Hidup adalah perjalanan. Di tiap langkah ada perjuangan.
Melewati tikungan, persimpangan, kerikil, aspal, lumpur, genangan, persinggahan, banyak pemberhentian, dan rambu.
Meski sudah menemukan apa yang kita cari, nyatanya kita terus saja melangkah.
Ya, itulah hidup. Itulah perjalanan.
Saya tahu, bahwa langkah saya belum berhenti meski saya sudah menemukan tempat yang selama ini saya cari. Sebuah media di mana saya bisa menyumbangkan berbagai ide dan kemampuan untuk mengembangkannya menjadi sebuah media besar; Story Teenlit Magazine.
15 Juni 2009, saya bergabung di PT NKB. Melalui kerja keras dan lembur hingga pukul 1-2 dini hari, yang nyaris setiap hari selama satu bulan lebih, akhirnya pada 25 Juli 2009 saya dan tim berhasil meluncurkan sebuah media berformat literasi remaja. Dengan tebal 108 halaman full colour dan ekslusif! Tepat di tanggal terbit perdana itu kami juga melaunchingnya besar-besaran dengan membagikan edisi perdana, GRATIS untuk 450 tamu yang datang di acara super mewah itu. Masih saya ingat betul ketika saya menerima potongan tumpeng dari Mas Cahya Sadar sebagai simbol kepercayaan yang diberikan management PT NKB kepada saya untuk mengasuh dan membesarkan majalah remaja ini.
Menyenangkan membidani dan mengasuh majalah yang berbeda dari majalah lain. Terutama ketika sambutannya luar biasa dan semarak di group Story Teenlit Magazine Official Group FB.
Ough, mengapa saya harus berpanjang-panjang di atas....
Sehabis Hari Raya Lebaran 2013, berita tak menyenangkan harus kami terima. Kami? Ya, seluruh awak kantor. Disusul dengan perombakan dan pembenahan seluruh aparat di dalamnya.
Saya tak akan menceritakan apa pun tentang hal tersebut, namun saya ingin mengulas pendapat saya tentang faktor kontrol yang nyatanya kerap luput dari perhatian.
Yang harus dilakukan oleh tiap media untuk memperbaiki perencanaan manajemen usahanya adalah koordinasi yang baik antar divisi; redaksi, promosi, marketing, sirkulasi dan distribusi. Masing-masing harusnya memahami posisinya untuk mengembangkan dan membina pelanggan serta kelangsungan masa depan sebuah produk (majalah).
Menurut saya, dalam menjaring pelanggan/pembaca setia, sebelum mengetahui apa yang mereka inginkan, hendaknya melakukan pendekatan. Itu bisa dilakukan dengan mengadakan interaksi langsung dengan mereka. Itu sebabnya mengapa saya membuat group untuk Storylovers.
Sapaan hangat setiap pagi, siang dan malam, serta berbagai dialog di sana, adalah kedekatan dan ikatan yang nanti akan menggiring mereka dalam mengeluhkan unek-unek dan menyampaikan aspirasinya. Bahwa jualan bukan sekadar jualan, tetapi meluaskan jaringan dan membuat pendekatan psikis. Interaksi yang baik menjadikan penjual dan pembeli bagaikan keluarga.
Sayang, itu yang tak dipahami.
Kembali lagi...
Sampai kemudian salah seorang pimpinan perusahaan mengusulkan agar saya lebih 'mendandani' Story. Bukan sekadar menambahkan beberapa rubrik dan info remaja, tetapi juga mengubah formatnya.
Saya berusaha bersikukuh. Sayang, bisik-bisik tim marketing ternyata lebih mendominasi.
Entah bagaimana saya harus menceritakan ini semua. Dalam perjalanan hidup kita acap menemukan hal tak terduga.
Majalah yang baik adalah majalah yang memiliki fungsi atau manfaat. Manfaat untuk para pembacanya maupun manfaat untuk penerbitnya sendiri. Setiap majalah memiliki manfaat yang berbeda, karena setiap majalah memiliki target segmentasi yang berbeda pula.
Sementara fungsi majalah untuk pembaca; adalah sebagai sumber informasi, sebagai media komunikasi, sebagai penyalur aspirasi, sebagai penyemai demokrasi, sebagai media promosi, sebagai media pembelajaran berbasis baca-tulis, sebagai media penyaluran bakat dalam bidang penulisan, sebagai peningkatan kreatifitas, dan juga sebagai penghibur.
Ketika sebuah media akhirnya tak mampu meraih pasar terbanyak, ini yang terlupakan: bahwa faktor lain yang juga terkait haruslah dikontrol ulang, bukan sekadar mengobok-obok kontennya saja.
Perubahan konten pun mestinya dilakukan matang-matang dengan waktu yang memerlukan pemikiran panjang, lewat survey, polling, penyediaan SDM yang berkualitas, dan mendalami pasar. Bukan sim salabim, tring!
Saya tidak bilang bahwa saya menolak perubahan itu. Tapi, ya, saya bilang, bahwa saya menyesali perubahan yang tak menggunakan survey dan pematangan lebih dulu.
Menyedihkan saya harus melepas kewenangan akan majalah yang sudah mencerahkan saya dan pembaca setianya ini. Ya, betul, saya tak ke mana-mana, masih di sana, masih di dalamnya, tapi tak lagi bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti alur yang kini berlaku.
Nilai utama yang harus dipenuhi oleh produsen dalam meningkatkan daya saing produknya:
- Operational Excellence
Suatu nilai di mana produsen harus selalu menjaga efisiensi dan meningkatkan kualitas dari sistem atau proses penghasil produk maupun sistem pelayanan yang diberikan untuk dapat lebih memuaskan konsumen.
- Customer Intimacy
Dalam hal ini merupakan suatu nilai di mana produsen harus dapat bisa memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen terhadap suatu produk yang di pasarkan. Suatu produk atau jasa yang baik tidak hanya sekedar dapat memenuhi apa yang menjadi kebutuhan dasar dari konsumen, tapi sebaiknya juga dapat memenuhi apa yang menjadi kebutuhan yang mendalam (deeply need) dari konsumen.
- Product Leadership
Product Leadership merupakan nilai-nilai yang harus dianut oleh setiap produsen dengan mendasar pada keunggulan-keunggulan untuk terus menerus melakukan inovasi pada produk maupun jasa yang dihasilkan, sehingga produk tersebut dapat menjadi leader dalam industrinya.
Dalam nilai semacam ini sangatlah dibutuhkan sebuah kreatifitas yang sangat tinggi serta kecepatan dalam membaca kebutuhan pasar. Terutama kebutuhan yang terselubung agar dapat meraih keunggulan. Namun, penerapan nilai ini juga harus tetap dapat memenuhi tuntutan dari nilai Customer Intimacy, sehingga inovasi yang dilakukan selalu dapat sesuai dengan kebutuhan dan harapan konsumen.
Sebuah perusahaan media berbasis pelanggan hendaknya menggunakan strategi bersaing dengan mengoptimalkan basis pelanggannya. Permasalahan dalam melakukan optimalisasi meliputi pemahaman karakteristik dan segmen pelanggan serta bagaimana memilih dan mengembangkan segmen pelanggan tersebut.
Upaya untuk memahami pelanggan dimulai dengan melakukan penelitian tentang karakteristik pelanggan kemudian dikelompokkan dalam segmen - segmen pelanggan. Dan jangan abaikan pendekatan psikis lewat interaksi intens!
Upaya untuk memahami pelanggan dimulai dengan melakukan penelitian tentang karakteristik pelanggan kemudian dikelompokkan dalam segmen - segmen pelanggan. Dan jangan abaikan pendekatan psikis lewat interaksi intens!
Itu yang saya dapatkan dari ilmu management pemasaran yang pernah saya pelajari.
Saya sempat shock. Tidak mudah berdamai dengan kondisi itu. Apalagi saya dipasangkan dengan sosok yang sangat bertolak belakang. Sempat terpikir untuk menyerah, tetapi....
Sebagian sahabat saya yang merupakan senior di media, menyarankan saya untuk bertahan meski dengan perubahan-perubahan itu. Karena menurut mereka, 'nyawa' Story ada dalam 'Bunda Story'. Jika bundanya pergi, mereka yang sudah sangat kecewa dengan perubahan itu akan semakin terpuruk.Tak banyak redaktur yang mau sedekat itu dengan pembacanya. Jadi jika saya terpuruk, maka mereka lebih terpuruk lagi. Jika saya pergi karena perubahan itu, artinya saya telah mengecewakan Storylovers dua kali.
Ya. Kita kerap menyemangati orang lain dan memberikan motivasi. Namun, kita seringkali kesulitan memotivasi diri sendiri. Saya seperti di persimpangan.
Edisi 46 dan edisi 47, saya bisa bernapas meski telah pepat.
Di edisi 48, saya diberi bos baru. Hmm, di sinilah dimulainya tabrakan-tabrakan yang menghasilkan migren berkepanjangan.
Dan di edisi 50, saya sadar, saya sudah berada di dunia baru yang harus saya jalani dengan tetap harus profesional.
Lalu munculah edisi 51, yang meledakkan apa yang sangat saya khawatirkan. Edisi yang membuat Storylovers sebagian meradang, dan menghantam dengan berbagai pertanyaan, kritik pedas, hujatan, dan segala hal yang menyerang. Karena mereka hanya 'mengenal' saya, maka tak heran kalau semua itu mereka lampiaskan ke saya. Jadilah saya tertuduh, hiks.
Dan untuk 'mempertanggungjawabkan' semua itu, saya mempostkan sedikit pencerahan agar pembaca mengerti bahwa mau tak mau kami memang harus berubah. Inilah Keluh Kesah mereka. Dan kini Story harus tetap berjalan dengan perubahan dan pembaruan yang semoga saja ke depannya akan membawa kebaikan. Betulah? Amin. KIta lihat saja nanti....
Kenangan....
Story Teenlit Magazine di Masa Lalu (klik di sana)
Covernya manis, dengan judul-judul cerpen bertebaran, nampak menghanyutkan.

Story masa kini, dengan tagline yang berubah. Tak lagi 'Teenlit Magazine' melainkan 'Cheer up'. Tagline itu memang saya yang memilihnya, berdasarkan perintah atas perubahan format; dari literasi menuju edutainment. Covernya penuh dengan aneka info.
Hidup adalah pilihan. Dan saya tak punya pilihan lain. Kecuali mengabdi dan tetap memperjuangan majalah yang menjadi cinta setengah mati saya.



Comments
Post a Comment