Banyak orang bilang selfie itu mengasyikan. Meski terkesan
tak berbahaya, ternyata selfie bisa memberikan efek buruk.
Selfie dalam kapasitas tertentu bisa
memberikan citra buruk seseorang, apalagi jika selfie tersebut dipublish di mana-mana. Dia dianggap
berlebihan, pamer, dan akan timbul persaingan.
“Akan
menjadi sebuah gangguan atau hal yang tidak baik, apabila itu dilakukan
berlebihan,” ujar Tara De Thouars, BA, M.Psi, spikolog yang banyak
menangani dunia remaja. “Tandanya orang itu sebegitu minim valuenya, sampai dia
sangat membutuhkan orang lain untuk menyanjung dia atau memvalue dia. Dia akan bergantung pada selfie dan komentar dari
orang lain supaya value-nya naik. Normalnya, tanpa melakukan selfie, tanpa
berpengaruh pada komen-komen di medsos, seseorang tetap mendapatkan value. Tapi
ada orang yang tidak bisa seperti itu, bahkan tidak akan pernah cukup seperti
itu. Sehingga selfie sangat terkait kepada kepercayaan diri atau self esteem seseorang. Saat orang lain
memuji maka dia merasa mempunyai kelebihan sehingga kepercayaan dirinya akan
meningkat.”
Bisakah
selfie mengganggu emosi? Sangat bisa. Seseorang memiliki kecenderungan
bergantung pada komentar orang lain, sehingga dia sangat cemas menunggu
komentar orang. “Giliran mendapat komentar, kita meluapkan ekspresi senang yang
berlebih. Giliran mendapat komentar yang isinya menghujat, dia pun meluapkan
ekspresi kecewanya dengan berlebih.”
Selfie
juga akan menyita waktu dan ini bisa menjadi gangguan. Karena biasanya selfie
tidak akan pernah cukup sekali. Lalu untuk memposting satu foto, berapa waktu
yang akan dia keluarkan? “Mulai dari ia berfoto, mencari foto yang terbaik,
hingga mengedit foto. Bayangkan berapa waktu yang ia keluarkan untuk kegiatan
itu?” ujar Tara. “Coba kita lihat kalau orang itu dalam sehari ia bisa
memposting beberapa foto berarti berapa waktu yang dia habiskan satu harinya
untuk ngurusin selfie? Ini berdampak pada fungsi kegiatan dia sehari-hari. Di kantor
terganggu, di sekolah terganggu, relationship dengan pasangan juga terganggu. Efeknya
ke mana-mana. Sedangkan tanda orang mengalami gangguan adalah ketika dia itu
sudah tidak bisa befungsi secara normal layaknya orang normal dan dia tidak
bisa beradaptasi yang ada dengan baik. Misalkan seharusnya si dia kerja tapi
tidak bisa, dia arus selfie dulu karena dia harus mendapat komentar bagus, itu
sudah gangguan.” (Ditayangkan di Majalah Puan Pertiwi Edisi 2/Th 1)

Comments
Post a Comment