Mengasikkan mengasuh beberapa group penulisan di jejaring sosial, juga di komunitas realita. Hm, komunitas realita? Ya, maksudnya group yang ada secara nyata, bukan di dunia maya :D
Pendekatan yang aku lakukan terhadap para remaja itu menjadikan hubungan kami begitu dekat, layaknya kakak adik, layaknya ibu dengan anak, layaknya saudara dan teman. Beberapa di antara mereka sering curcol. Malahan ada yang curhat beneran. Curhat-curhat mereka menjadikan semangat bagiku untuk menyempatkan mengayomi mereka dan memberi pencerahan semampu yang aku bisa.
Beberapa curhat mereka aku jadikan topik untuk materi pelatihanku tentang menulis, baik pelatihan tatap muka (kelas) maupun pelatihan online. Ternyata 'mencuri' curhatan mereka sebagai materi pelatihan cukup memberi pencerahan. Aku belajar memahami ketidakmengertian mereka dan aku bahas dalam materi-materi yang kuusahakan 'nyampe' untuk daya tangkap mereka.
"Bunda, sebulan lalu aku mengirim cepen. Ternyata sapai sekarang nggak ada jawabannya. Aku kecewa, Bunda."
"Bunda, cerpen pertamaku ditolak. Aku jadi gak semangat lagi. Rasanya aku putus asa. Aku gak mau jadi penulis."
"Bunda, sesuai saran Bunda, aku mengisi hari-hariku dengan menulis. Tapi sampai sekarang tak satu karya pun berhasil aku selesaikan. semua tulisanku mogok di tengah jalan."
"Bunda, kenapa orang lain begitu mudah menembus media, dan aku tidak?"
Yang aku tahu, memahami remaja adalah memasuki dunianya. Mengerti cara berpikir remaja, adalah mendengarkan keluhannya. Sepandai dan sehebatnya seorang remaja, kita tak bisa menyamakan pola pikir mereka dengan orangtua (orang dewasa). Bagaimana pun remaja punya keterbatasan daya tangkap dan daya pikir dalam intelektualitas dan kematangannya, secara emosi dan psikis, sesuai usia dan pengalaman hidupnya.
Hm, bersyukurlah remaja masa kini. Ada banyak wadah berkreasi, serta adanya net dan teknologi yang memadai. Ditambah, banyaknya orang-orang yang kian peduli pada masa depan dan kebutuhan mereka.
Dan aku menyesal kenapa aku tidak lahir di jaman sekarang :D
Kembali ke uraianku di paragraf pertama tadi; mengasikkan mengasuh beberapa group. 'Mengasikkan' tentu termasuk di dalamnya adalah saat-saat 'heboh'-nya. Heboh dengan kegalaun mereka yang kadang disampaikan dengan bahasa yang nyentrik (baca menyebalkan) dan semau-maunya. Mungkin kedekatan itu yang membuat mereka nyaman menyampaikan unek-uneknya yang tanpa disadari lebih berarti menekan atau memaksakan. Tak jarang aku mendapati umpatan dan 'suruhan' mereka, layaknya aku ini adalah pesuruh mereka. Hahaha. Maka jangan heran, kalau ketika pada suatu waktu di saat yang tak tepat, aku menjawabnya pun dengan semaunya.
Dan aku menyesal kenapa aku tidak lahir di jaman sekarang :D
Kembali ke uraianku di paragraf pertama tadi; mengasikkan mengasuh beberapa group. 'Mengasikkan' tentu termasuk di dalamnya adalah saat-saat 'heboh'-nya. Heboh dengan kegalaun mereka yang kadang disampaikan dengan bahasa yang nyentrik (baca menyebalkan) dan semau-maunya. Mungkin kedekatan itu yang membuat mereka nyaman menyampaikan unek-uneknya yang tanpa disadari lebih berarti menekan atau memaksakan. Tak jarang aku mendapati umpatan dan 'suruhan' mereka, layaknya aku ini adalah pesuruh mereka. Hahaha. Maka jangan heran, kalau ketika pada suatu waktu di saat yang tak tepat, aku menjawabnya pun dengan semaunya.
"Bunda, baca cerpenku sekarang, aku tunggu."
"Bunda, balas secepatnya."
"Bunda, lihat postinganku!"
"Bunda, aku kirim cerpen, segera komennya."
"Bunda, barusan aku kirim cepen, cepat dicek ya!"
"Bundaaaa......"
Ah, ya. Sungguh menyenangkan. Teringat pada polah dua bidadariku yang tak mau tahu aku sedang apa saat itu, dan mereka membutuhkan perhatianku.
Sungguh, remaja dengan dunianya, begitu berwarna. Dan aku kerap merindukannya.
Kedoya, 18 Maret 2013
Kedoya, 18 Maret 2013
Selalu ada yang ingin ditulis di tengah detlen menghimpit.
Comments
Post a Comment