Kenapa ditulis di judulnya 'untuk penulis pemula'?
Yang paling menyebalkan adalah ketika kita hendak memulai menulis. Ide sudah ada, gambaran cerita sudah mantap, bahkan kerangka karangan sudah disusun dengan cermat. Namun apa yang akan ditulis untuk mengawalinya? Delete lagi, backspace lagi...
Akhirnya 1 jam terbuang tanpa sebaris kalimat pun. Bisa dibayangkan, bagaimana perjuangan penulis bahkan untuk memulai kalimat pembuka. Maka, kibarkan bendera merah untuk plagiator!
Kalimat pembukaan di paragraf awal, adalah hidup dan matinya daya tarik pembaca. Terdengar kejam, tetapi begitulah. Pembaca akan enggan meneruskan kalau awalan ceritanya saja sudah membosankan. Untuk sebuah karya (cerpen, novel) pertaruhannya memang ada di awal paragraf. Jika kalimat pembukanya menarik, maka orang terus membaca sampai tuntas. Sebaliknya, jika kalimat pembukanya tidak menarik, maka pembaca akan segera menutup bacaannya jauh sebelum tanda 'tamat'.
Tetapi.... tunggu.
Apakah itu hanya berlaku untuk penulis pemula, untuk level penulis yang belum punya nama, atau belum terkenal? Iya! Seperti yang tertulis di judul artikel ini. Kejam? Iya!
Sekarang mari kita ingat lagi, saat kita mencicipi masakan, misalnya. Cukup seujung sendok saja. Sedap? Nah, pasti ketagihan. Kita akan minta tambah sesendok lagi, lagi, lagi, lagi...
Begitu juga dengan tulisan. Rajikan yang sedap di paragraf awal akan menarik orang untuk membaca sampai paragraf terakhir. Apalagi dengan susunan yang asik dibaca. Seperti inilah resep yang cocok untuk penulis pemula.
Hukum itu mungkin tidak berlaku bagi para penulis senior atau yang sudah ngetop. Karya mereka sudah jaminan mutu. Pembaca telah menggenggam referensi dari karya sebelumnya. Bahkan, jika suatu kali kalimat pembukanya tidak cemerlang lagi, pembaca akan tetap seperti dicucuki ingatan akan kehebatannya sehingga akan terus membaca karyanya sampai selesai.
Para penulis senior itu cukup memikirkan isi cerita yang harus lebih bagus dari karya sebelumnya. Para pembacanya akan tetap setia meneruskan membaca sampai ke paragraf berikutnya, karena pastinya pembaca akan menemukan cerita yang istimewa di dalamnya dari sekadar tertarik dengan paragraf awal.
Berbeda dengan penulis pemula, selain berpikir keras untuk bisa mendapatkan kalimat pembuka yang menarik, mereka juga ditantang untuk pandai-pandai memilih judul. Berbeda dengan penulis senior, judul apa pun yang dipakai tetap saja diburu.
Iri? ya harus! Merasa terintimidasi dengan perbedaan 'pemula dan senior'? Ya wajar. Di mana-mana yang namanya pemula memang baru belajar, dan harus belajar dari karya senior. Sementara yang namanya senior sudah makan asam garam dalam pergulatannya menuju popularitas.
Ayo, kita harus semangat latihan, belajar lagi, semangat lagi. Agar kita bisa berada pada posisi 'senior', di mana para pembaca menunggu karya-karya kita tanpa perlu menimbang-nimbang judul atau paragraf awal yang disuguhkan. Karena senior pun telah melalui tahapan yang sama dengan pemula. Karena senior pun telah melewati berbagai perjuangan, sampai akhirnya mereka bisa menikmai hasilnya. Karena menulis adalah proses, bukan sim salabim.
Mengawali cerita memang menggemaskan susahnya. Namun, kita bisa mencari tahu bagaimana Agar Mudah Menulis Paragraf Awal.
1. Tulis kalimat pertanyaan
Layaknya kita membuka percakapan dengan teman.
Contoh: “Masa dia bilang begitu?”
atau
Mengelabuinya? Astaga, aku tak percaya dia sampai menuduhku seperti itu. Bayangkan... blabla...
2. Menyertakan anekdot
Menampilkan kalimat lucu atau candaan yang bisa menarik perhatian.
Contoh : Kalau Sarmin menganggap aku seperti Luna Maya, kupastikan matanya sedang kelilipan. Luna Maya dari atas monas, mungkin iya.
3. Memasuki pikiran pembaca
Bisa dengan membuka ingatan pembaca akan suatu hal.
Misal: Aneh banget nggak sih, kalo aku disebut-sebut telah menggeser posisi Luna di hati Ariel?
4. Memakai perumpamaan analogi
Rambutnya bagaikan mayang terurai. Panjang, hitam legam dan wangi. Hidungnya bangir dengan bulu mata lentik. Sayang dia tak pernah menyadari kecantikannya.
5. Menyodorkan data
Membuka paragraf dengan data yang mengejutkan.
Misal : Dari 152 siswa SMA Mawar, tak satu pun yang berhasil memikat hati Yoana. Dia tetap cuek dan seolah tak peduli.
Umumnya paragraf pembuka terdiri dari sekitar 50 kata. kata, bukan kharakter. Tetapi itu tak menjadi soal, karena banyak juga penulis senior yang menggunakan paragraf awal berpanjang-panjang.
Jika teknik di atas kurang bisa ditangkap, cara di bawah ini yang saya gunakan, sebagian saya ambil dari berbagai sumber kepenulisan.
1. Memunculkan masalah
Memunculkan masalah yang harus diselesaikan oleh karakter adalah pembukaan yang paling asik dan biasanya dilakukan para penulis senior. Pembaca (dan manusia umumnya) tertarik pada masalah--khususnya yang terjadi pada orang lain.
2. Memulai Dengan Aksi
Jenis pembukaan ini langsung melompat ke tengah cerita. Sebuah insiden memotong semua latar belakang yang bertele-tele (biasanya hadir dalam draft awal) tepat saat aksi karakter mengambil alih cerita.
3. Memberikan Garis Besar Cerita
Pembaca bisa mengidentifikasi garis besar cerita hanya dengan membaca paragraf pertama.
Tapii, resikonya lumayan, loh. Karena pembaca udah gak penasaran lagi sama isi ceritanya sebab sudah dibeberkan, kecuali informasi penting mengenai motif karakter.
4. Mengisyaratkan Bahaya (Ketegangan)
Pembukaan ini memberi pertanda kepada pembaca tentang bahaya yang menghampiri karakter – Manusia menyukai ketegangan, sebenarnya.
5. Menampilkan Lokasi Cerita
Membuka dengan tempat kejadian hanya jika tempat tersebut berperan besar dalam cerita
Untuk menyemangati para pemula, saya pun membuat ajang kecil-kecilan di Group FB Majalah Story. Ada 20 peserta yang memikat hati saya. Namun, tentunya saya hanya memilih satu saja! Oh, baiklah, dua saja!
Bayangan dari masa lalu menari indah di kepala. Saat Nanda berangkat sekolah kau sudah tiada di rumah. Pergi ke kantor, Ibu berkata. Sepulang sekolah, kau juga tiada di rumah. Belum pulang, Sayang, lagi-lagi Ibu berkata. Nanda lalui hari dengan gembira, laiknya anak-anak yang lain. Kelas dua sekolah dasar belum membuat Nanda bisa berpikir hal lain, selain belajar dan bermain. Sorenya kau datang dengan sekantung buah tangan, yang segera habis di tangan Nanda dan adik-adik. Kau hanya tersenyum, sambil Ibu mencium punggung tanganmu, yang kemudian kami tiru. Hari demi hari berlalu dengan skema yang sama dan sedikit pernik berbeda tiap episode harinya. Sampai kau mendapat tugas belajar di provinsi tetangga. Jauh nian Nanda rasa saat itu.
Peluru telah ditembakkan ke udara. Sumpah serapah terlanjur terucap. Tuhan terlupa dalam sekejab. Ternyata cinta bisa juga salah, selama kau hanya tanya mengapa, lupa bagaimana. Hanya karena melulu meminta dicintai dengan sangat, lakimu lupa mencintaimu dengan benar. Sekarang, selain kesal, kau mengenal rasa baru. Sesal. Dan dari titik inilah, kisah ini dimulai
Mengapa aku memilih dua paragraf ini?
Pertama, susunan kalimat awalnya sederhana, tak membuat jidat berkerut. Gagasan ceritanya mulai tertangkap, struktur penceritaannya mengalir tenang, dan membuat aku penasaran untuk melanjutkan membacanya.
Aku meminta pemenang dengan nomor urut pertama untuk melanjutkan paragrafnya menjadi sebuah cerita, jika ia berhasil, naskahnya akan aku upayakan tayang di edisi selanjutnya.
:)
Have nice day....
