologi dan reproduksi di Bangkok pada tahun 2004,” cerita pria yang kulit wajahnya putih mulus ini. Saat kuliah di Bangkok dia dipercaya mewakili Indonesia dalam penelitian penyakit menular seksual se-Asia. Semenjak itu dokter yang tetap low profil ini sering diminta menjadi narasumber dalam sejumlah acara. Malahan, ia lebih dikenal sebagai dokter yang menangani masalah seksologi dan kesehatan reproduksi, terutama setelah ia menjadi host dalam acara kesehatan di sebuah stasiun televisi.
Mengapa tertarik memilih seksologi? Dokter Ryan tersenyum, “Banyak sekali yang bisa kita gali dari dunia tersebut, kemudian kita informasikan kepada masyarakat. Misalnya saja, dan ini yang paling sering ditanyakan, mengenai menopause. Banyak wanita yang belum paham tentang seluk beluk masalah menopause sebab kondisi ini masih tertutup. Nah, bagaimana caranya saya melakukan edukasi kepada para wanita sebelum maupun yang sudah masuk masa menopause dan cara merespons kondisi tersebut. Ini agar mereka bisa menjaga kesehatan mereka dan merasa nyaman melewati kondisi tersebut.”
Menurut dr. Ryan pendidikan seks di Indonesia masih sangat memprihatinkan. “Belum terlalu terbuka seperti di luar negeri, tapi sejauh ini –kita tak bisa bicara soal lebih baik atau tidak—di Indonesia sudah banyak dilakukan edukasi bagi masyarakat, terutama wanita dan remaja. Pemberian edukasi yang asik itu yang harus bisa dikuasai oleh narasumber seksologi, agar bisa tersampaikan dengan indah dan menyenangkan.”
Dokter Ryan juga menyarankan agar wanita Indonesia lebih membuka wawasan mengenai dunia seksologi untuk bisa mengetahui informasi yang benar. Segera berkonsultasi bila dirasa ada yang kurang nyaman dirasakan. Begitu juga ketika para ibu mencoba memberikan nasihat yang terkait dengan seks kepada putri remajanya. Dokter Ryan menyarankan agar mencari saat yang tepat, seperti misalnya ketika menonton televisi dan melihat pemain filmnya menggunakan pakaian yang serba ketat atau terbuka, si ibu bisa memberikan nasihat agar putrinya menghindari tampilan yang bisa memancing timbulnya perbuatan asusila. Begitu juga saat berdekatan dengan lawan jenis, hindari kontak fisik. Dan bahwa berciuman pun bisa menimbulkan banyak penyakit dari penularan air liur, itu juga harus disampaikan. Pendidikan seks sejak dini selayaknya diberikan agar para putri bisa menjaga diri.
Ternyata mengasyikkan juga mendengar penuturan Dokter ganteng yang juga master lulusan bidang Anti Aging and Esthetica Medicine dari Universitas Padjajaran, Bandung.
Wanita Impian Belum Kunjung Ditemukan
Sebagai sosok yang tengah jadi pusat perhatian para wanita, pertanyaan ‘siapa pacarnya’ atau ‘bagaimana wanita pilihannya’ kerap ditanyakan pada dr. Ryan. Tetapi Dokter yang senang bekerja keras dan bersemangat ini lebih banyak meresponnya dengan tawa.
“Belum berpikir ke arah sana, masih banyak tugas yang harus saya selesaikan,” ujarnya, “Tetapi kalau soal fisik yang kerap ditanyakan orang, misalnya harus cantikkah, saya anggap fisik itu relatif. Yang penting, kedua belah pihak sama-sama bisa masuk dalam lingkungan keluarga masing-masing,” katanya sambil tersenyum. Apa sudah ada calon pendamping, nih? Dokter Ryan tertawa ceria.
Sebagai pakar seksologi. wanita macam mana yang bakal gampang menarik hati lawan jenis? “Tentunya wanita yang memiliki sex appeal, yaitu kemampuan menunjukkan sisi erotisnya. Sisi erotis atau sensualitas dari masing-masing wanita itu berbeda. Ada yang dari rambutnya, pinggangnya, kulitnya, dan sebagainya. Setiap wanita memiliki sex appeal yang bakal menarik hati lawan jenis yang memang terpesona pada hal tersebut. Tiap orang jelas berbeda rasa ketertarikannya,” tuturnya menutup pertemuan. Mas Adit, asisten dr. Ryan nampak gelisah karena ada kru stasiun televisi yang tengah menunggu. Di tengah sesi foto, saya masih sempat menanyakan impiannya. “Saya ingin buka restoran kesehatan, juga jadi juragan kost,” katanya mantap.
Tak pernah diduganya, usai peragaan, ia mendapat honor. “Wah lumayan sekali untuk anak kos seperti saya. Dari situlah saya mulai mengenal dunia model, banyak tawaran untuk peragaan. Saya senang dengan kegiatan baru ini.”
Peluang pun terbuka ketika kemudian ia mengikuti pemilihan Cover Boy sebuah majalah remaja, cover model sebuah majalah dewasa, dan Abang Jakarta tahun 2003. “Tetapi saya tidak pernah bercita-cita menjadi model. Ini hanya sekedar hobi saja yang menyenangkan karena saya mendapat honor untuk menambah tebal kantong saya sebagai anak kos-kosan,” ujarnya sambil tertawa kecil, memperlihatkan rapi giginya. “Mencari uang hasil kerja sendiri itu beda rasanya, nikmaaat banget makannya,” katanya.
Toh ia terpikir untuk menjaga kesehatan dan penampilannya. Ia melakukan tread mill lima kali dalam seminggu, serta diet dengan pola makanan sehat. “Tetapi kalau ketemu ikan asin, wah, hancur diet saya, hahaa…” tawanya berderai.
| Saat mewawancarai Ryan Thamrin akhir tahun 2014 lalu |
Kurangnya Pengetahuan tentang Menopause
Ada sesuatu yang digenggam erat oleh Ryan Thamrin semasa masih berkubang dalam jenjang perjalanan pendidikan. “Jadilah sesuatu yang bersinar di dunia yang belum banyak peminatnya, kira-kira kalimat semacam itu yang menginspirasi saya. Maka setelah selesai kuliah Kedokteran, saya pun mengambil master seksologi dan reproduksi di Bangkok pada tahun 2004,” cerita pria yang kulit wajahnya putih mulus ini. Saat kuliah di Bangkok dia dipercaya mewakili Indonesia dalam penelitian penyakit menular seksual se-Asia. Semenjak itu dokter yang tetap low profil ini sering diminta menjadi narasumber dalam sejumlah acara. Malahan, ia lebih dikenal sebagai dokter yang menangani masalah seksologi dan kesehatan reproduksi, terutama setelah ia menjadi host dalam acara kesehatan di sebuah stasiun televisi.
Mengapa tertarik memilih seksologi? Dokter Ryan tersenyum, “Banyak sekali yang bisa kita gali dari dunia tersebut, kemudian kita informasikan kepada masyarakat. Misalnya saja, dan ini yang paling sering ditanyakan, mengenai menopause. Banyak wanita yang belum paham tentang seluk beluk masalah menopause sebab kondisi ini masih tertutup. Nah, bagaimana caranya saya melakukan edukasi kepada para wanita sebelum maupun yang sudah masuk masa menopause dan cara merespons kondisi tersebut. Ini agar mereka bisa menjaga kesehatan mereka dan merasa nyaman melewati kondisi tersebut.”
Menurut dr. Ryan pendidikan seks di Indonesia masih sangat memprihatinkan. “Belum terlalu terbuka seperti di luar negeri, tapi sejauh ini –kita tak bisa bicara soal lebih baik atau tidak—di Indonesia sudah banyak dilakukan edukasi bagi masyarakat, terutama wanita dan remaja. Pemberian edukasi yang asik itu yang harus bisa dikuasai oleh narasumber seksologi, agar bisa tersampaikan dengan indah dan menyenangkan.”
Dokter Ryan juga menyarankan agar wanita Indonesia lebih membuka wawasan mengenai dunia seksologi untuk bisa mengetahui informasi yang benar. Segera berkonsultasi bila dirasa ada yang kurang nyaman dirasakan. Begitu juga ketika para ibu mencoba memberikan nasihat yang terkait dengan seks kepada putri remajanya. Dokter Ryan menyarankan agar mencari saat yang tepat, seperti misalnya ketika menonton televisi dan melihat pemain filmnya menggunakan pakaian yang serba ketat atau terbuka, si ibu bisa memberikan nasihat agar putrinya menghindari tampilan yang bisa memancing timbulnya perbuatan asusila. Begitu juga saat berdekatan dengan lawan jenis, hindari kontak fisik. Dan bahwa berciuman pun bisa menimbulkan banyak penyakit dari penularan air liur, itu juga harus disampaikan. Pendidikan seks sejak dini selayaknya diberikan agar para putri bisa menjaga diri.
Ternyata mengasyikkan juga mendengar penuturan Dokter ganteng yang juga master lulusan bidang Anti Aging and Esthetica Medicine dari Universitas Padjajaran, Bandung.
Wanita Impian Belum Kunjung Ditemukan
Sebagai sosok yang tengah jadi pusat perhatian para wanita, pertanyaan ‘siapa pacarnya’ atau ‘bagaimana wanita pilihannya’ kerap ditanyakan pada dr. Ryan. Tetapi Dokter yang senang bekerja keras dan bersemangat ini lebih banyak meresponnya dengan tawa.
“Belum berpikir ke arah sana, masih banyak tugas yang harus saya selesaikan,” ujarnya, “Tetapi kalau soal fisik yang kerap ditanyakan orang, misalnya harus cantikkah, saya anggap fisik itu relatif. Yang penting, kedua belah pihak sama-sama bisa masuk dalam lingkungan keluarga masing-masing,” katanya sambil tersenyum. Apa sudah ada calon pendamping, nih? Dokter Ryan tertawa ceria.
Sebagai pakar seksologi. wanita macam mana yang bakal gampang menarik hati lawan jenis? “Tentunya wanita yang memiliki sex appeal, yaitu kemampuan menunjukkan sisi erotisnya. Sisi erotis atau sensualitas dari masing-masing wanita itu berbeda. Ada yang dari rambutnya, pinggangnya, kulitnya, dan sebagainya. Setiap wanita memiliki sex appeal yang bakal menarik hati lawan jenis yang memang terpesona pada hal tersebut. Tiap orang jelas berbeda rasa ketertarikannya,” tuturnya menutup pertemuan. Mas Adit, asisten dr. Ryan nampak gelisah karena ada kru stasiun televisi yang tengah menunggu. Di tengah sesi foto, saya masih sempat menanyakan impiannya. “Saya ingin buka restoran kesehatan, juga jadi juragan kost,” katanya mantap.
(ditayangkan di Majalah Puan Pertiwi edisi perdana 2014)
Mari mari mari mari sini bosq sayang....
ReplyDeleteBergabung dan main di ROYALQQ.POKER akan lebih pasti bosq...
Semua keluh kesah anda akan terjawab di ROYALQQ.POKER bosq ^^