Curahatan Hati Ibunda Rafi, Desainer Termuda di Dunia


Suatu pagi di penghujung 2014, saya mendapat kesempatan berbincang dengan seorang ibu muda yang tangguh. Cinta yang luar biasa menjadikan anak sulungnya, penderita tuna rungu, menjadi desainer termuda--- di dunia! Pagi itu kami berbincang di sebuah rumah makan persis di depan sekolah anaknya, Raffi.

Inilah curahannya:



bundaerin.blogspot.com

bundaerin.blogspot.com



Dalam Hening Dia Torehkan Ribuan Prestasi

Orangtua mana yang tak patah hatinya, saat janin dalam kandungan divonis lahir dengan beberapa kekurangan akibat Rubella. Tapi saya yakin, doa adalah perangkat yang paling kuat. Dari 3 cacat yang disebut dokter, saya terus-terusan memohon, jangan pada matanya. Dia harus melihat dunia. 

Saat mendengar dia dinobatkan sebagai Tokoh Muda Mendunia pilihan sebuah stasiun televisi, hati saya meluap bahagia. Di sekitar saya penuh warna-warna indah, warna-warna yang selama ini disukainya. Di atas panggung itu, di saat menemaninya menerima piala penobatan, saya berusaha menahan air mata haru. Putra sulung saya, Rafi Abdurrahman Ridwan, di usianya yang baru menginjak 12 tahun telah berhasil mengguncang dunia lewat goresan desainnya.



Aku si Anak Manja yang Harus Menerima Kenyataan
Sebagai bungsu dan perempuan satu-satunya, saya menerima perhatian yang luar biasa dari keluarga. Mama atau kakak saya selalu mendampingi saya ke mana pun saya pergi. Bahkan ketika saya sudah mulai berpacaran, orangtua saya tetap mendampingi acara-acara kencan saya. Mungkin bagi gadis lain ini sangat mengganggu. Tetapi bagi saya ini adalah bentuk kasih yang luar biasa. Saya meresponnya dengan suka cita. Tak ada orangtua yang ingin anaknya salah jalan atau disakiti. Tumbuh di tengah keluarga yang selalu mensupport dan melindungi justru tidak membuat saya menjadi anak manja. Saya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan menghargai kasih sayang. Saya bersyukur sebab perhatian merekalah yang kemudian membuat saya jauh lebih kuat ketika saya harus menghadapi masa-masa sulit yang tidak pernah saya duga.

Suatu hari saya terserang demam. Saya pikir itu adalah demam biasa sehingga saya tak terlalu cemas. Justru Mas Ridwan, suami saya, yang begitu cemas dan mendesak saya untuk kontrol ke dokter. Kami mengunjungi dokter langganan yang sejak kecil mengurusi sakit saya. Waktu kecil, saya pernah terjatuh dari sepeda yang membuat tulang panggul saya menyempit. Efek dari itu saya mengalami gangguan menstruasi yang terus menerus sampai sekarang, sehingga saya harus tetap kontrol. Ketika memeriksa demam saya, dokter malah memberitahu bahwa saya sedang hamil. Untuk memastikannya, saya dianjurkan memeriksakan diri ke dokter kandungan. Ternyata saya memang hamil. Tentu saja ini kabar yang sangat membahagiakan.

Ketika saya kembali ke dokter langganan untuk kontrol, saya sampaikan kabar gembira itu. Dokter langganan yang sudah seperti keluarfga itu ikut merasa senang. Namun, beliau mencurigai munculnya komplikasi dari sakit saya. Terutama ketika mendapati bintik-bintik merah yang kasat mata di kulit saya. Dengan sangat hati-hati beliau menyampaikan bahwa kemungkinan saya terkena virus Rubella yang dapat mengganggu pertumbuhan janin. Semula saya belum paham apa yang dikatakan dokter. Barulah ketika dokter menjelaskan lebih detail dan berkata bahwa saya harus membuat pilihan, saya seperti mendengar petir di tengah terik siang hari.



Rubella Menempatkan Saya pada Pilihan
Anda tahu, ketika kita diberi hadiah besar tetapi kemudian hadiah itu diambil kembali? Tentu sakit sekali rasanya. Saya masih tercenung tak percaya dengan perasaan yang sangat sulit saya gambarkan. Malam harinya, sepulang dari dokter, Mas Ridwan meyakinkan saya. “Kita sudah diberi kepercayaan olehNya. Maka mari kita jaga kepercayaan itu. Bismillah kita bisa menghadapinya.” Saya melihat kesungguhan di matanya. Saya tahu, dia adalah orang yang berpikir matang dalam segala hal dan terpola. Secercah harapan muncul di hati saya. Saya berdoa terus menerus agar saya dan Mas Ridwan diberi ketetapan hati dan kelapangan dalam menerima ini semua.

Restu dari orang terpenting dalam kehidupan saya sudah saya dapatkan. Kini ada pihak yang juga harus tahu tentang ini, pihak yang selalu mendampingi dan melindungi, yaitu orangtua saya. Ternyata orangtua saya sependapat dengan Mas Ridwan. Malahan beliau berjanji akan terus mendampingi saya dan berkomitmen bahwa ini adalah ‘hadiah’ bersama yang harus dipikul dan ditanggulangi bersama. Mereka siap dengan hal yang paling buruk, asal saya yakin bahwa ini adalah benar-benar pilihan saya. Alhamdulillah. Restu dari suami dan orangtua membuat saya sedikit lebih tenang dalam menghadapi masalah ini.

Saya pun menjalani berbagai tes. Benar, hasil tes menegaskan bahwa saya terkena virus Rubella yang cukup tinggi. Janin yang saya kandung nanti kemungkinan akan mengalami gagal jantung, kebutaan, atau tuli. Memang cukup membuat shock, namun, saya yang sudah membawa bekal keyakinan bahwa saya akan menerima apa pun yang Tuhan berikan, membaca hasil tes itu dengan lapang.

Kemudian saya kembali ke dokter dan menyatakan tentang pilihan saya. Dokter terkejut. Lagi-lagi dia meyakinkan tentang resiko-resiko yang akan saya hadapi kemudian hari. “Shinta, kamu harus ingat ini adalah komitmen seumur hidup. Jangan melihat dari posisi kamu, tapi lihatlah dari posisi anakmu nanti, kuatkah dia menerima kondisinya yang berbeda dengan anak-anak lain!” Saya kembali goyah. Ya, ini bukan soal seberapa saya bisa menerima takdir ini, tapi bagimana anak saya nanti bisa menjalani hidupnya dengan kondisi yang berbeda. Lagi-lagi, Mas Ridwan dan keluarga besar menguatkan saya. Mereka tetap dengan janji mereka, akan selalu berada di samping saya. Akhirnya saya tetap tegas mengatakan akan menjaga janin ini. Dokter tak bisa berkata lain. Melihat kesungguhan saya, akhirnya dia pun berjanji akan mensupport saya dan janin yang saya kandung dengan semaksimal mungkin. Saya dianjurkan untuk terus kontrol dan mengkonsumsi obat-obatan yang akan mensupport kesehatan janin. Tak tanggung-tanggung, 15 butir pil setiap hari!

Saya lewati masa kehamilan dengan harus disiplin meminum obat dan menjaga kandungan saya dengan baik. Akhirnya pada 20 Juli 2002, seorang anak laki-laki lahir dari rahim saya. Proses persalinan yang cukup sulit, dikarenakan panggul saya yang sempit. Rasa sakit yang luar biasa dan kelelahan yang nyaris membuat saya putus asa, hilang lenyap saat melihat ia lahir. Untuk sesaat saya bahkan tak ingat tentang vonis dokter, serta resiko-resikonya. Saya hanya melihat bahwa bayi dalam buaian saya dalam keadaan sehat.

bundaerin.blogspot.com




Akhirnya Vonis itu Jatuh pada Pendengarannya
Kami memberinya nama Rafi Abdurrahman Ridwan. Kami berharap dia kelak menjadi hamba Allah yang baik pada sesama dan mempunyai derajat yang tinggi.

Di usia yang baru beberapa minggu, saya melihat ada yang berbeda dengan mata Rafi. Kotoran selalu keluar dari matanya yang tidak merespon cahaya. Saya harus sering-sering membersihkan matanya. Saya jadi teringat pada vonis dokter. Tapi saya tak ingin menyerah. Dengan dukungan keluarga, saya pun memilih pengobatan alternatif dan terapi. Saya juga mengikuti berbagai info mengenai pengobatan mata. Mulai dari memancing respon matanya dengan warna-warna yang meriah, mengecat rumah dengan berbagai warna yang cerah, dan rajin membawa Rafi ke Kebun Raya untuk melihat yang hijau dan segar. Berbulan-bulan itu kami lakukan. Entah di hitungan bulan keberapa, akhirnya saya melihat reaksi yang positif. Kedua mata Rafi mulai merespon cahaya dan warna-warna di sekitarnya. Ya, Tuhan. Saya begitu senang. Puji syukur yang tak terkira terus menerus saya ucapkan. Apalagi ketika saya membawa Rafi untuk kontrol ke dokter dan dokter menyatakan penglihatan Rafi mulai bekerja dengan baik.

Sampai usia Rafi menginjak 1 tahun, Rafi belum bisa berjalan. Dia juga belum bisa mengucapkan sapatah kata pun dan tidak merespon suara di sekitarnya. Setiap saya memanggilnya, dia tak bereaksi. Dia baru bereaksi bila saya memanggilnya dengan sentuhan. Saya kembali didera ketakutan. Mas Ridwan yang tahu betul apa yang saya rasakan, kembali mengingatkan saya bahwa semua harus kami lalui dengan sabar dan ikhlas. Saya kembali menguatkan diri dan meminta kepada Gusti Allah. Bila kemarin Allah telah memberi jalan keluar untuk penglihatannya, saya yakin Allah pun akan memberi jalan keluar untuk masalah kesehatan Rafi yang lain.

Suatu hari, sepulang bekerja, Mas Ridwan membawakan saya 10 buah balon yang sudah ditiup. “Kita tes pendengarannya,” ujarnya. Balon pertama kami letuskan, Rafi tak bereraksi. Balon kedua, Rafi juga tak bereraksi. Balon ketiga, keempat... satu persatu balon itu kami letuskan di dekatnya. Rafi tetap tak bereaksi sama sekali. Saya memandang Mas Ridwan dengan kecemasan yang tak lagi bisa saya tutupi. Saya mulai menangis. Sebelum meletuskan balon yang terakhir, Mas Ridwan menggenggam tangan saya dengan kuat. “Kita pasrahkan semua padaNya,” bisiknya. Ketika balon terakhir itu diletuskan dan Rafi tetap tak bereaksi, tangis saya pecah. Mas Ridwan yang selama ini begitu kuat pun bergetar menahan sedihnya. Dia memeluk saya erat-erat. Dibisikkannya kalimat-kalimat yang menguatkan saya.

Dokter THT yang kami kunjungi akhirnya mengatakan bahwa pendengaran Rafi tidak berfungsi. Rafi tuli. Rafi tak bisa mendengar. Tangis saya memang tak sederas kemarin ketika melakukan tes balon itu, tetapi hati saya tetap perih. Yang terselip dalam hati saya adalah janji saya untuk menerima apa yang Tuhan takdirkan. Jika memang inilah nikmat saya dari Gusti Allah, maka akan disediakanNya nikmat lain berupa kesabaran, kekuatan dan jalan keluar bagi kami. Kami yakin, Gusti Allah tak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hambaNya.



Bahasa Cintanya adalah Pelukan
Saya tahu, saya tak boleh terkungkung dalam keadaan ini. Dia buah hati saya, hadiah dari Tuhan yang begitu indah. Ketika Tuhan mempercayakan seorang anak lagi, saya betul-betul berhati-hati dalam menjaga kandungan. Alhamdulillah, adik-adik Rafi lahir dengan sehat dan sempurna.

Saya belajar berkomunikasi dengan Rafi dengan menggunakan isyarat tangan, gerak bibir dan juga bantuan gambar. Rafi menjadi terbiasa dengan aneka gambar sejak usia dini.

Untuk memberi hiburan padanya, saya memasang tivi kabel di rumah agar Rafi bisa menikmati tontonan film kartun yang warna-warnanya bisa merangsang penglihatannya. Dari sekian tayangan, Rafi senang menonton film Ariel dan Litlle Mermaid. Suatu hari Rafi protes kepada saya mengapa Mermaid yang dilihatnya hanya mengenakan pakaian dalam, sementara sebagai perempuan, harus memakai pakaian yang tertutup. Lalu saya melihat Rafi menggambar Mermaid persis seperti yang dilihatnya di tivi, namun dengan pakaian lengkap menutup semua tubuhnya. Rafi membuat rancangan baju Mermaid itu dengan indah. Saya sempat terkejut. Bagaimana dia bisa menggambar desain baju Mermaid dengan sempurna untuk usianya yang baru 3 tahun? Belakangan saya tahu ternyata selain tayangan Ariel dan Little Mermaid, Rafi juga senang melihat tayangan fashion show di tivi kabel itu. Katanya acara itu bagus dan ‘ramai’. Ya, Tuhan. Mendengarnya saya bagai direjam aneka perasaan yang bercampur aduk. Rafi mencari ‘keramaian’ dunianya lewat tayangan gerak, lenggak lenggok, dan detail desain busana yang memikat penglihatannya. Di sinilah kesadaran saya sedikit demi sedikit terasah, Rafi membutuhkan keramaian di dunia sepinya, dan itu tidak harus suara!

Berangkat dari itu, saya menyisihkan waktu untuk menemaninya menggambar, sambil mengasuh adik-adiknya. Rafi menggambar apa saja yang dilihatnya di tayangan tivi, tapi yang disukainya adalah menggambar rancangan baju. Setiap hari berhelai-helai kertas dia habiskan. Bahkan hampir setiap minggu Rafi minta dibelikan alat-alat gambar.

Melihat semangat Rafi, akhirnya saya mengajaknya melihat fashion show sungguhan. Rafi terlihat senang sekali. Sekali waktu ada fashon show di Kelapa Gading, saya mengajak Rafi sekaligus berkenalan dengan Barli Asmara, desainer terkenal, yang menggelar acara itu. Sengaja saya tunjukkan gambar-gambar Rafi. Ternyata Barli terkesan dengan kemampuan dan keistimewaan Rafi. Yang mencengangkan ketika Barli mengajak Rafi berkolaborasi dalam fashion show. Ya, Tuhan. Itu seperti hadiah luar biasa. Peragaan busana itulah yang kemudian mempertemukan Rafi dengan Lia Candrasari, salah satu pengurus LC Foundation. Yayasan ini lalu mengupayakan pengobatan telinga kanan Rafi hingga ke Singapura. Rafi pun bisa menggunakan alat bantu dengar, yang belakangan malah sering ia keluhkan mengganggunya. Yayasan ini jugalah yang mendanai seluruh pengeluaran Rafi untuk berpartisipasi dalam Jakarta Fashion Week 2012. Tuhan Maha Adil. Rasa syukur saya ucapkan terus menerus.






Dalam Hening Dia Torehkan Ribuan Prestasi
Mimpi Rafi telah terwujud, menyusul mimpi-mimpi lainnya yang ia rajut. Dari melihat pagelaran busana, lalu berkolaborasi dengan desainer terkenal, Rafi pun menggelar peragaan sendiri. Saya tahu ini bukan lagi sekedar mimpi, tetapi upaya dan kerja keras. Saya tahu, Tuhan melimpahkan cobaan sebagai ujian, lalu memberikan kenikmatan ini juga sebagai ujian. Dengan segala keterbatasannya, Rafi diberi cobaan juga nikmat yang luar biasa di usianya yang masih belia. Setiap kali mendampingi Rafi, saya tak lupa mengingatkan agar Rafi tetap menjadi sosok yang rendah hati dan selalu menolong.

Kini rancangan Rafi bahkan sudah merambah peragaan busana luar negeri, di antaranya Spanyol dan Amerika. Nama Rafi yang semakin meroket dan didengar banyak kalangan, membuat Tyra Banks, model dan selebriti terkemuka asal Amerika Serikat, tertarik. Tyra Banks meminta Rafi menyiapkan baju untuk acara America’s Next Top Model di Bali. Tuhan, nikmat mana lagi yang aku dustakan?

Ini bukan berarti perjuangan saya selesai. Saya mempunyai tugas dan tanggungjawab yang lebih besar lagi; mendampingi Rafi agar lebih rendah hati, ingat pada sesama, dan selalu ingat Pada Yang Kuasa. Putra sulung saya yang tuna rungu, kini telah menjelma menjadi desainer dunia paling muda. Namun, dia tetaplah seorang bocah 12 tahun dengan segala sifat kekanakannya. Dia masih suka merajuk, ngambek, dan bermanja-manja di pelukkan saya. Saya tidak mau kehilangan itu.*


Dilarang keras mengkopas atau mengambil bagian dari liputan ini tanpa ijin!


Comments