Sosok Inspiratif..., adalah Figur Idola


Maret lalu, aku membuat ajang lagi di Erin n Friend tentang figur idola. Pengumuman peserta serta pemenangnya sudah terpampang di sana.
Waw... Membaca 20 naskah ajang 'Figur', yang berlangsung sejak 15 Februari dan berakhir pada 13 Maret lalu, membuat benakku penuh dengan ragam sosok yang sangat istimewa. Sosok yang penuh kharisma dan menjadi kebanggaan, hingga kita -peserta- menempatkannya sebagai idola.

Figur, atau sosok, bentuk, wujud, tokoh, --yang menjadi pusat perhatian.Dan 'figur' di ajang ini adalah sosok yang mempunyai nilai lebih hingga menjadi sumber inspirasi dan kekaguman menurut versi peserta, meskipun dalam ajang ini 'figur' yang dimaksud bukan selalu 'publik figur'.

Berbanding dengan ajang 'Cinta' kemarin, naskah peserta ajang 'Figur' jauh lebih sedikit. Namun, aku menemukan kisah-kisah yang dahsyat dengan uraian kalimat yang lebih kuat di sini. Peserta mampu menguraikan kekagumannya tanpa 'lebay' dan secara nyata tersirat bahwa sosok yang dikisahkan sangat mereka kenal dengan baik, meskipun belum pernah bertemu. Tentu saja, tak mungkin kita mengidolakan seseorang kalau kita tak mengenalnya sama sekali, bukan?

Dalam salah satu naskah peserta, aku menemukan ada namaku di sana. Sungguh merupakan keharuan yang luar biasa, mendapati namaku disebut sebagai sosok idolanya, lengkap dengan segala hal yang dia tahu tentang aku. Terima kasih ya.

Ajang ini telah ditutup pada 13 Maret lalu dan terkumpul sebanyak 20 naskah. Meski hanya sedikit, dan jauh dari jumlah naskah di ajang 'Cinta' yang sampai 32 naskah, ajang ini harus tetap berjalan.
Berdasarkan ide, penuturan, pandangan dan alasan, serta sejauh mana penulis mengenal sosok yang dikisahkan, maka terpilihnya 3 naskah yang menurutku sangat layak dijadikan pemenang.

Sebelum menuju ke pemenangnya, inilah dia daftar peserta Figur#EnF#02 secara keseluruhan:

1. Hijab dan Pelangi Impian - Karunia Sylviany Sambas

2. Panggil Dia Albert - Risky Vera Yoanna ElfMinoz
3. Nenek - Pheeya Ellight
4. Bunda dan Story - Yuan Yunita
5. The Story of My Idola and My Inspiration - Sherry
6. Sang Legenda, Pram dan Bumi Manusia - Ipii
7. Kaulah Idolaku - Zhibril Aba Bil
8. Ibu - Icka Mutiara
9. Ibuku Pahlawanku - Laila Ulfa
10. Ayahku Inspirasiku - Sri Murni Manullang
11. Semangatnya Menginspirasiku - Sri Ifa Asrifa
12. Just about Mom - Ulfah Kh N
13. Penulis Misterius Itu adalah Kompas-ku - Noviria Melati
14. Ibuku, Inspirasi Hidupku - Rizky Kartika Idayatni
15. Semangat Itu dari Raden Ajeng Kartini - Rinta Wulandari
16. Sang Lady-Rocker, Cinta, dan Kehidupan - Khi-Khi Kiara
17. Pangeran Fesyen - Iit Purnama Asri
18. Symphony Kehidupan - Ardini N Wijaya
19. Surat untuk Mamaku, Darmiasih- Marini Arin Boboho
20. Arif Rahman Hakim: "Dia bukan siapa-siapa,tapi dia inspirasiku dan inspirasi sejuta insan." - Yahya Zuelman Latalalamunte DziRhaj

Ada 3 (tiga) pemenang dengan naskah terbaik yang akan mendapatkan hadiah-hadiah keren berupa:
kaus, pulsa dan souvenir cantik, serta naskah pemenang akan diposting di blog ini dengan identitasnya.

Dan 3 pemenang itu adalah:

1. Sang Legenda, Pram dan Bumi Manusia - Ipii
2. Pangeran Fesyen - Iit Purnama Asri
3. Ibu - Icka Mutiara



Nah, kepingin tahu kan, kayak apa naskah-naskah pemenang itu? Yuk, kita baca satu persatu:

1. 
Sang Legenda, Pram dan Bumi Manusia - Ipii

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” ― Pramoedya Ananta Toer
Dunia memiliki banyak sekali legenda. Entah itu mengenai sihir, hewan, terbentuknya suatu tempat, maupun kepahlawanan. Dunia barat boleh berbangga hati dengan kisah para orang orang terdahulu mereka yang berhasil memajukan kehidupan manusia atau membuat terobosan baru yang dikenal dunia. Tapi Indonesia juga memiliki seorang legenda yang tak kalah penting perannya dalam mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Legenda itu adalah Pramoedya Ananta Toer.
Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, di jantung Pulau Jawa, tahun 1925, sebagai anak sulung dalam keluarganya. Pram adalah seorang sastrawan Indonesia yang mengawali pekerjaannya dengan menjadi juru ketik di surat kabar Jepang pada masa pemerintahan Jepang. Semangat dan kecintaan Pram dalam menulis sangat menginspirasiku. Hidup di masa penjajahan dan situasi budaya serta politik yang carut marut membuat Pram peka terhadap permasalahan di negeri ini pada masa itu. Pramoedya adalah satrawan yang sangat berani menuliskan pendapatnya sendiri tanpa takut pada pemerintah, penjajah, juga para tokoh sastra lainnya. Bahkan tak jarang karena keberaniannya menulis, ia harus disingkirkan oleh bangsanya sendiri.

Kekagumanku padanya berawal dari sebuah film yang kulihat beberapa tahun lalu. Di dalam film itu, sang tokoh diinspirasi oleh seorang yang bernama Nyai Ontosoroh yang ternyata adalah tokoh dalam buku Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer. Aku mendadak tertarik dengan buku itu. Beruntung aku menemukan buku lawas itu ketika suatu hari aku mencari buku untuk keperluan kuliah. Tanpa pikir panjang aku membelinya dan langsung membacanya di rumah. Dan...wow. aku sangat kagum pada jalan ceritanya, dan yang membuatku tercengang adalah seorang Pramoedya Ananta Toer menuliskan Bumi Manusia -yang memperoleh banyak penghargaan internasional- di tempat yang tak terbayangkan siapa pun; yaitu di dalam penjara.
Hmm..., menuliskan buku setebal 500-an halaman di dalam penjara, plus menyelesaikan tetraloginya! Dan sudah diterjemahkan oleh lebih dari dua puluhan negara di dunia. Tak heran jika Pramoedya sempat dipertimbangkan untuk mendapatkan nobel sastra (Pram-lah satu satu sastrawan Indonesia yang mendapatkan kesempatan itu). Hal itulah yang membuatku sangat sangat kagum pada seorang Pramoedya Ananta Toer. Sementara, aku baru menuliskan sepatah dua patah cerita saja sudah gelisah. Karena naskah takut ditolak, cemas akan ejekan dan kegagalan yang akan kuterima, ketidakyakinanku pada pohon imajinasiku sendiri.... Membaca karya-karyanya membuatku bercermin; masih pantaskah aku mengerdilkan diri sendiri hanya karena hal hal sepele? Sementara ia menuliskan karya-karya hebat di dalam penjara, dengan keadaan yang tak bisa kubayangkan seperti apa. Siksaan, hinaan, ketidaknyamanan di dalam perasingan, dijauhi bangsa dan keluarga, dianggap pengkhianat negara, bahkan karyanya berkali kali dilarang beredar, dan dibakar, tapi tetap dia tak berhenti menulis.

Pramoedya Ananta Toer, menghabiskan hampir separuh hidupnya di dalam penjara. Sebuah tempat yang sangat tak pantas bagi seorang hebat sepertinya. Tapi sama sekali tak menyurutkan niatnya untuk menulis. Karena baginya menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Seperti kata beliau “Menulis adalah sebuah keberanian. Karena menulis sudah terpatri kuat di dalam dirimu. Bagaikan air dan ikan yang tak dapat dipisahkan". Dari seorang Paramoedya Ananta Toer-lah aku belajar mencintai sesuatu yang kulakukan. Aku yakin Pram berdedikasi penuh dalam menulis karena kecintaannya pada tulisan, bangsa dan negaranya. Ia ikut berjuang meski tak harus angkat senjata. Ia tuangkan pemikirannya dalam menulis, salah satu langahnya untuk membuka cakrawala pemikiran orang-orang terhadap kondisi pemerintahan. Tapi sayang orang-orang berpikiran sempit tak terima dan menjebloskannya ke dalam kehidupan kelam. Dinginnya dinding penjara pun tak mampu membendung hasrat menulis dalam darahnya. Dengan melakukan sesuatu yang dicintai sepenuh hati maka segalanya akan terasa lebih mudah, segalanya akan baik-baik saja.

Kini mustahil bagiku untuk bisa bertemu dengannya, karena dia telah tiada. Tapi semangatnya terus menginspirasiku, terutama untuk terus menjalankan dua hal berbeda yang kugenggam di kedua tanganku. Aku berusaha mengingat perjuangannya ketika aku mulai lelah pada perjuanganku sendiri. tak mungkin aku bisa sepertimu, Pramoedya Ananta Toer. Sang legenda, satu satunya wakil dari Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar kandidat pemenang nobel sastra. Tapi aku akan terus berusaha untuk tak pernah berhenti menulis sepertinya.

Karna asa tidak boleh mati...
Ipii
Medan, 9 maret 2013



2. Pangeran Fesyen - EdoGawa FuRin

Awalnya aku tidak pernah memiliki rasa ini. Namun seiring berjalannya waktu dengan semakin bertambahnya jadwalmu di televisi, perlahan aku mulai mengerti tentang rasa yang terjalin. Ternyata aku sedang melihat mimpiku dari dirimu. Mimpi yang selama ini tak pernah kurajut meski sekadar tuk menyulam pun enggan. Tapi dari sanalah, ketika aku melihatmu di layar kaca pada 2011, hatiku berdebar dan tak dapat kujelaskan. Setiap perkataanmu mengandung makna dari semantik hingga pragmatik. Kamu menjadi idola tiba-tiba melalui karya, bukan sensasi apalagi manipulasi.
Oh, aku ingat. Saat itu aku mulai memiliki motivasi yang sudah dianggap jauh oleh orang lain. Dari kamu, aku memiliki kekuatan untuk bangkit, melangkah maju, tanpa gemetar oleh arus untuk bertemu mimpi. Meski tak kupungkiri keraguan itu ada dan membayang. Tapi kesahajaan ucapan yang kau rangkai dengan jujur, memberiku arti yang tak dapat tertandingi oleh orang lain. Saat itu kamu berkata, “Sampai kapan pun, aku akan terus mencoba menjadi seorang desainer.” Ah, kalimat yang sederhana, bukan? Tanpa menggurui atau menang sendiri. Kamu berkata sesuai keinginanmu dan bertindak sesuai keyakinan pula.
Sejak saat itulah aku mengumpulkan informasi mengenai dirimu, fans club-mu, atau show-show yang telah kamu adakan tanpa sepengetahuanku. Sungguh, kekuatan karakter dan rasa percaya dirimu yang tinggi telah menghancurkan kerasnya batu hitam yang bertahun-tahun mengapung di hatiku. Tak dapat kupungkiri, aku mulai belajar agar seperti dirimu. Memang aku tidak bisa menggambar. Pun aku tidak mengerti fesyen dan segala tetek-bengeknya. Namun aku ingin belajar seperti dirimu yang memiliki karakter kuat dan acuh pada omongan orang. Aku ingin seperti dirimu yang tak menebar gembar-gembor tanpa bukti. Aku juga ingin seperti dirimu yang tidak peduli dengan kegagalan selama memiliki energi.
O, Tuhan, orang ini begitu menggoda. Layaknya petir yang dapat menyambar tepat di kepala. Pengaruhnya luar biasa di kehidupanku yang kuanggap malang. Tuhan, terima kasih atas karunia-Mu yang mempertemukanku dengannya meski hanya lewat layar kaca. Karena dalam dirinya ada kekuatan untuk menambal serpihan-serpihan cita-citaku yang pecah oleh hasutan buaya-buaya berkepala manusia.
Kamu, makhluk Tuhan yang tercipta dengan rupa yang rupawan. Kedua kelopak matamu tajam dan indah dengan bijinya yang hitam dan bersinar. Kulitmu terlihat segar, bersih, dan menawan. Bahkan bidadara pun iri dengan ketampanan yang dianugerahkan Tuhan padamu. Tapi jika ada anggapan aku mengagumimu hanya sekadar fisik, pasti kutampik dengan tegas. Kamu memang tampan tapi bukan kerupawananmu yang menjadikanku mengagumi dirimu. Meskipun, yah, sebagai seorang perempuan, aku tak bisa acuh oleh pesona wajahmu. Namun sungguh bukan itu yang kucari. Ada beberapa kharisma yang bisa kukagumi lewat dirimu. Kharisma itu adalah karaktermu yang kuat dan percaya diri, yang tak semua orang berkarakter setangguh itu.

Pada 2011, dunia fesyen Indonesia digemparkan dengan terpilihnya salah satu gaun rancangan anak bangsa yang dipakai oleh penyanyi kelas dunia, Lady Gaga. Ya, anak bangsa itu adalah dirimu, dan tentu saja gaun itu rancanganmu pula. Gaun panjang yang penuh nuansa detail yang rumit itu telah menghias salah satu sampul majalah fesyen terkemuka dengan apik dan “liar”. Bagaimana tidak? Gaun yang membalut tubuh Lady Gaga ini menimbulkan efek yang dramatis, klasik, namun elegan. Satu kata untuk dirimu, sang perancang gaun ini, “WOW!”

Rupanya kamu seperti narkoba yang membawa efek candu pada orang yang menggunakannya. Tak berapa lama berselang, gaun-gaunmu kembali terpilih dalam acara Lady Gaga dari footage hingga Fame. Jika ini memang kebetulan, kurasa kebetulan tidak akan menghampiri seseorang beberapa kali. Jika ini keberuntungan, kurasa keberuntungan tidak akan menjatuhi orang yang sama. Jadi ini adalah buah dari kerja keras dan potensi yang tepat di tangan orang yang tepat. Walau aku tidak melihat proses pengerjaan karya-karyamu secara langsung, tapi aku yakin, kamu orang yang total mengerjakan segala yang kamu anggap “benar”. Dari berbagai acara wawancaramu yang pernah kusimak, dapat kusimpulkan bahwa menurutmu gaun adalah benar, desain adalah benar, wanita adalah benar, seni adalah benar, untuk membenarkan keempatnya, kamu harus bertindak benar. Dengan melakukan kebenaran itu secara total melalui karya yang serba detail sesuai jati dirimu.

“Saya mendesain sesuai dengan keinginan saya sendiri. Apa yang ada dipikiran saya itu yang saya buat. Saya tidak bisa mendesain mengikuti selera pasar,” ungkapmu dalam salah satu cuplikan wawancara di media massa. Memang benar dugaanku, kamu tidak mengizinkan dirimu untuk terpaku oleh orang lain. Kamu mengantongi surat kebebasan tanpa minder dan malu. Kamu yakin dengan kebenaran tindakanmu seolah tak membuka pintu bagi individu yang akan merusak karya yang kamu cita-citakan. Teruslah berkarya panutanku, aku mendukungmu. Selalu.

17 Februari 2013
Didedikasikan untuk Tex Saverio

3. Ibu - Icka Mutiara

Hanya dengan 5000 cws rasanya takkan cukup mengggambarkan sosok yang menjadi inspirasiku kemarin, kini, dan esok. Sosok itu adalah ibuku, Santi. Berkaca dari sosoknya yang sangat dihormati dan sayangi oleh orang yang berada di sekelilingnya. Tutur katanya yang lembut, anggun, juga jiwa keibuan yang sangat melekat pada dirinya. Bukan hal itu saja yang membuatku memilihnya sebagai inspirasi utama. Tetapi bagaimana cara beliau mendidikku dan mengajariku arti kehidupan. Ketika aku terjatuh, beliau mengajarkanku bagaimana berdiri kembali. Jika kau takut untuk beranjak maka selamanya kau akan seperi itu. Takkan berubah!
Ketika aku lelah dan muram, beliau memberikan dorongan semangat ataupun motivasi dengan wejangan-wejangan yang mampu membuatku berenergi kembali.
Ketika aku ada masalah, Ibu tempatku pertama berlabuh. ‘sayang,tegarlah. Tuhan memberikan ujian supaya kita menjadi pribadi yang dewasa dalam pemikiran. Tuhan juga takkan memberikan ujian melebihi kemampuan hambaNya’.

Ibu juga selalu mengingatkanku untuk tidak meninggalkan sholat 5 waktu. ‘jika seseorang sengaja meninggalkan sholat ganjaran utamanya adalah neraka jahannam. Tempat yang sangat buruk dan sangat panas. Tetapi, jika kau tidak melalaikan ibadahmu. Subhanallah... hadiahmu adalah surga. Tempat yang sangat indah’

Ibu mengajarkanku untuk selalu bersyukur kepada Sang Esa dan hidup sederhana. ‘Nak, jika kau terus bersyukur maka kau akan merasa cukup. Dan seringlah melihat ke bawah maka kau akan semakin bersyukur’.

Ciri khas yang melekat pada ibuku adalah wejangannya. Sungguh! Aku ingin menjadi sosok ibu seperti beliau. Semua petuah yang ibu berikan, akan selalu terpatri di benakku.

Terimakasih karena telah menjadi ibuku.

Tak ada gading yang tak retak. Ibu juga manusia biasa yang pasti mempunyai kekurangan. Namun, bagiku segala kelebihan yang dimiliki ibu manapun menutupi kekurangannya.

Ibu, engkau adalah bingkisan terindah dalam hidupku. Dan ketahuilah dari hati yang terdalam aku bangga menjadi anakmu.



Lalu di bawah ini sebuah tulisan terindah untukku, yang sangat membuatku terharu. Namun, kenapa dia terpilih sebagai pemenang? Karena aku tak mau melihatnya hanya dari kacamataku. Aku sangat berterima kasih kepada sang penulisnya.


Bunda dan Story - Yuan Yunita

Hmm... Sosok yang dikagumi? Sebetulnya banyak sih. Mulai dari kedua orangtua yang selalu menjadi panutan saya selama ini, adik semata wayang yang notabene seorang mahasiswi semester 6 dengan IP 4 (WOW), penyair kelas dunia seperti Khalil Gibran, penyanyi yang sudah go international seperti Agnes Monica hingga presenter kelas atas seperti Oprah Winfrey yang sudah mendunia.

Tapi yang ingin saya bicarakan sekarang bukanlah salah satu dari sosok yang sudah disebutkan di atas. Beliau juga salah satu sosok yang sangat saya kagumi. Seorang perempuan anggun dengan tinggi semampai, memiliki sepasang bola mata indah berwarna coklat, baik hati, penyabar dan juga keibuan. Sebenarnya rada susah juga sih untuk menggambarkan seperti apa sosok yang dimaksud, karena saya sendiri belum pernah bertemu langsung dengan beliau. Tapi juga tidak sulit untuk menemukannya di salah satu majalah kesayangan saya. Seingat saya, dulu pernah membaca di salah satu edisi majalahnya kalau perjalanan beliau di dunia literasi tidaklah semudah “berbohong”. Ooppss..., kenapa harus menggunakan kata “bohong” ya? Yah..., habis kata pepatah “Jujur itu super duper susah sedangkan bohong itu sangat mudah untuk dilakukan,” ya kan? Udah-udah... kembali ke topik kita semula.
Di dalam majalah tersebut dituliskan bahwa dulunya sebelum setenar, sesibuk dan secantik sekarang (kurang tau sih, dulunya secantik sekarang or nggak), perjalanan yang beliau tempuh cukup panjang dan berliku. Bareng dengan temannya mengantar naskah ke kantor redaksi majalah dan ditolak pun berbarengan. Saking menggebu-gebunya ingin mengetahui naskahnya masuk majalah or nggak sampai bela-belain kontrol ke lapak-lapak majalah. Semua majalah remaja dibuka-buka tapi ngak ada satu pun yang dibeli ( mungkin di dalam majalah tersebut nggak ada karya beliau yang dimuat waktu itu ). Apalagi waktu itu, teknologi belum secanggih sekarang dan mungkin masih menggunakan mesin tik. Sungguh tidaklah semudah sekarang di mana akses internet bisa ditemukan di mana saja bahkan hingga ke pelosok nusantara sekalipun. Mungkin itulah kendala yang kerap kali dialami oleh para penulis di jaman dahulu. Tapi, di balik kesulitan selalu ada semangat yang berkobar-kobar dan jalan untuk menuju ke tempat tujuan. Dan sekarang dengan kerja kerasnya selama bertahun-tahun menekuni dunia literasi, beliau sudah memiliki kantor redaksi sendiri, menulis beberapa buah buku novel, menjadi narasumber, dan namanya sudah tak asing lagi di telinga kita. Beliau sangat menyukai makan cokelat dan mengagumi Ariel Noah. Yah..., siapa lagi kalau bukan Bunda Reni Erina. Beliau mengajarkan saya tentang arti sebuah perjuangan dan pengorbanan dalam menggapai impian.
*
Saya memang sudah menyukai dunia menulis sejak masih duduk di bangku SMP. Bahkan sudah tak terhitung lagi berapa jumlah buku diary yang saya tulis untuk mengabadikan puisi-puisi saya. Dan saya pun sangat suka membaca buku sedari kecil, terutama buku-buku sastra dan psikologi. Sekarang saya memiliki perpustakaan buku koleksi pribadi sendiri di rumah. Mata saya pertama kali terbuka ketika salah satu tulisan kecil saya yang berupa “coment cerpen” dimuat di salah satu edisi Story dan mendapatkan hadiah sebuah buku novel terjemahan dari Story. Mulai dari tulisan kecil tersebut saya bertekad untuk merambah ke hal-hal yang lebih besar. Dengan sedikit kerja keras, beberapa cerpen saya sudah beredar dalam bentuk Antologi.

Semua ini tidak lepas dari sosok beliau dan juga Story Teenlit Magazine, di mana saya sudah berlangganan majalah tersebut semenjak majalah itu pertama kali terbit di tahun 2010. Majalah Story juga adalah salah satu inspirasi saya dalam berkarya di dunia literasi. Media pertama yang membuka pikiran saya tentang arti sebuah impian. Bahwasanya, sebuah cita-cita akan bisa tercapai jika kita berhenti menjadi seorang pemalas dan penakut. Pemalas dalam arti tidak mau berusaha “lebih” dan penakut dalam arti tidak memiliki “keberanian” untuk maju. Bukankah kita harus membayar harga dari sebuah impian? Karena sebuah kesuksesan tidak akan pernah datang sendiri. Semua cita-cita memerlukan usaha, kerja keras dan juga doa.

Sempat hampir mengikuti Exclusif Writing Class Privatenya bunda, tetapi gagal karena kendala laptop dan jaringan yang sering bermasalah (maklum, agak di pinggiran kota). Semoga suatu hari nanti bisa terwujud, karena saya masih harus banyak belajar dari bunda. Mengapa judul yang saya pilih adalah Bunda dan Story? Karena keduanya seperti tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya.
*
Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Bunda Story kita tercinta karena telah menjadi salah satu sumber inspirasi selama dalam berjuang dan berkarya. Sukses terus untuk Bunda Reni Erina tersayang dan Story Teenlit Magazine tercinta. Harapan saya ke depan semoga Story semakin banyak digemari oleh semua kalangan bukan hanya remaja saja dan dapat menginspirasi jauh lebih banyak orang lagi dalam menulis. Amien...

*terima kasih, sayang... luv u.

Comments