Dampak dari Selfie

Banyak orang bilang selfie itu mengasyikan. Meski terkesan tak berbahaya, ternyata selfie bisa memberikan efek buruk.
Selfie dalam kapasitas tertentu bisa memberikan citra buruk seseorang, apalagi jika selfie tersebut dipublish di mana-mana. Dia dianggap berlebihan, pamer, dan akan timbul persaingan.


“Akan menjadi sebuah gangguan atau hal yang tidak baik, apabila itu dilakukan berlebihan,” ujar Tara De Thouars, BA, M.Psi, spikolog yang banyak menangani dunia remaja. “Tandanya orang itu sebegitu minim valuenya, sampai dia sangat membutuhkan orang lain untuk menyanjung dia atau memvalue dia.  Dia akan bergantung pada selfie dan komentar dari orang lain supaya value-nya naik. Normalnya, tanpa melakukan selfie, tanpa berpengaruh pada komen-komen di medsos, seseorang tetap mendapatkan value. Tapi ada orang yang tidak bisa seperti itu, bahkan tidak akan pernah cukup seperti itu. Sehingga selfie sangat terkait kepada kepercayaan diri atau self esteem seseorang. Saat orang lain memuji maka dia merasa mempunyai kelebihan sehingga kepercayaan dirinya akan meningkat.” 

Foto ekslusif bundaerin.blogspot

 Sebaliknya, ketika dia meng-upload foto dirinya tanpa memilah-milah lalu foto-foto tersebut dikritik atau dihujat, yang terjadi adalah tekanan emosial jika dia tidak siap. Hal itu akan memacu timbulnya gangguan. Menurut Tara, gangguan itu di antaranya, narsistik personality disorder, keyakinan yang salah tentang dirinya, merasa dirinya hebat, sangat ingin jadi pusat perhatian dan biasanya sangat sombong dan arogan. Atau dia mempunyai cara berpikir yang sangat obsesif artinya dia sangat terobsesi dengan melakukan selfie.
Bisakah selfie mengganggu emosi? Sangat bisa. Seseorang memiliki kecenderungan bergantung pada komentar orang lain, sehingga dia sangat cemas menunggu komentar orang. “Giliran mendapat komentar, kita meluapkan ekspresi senang yang berlebih. Giliran mendapat komentar yang isinya menghujat, dia pun meluapkan ekspresi kecewanya dengan berlebih.”
Selfie juga akan menyita waktu dan ini bisa menjadi gangguan. Karena biasanya selfie tidak akan pernah cukup sekali. Lalu untuk memposting satu foto, berapa waktu yang akan dia keluarkan? “Mulai dari ia berfoto, mencari foto yang terbaik, hingga mengedit foto. Bayangkan berapa waktu yang ia keluarkan untuk kegiatan itu?” ujar Tara. “Coba kita lihat kalau orang itu dalam sehari ia bisa memposting beberapa foto berarti berapa waktu yang dia habiskan satu harinya untuk ngurusin selfie? Ini berdampak pada fungsi kegiatan dia sehari-hari. Di kantor terganggu, di sekolah terganggu, relationship dengan pasangan juga terganggu. Efeknya ke mana-mana. Sedangkan tanda orang mengalami gangguan adalah ketika dia itu sudah tidak bisa befungsi secara normal layaknya orang normal dan dia tidak bisa beradaptasi yang ada dengan baik. Misalkan seharusnya si dia kerja tapi tidak bisa, dia arus selfie dulu karena dia harus mendapat komentar bagus, itu sudah gangguan.” (Ditayangkan di Majalah Puan Pertiwi Edisi 2/Th 1)


Comments