RAHASIA MEMBANGUN SETTING LOKASI


Apakah sebuah cerita bisa terlihat hidup jika tanpa mengeksplorasi setting? Pertanyaan seperti itu sering saya dengar.  Apakah setting bisa menjadi kekuatan sebuah cerita? 





Berimajinasi Berada di Suatu Tempat 
Saya mendapati banyak penulis pemula yang sudah mahir menyisipkan setting lokasi ke dalam cerpen mereka. Beberapa nama malah saya ingat betul sebagai spesialis cerpen berbasis kultur. 


Penulis yang berasal dari suatu daerah dengan kultur daerah yang masih sangat kental, biasanya mahir mengekploitasi kultur daerah mereka. Mereka bisa dengan jelas menggambarkan keindahan sebuah desa dengan danau yang di kelilingi hutan pinus atau bagaimana prosesi sebuah perjodohan di sebuah daerah lain yang diiringi dengan adat istiadat.

Ketika untuk pertama kalinya saya mendapati sebuah cerpen bagus yang mengeksplorasi daerahnya, saya jadi kepikiran untuk bisa menghadirkan cerpen sejenis itu ke dalam setiap edisi majalah yang saya asuh. Tentu unik, di antara naskah-naskah lain yang tampil, ada satu dua cerpen berbasis kultur. Pembaca jadi mengenal sebuah daerah lain yang bahkan belum pernah ia datangi, hanya lewat cerpen.

Tapi baiklah, dalam hal ini kita cukup berbicara soal sebuah setting lokasi dengan tidak dulu menyisipkan kultur kedaerahan. 


Bagaimana seorang penulis bisa menghadirkan setting lokasi sehingga sebuah cerita bisa nampak hidup?


Dalam sebuah cerita diperlukan unsur-unsur antara lain, tema, ide, tokoh, setting, konflik, dialog dan ending. Setting bisa menjadi benar-benar diperlukan, meskipun, menurut saya, tidak selamanya setting harus dieksplorasi total. Banyak cerpen-cerpen saya yang hanya bersetting di sebuah ruang kelas, atau kamar. Dengan halaman yang terbatas, saya menganggap setting adalah unsur pokok cerita yang bisa saja tak perlu dieksploi, dan menjadi pemanis juga pelengkap cerita. Pembaca harus tahu kapan dan di mana kejadian kisah berlangsung, meski hanya sekedar kamar, teras atau ruang tamu.

Kenapa sih diperlukan setting cerita? Ya, karena setting merupakan latar belakang yang membantu kejelasan sebuah jalan cerita. Setting ini meliputi waktu, tempat, dan sosial budaya.

Latar (setting) dalam cerpen atau novel bukan hanya sekedar background. Bukan hanya menunjukkan tempat kejadian dan kapan terjadinya. Latar itu bisa berarti banyak. Misalnya tempat tertentu, daerah tertentu, orang-orang tertentu dengan watak tertentu akibat situasi lingkungan atau zamannya, cara hidup tertentu, cara berpikir tertentu, latar mencakup lingkungan geografis, sejarah, sosial, dan bahkan lingkungan politik atau latar belakang tempat kisah itu berlangsung.

Cerpen yang pernah saya tulis dan dimuat di sebuah majalah remaja tahun 1991 berjudul Lima Hari yang Lalu, mengambil setting di Bandung. Kisah cinta cowok kampus yang berantakan. 80 persen setting cerita itu berada di kamar si tokoh, di sebuah kos-kosan di daerah Cikondang, Bandung. Kisah berkutat di kamar si tokoh, ruang tamu, kamar mandi, dan sedikit jalanan di kampung Cikondang. Kamar kos yang ada dalam bayangan saya untuk setting cerita itu adalah kos-kosan teman saya, khusus cowok, karena memang saya sedang menggarap cerita dengan tokoh cowok. Di situ saya menyesuaikan kondisi bagaimana remaja pada masa itu. Gaya rambutnya, gaya bicaranya serta kondisi kos-kosan yang umum di masa itu. 


Kemudian serial saya di majalah yang sama di tahun 1994, yang sempat menarik perhatian Mas Gola saat itu (semoga beliau masih ingat) adalah Serial Cindy dan Misel. Kisah tentang persahabatan dua gadis SMA dengan segala pernak-perniknya dan kehidupan keseharian mereka. Di sana saya menggunakan setting sekolah (sebuah SMA, yang waktu itu saya bayangkan adalah sebuah sekolah di wilayah Jakarta Selatan yang kerap saya lewati), rumah si tokoh utama dengan segala denah printilnya, seperti kamar, ruang tamu, dapur, sampai kamar mandi, lalu setting rumah tokoh lainnya. Semua setting itu (kecuali setting sekolah SMA), adalah bayangan saya sendiri. Saya mengkhayalkan bagaimana rumah si tokoh, kamarnya, kamar mandinya, halaman belakangnya serta taman-taman di mana mereka kerap bertemu. Itu semua hanya imajinasi dan saya mencoba untuk tetap konsisten dengan imajinasi itu. Artinya, meskipun setting itu hanyalah khayalan, saya tetap menggunakan denah di dalam otak saya, agar letak kamar mandi dengan kamar si tokoh tetap sama, tidak berpindah, sampai cerita itu selesai. Dan sekali lagi setting tetap disesuaikan pada masa cerita itu berlangsung.
Naskah-naskah yang masuk ke email saya kebanyakan dari mereka berkutat pada setting sekolah. Mungkin karena dianggap mudah atau bisa jadi sekolahan adalah arena yang paling banyak menimbulkan banyak cerita bagi remaja. Bila memang sekolah merupakan setting yang dianggap latar cerita, bagusnya penulis juga harus menceritakan detil dari sekolah itu, sedikitnya bagaimana bentuk bangunannya, di mana letak kelas si tokoh atau ada apa di halaman sekolah. Tentu mudah bagi penulis karena mereka telah mengenal sekolah masing-masing. Seperti juga saat setting berpindah ke rumah. Penulis bisa menggambarkan rumahnya sendiri atau rumah teman yang dikenalnya.

Saya punya pengalaman menulis cerpen bersetting Denpasar. Padahal saat itu saya belum pernah menginjakkan kaki ke kota itu. Waktu itu ide menuliskan cerita bersetting Denpasar muncul saat seorang teman menceritakan pengalamannya berlibur di sana. Maka saya pun banyak bertanya kepada teman saya itu bagaimana kota Denpasar, ada apa saja di sana dan ke mana saja dia selama berlibur di Denpasar, termasuk sebutan bli untuk ‘abang’ dan nama-nama khas Bali. Tak cukup sampai di situ, saya mulai membaca buku tentang Denpasar dan saya mengira-ira dalam imajinasi saya, seperti inilah kota Denpasar, tanpa saya harus sok tahu untuk melebih-lebihkan. Hasilnya cerpen saya itu terlihat hidup, meski saya belum pernah ke sana. Begitu juga saat saya menulis cerita bersetting Pantai Senggigi. Saya banyak bertanya kepada teman yang pernah ke sana secara detail. Ketika saya benar-benar menginjakkan kaki ke Denpasar dan Pantai Senggigi, saya tahu apa yang saya tuliskan tentang dua tempat itu, hampir sama dengan setting yang saya gunakan dalam cerita tersebut. Artinya, itulah manfaat bertanya kepada teman dan membaca buku sebagai referensi. 

Penulis, dengan imajinasinya bisa berada di mana saja, sepanjang masih sejalan dan masuk logika. Beberapa teman penulis juga mengaku, mereka menceritakan sebuah kota di suatu negeri -meskipun mereka belum pernah menginjakkan kaki di sana- dengan cara yang hampir sama seperti yang saya lakukan. Terlebih saat ini didukung dengan fasilitas internet, di mana kita bisa menjelajah berbagai kota dengan browsing, bisa menjadi masukan yang bagus untuk setting cerita kita.
Banyak juga penulis yang sengaja pergi ke suatu tempat untuk mendalami setting cerita mereka. Ini sangat bagus, selagi kesempatan dan waktu ikut mendukung. 

Setting nampak sebagai pelengkap, namun nyatanya menjadi kekuatan sebuah cerita.

Dituliskan untuk salah satu judul dalam buku "Rahasia Penulis Hebat" yang diterbitkan oleh GongPublishing