Hujan menderas sore itu. Saya menikmatinya dari balik jendela, sampai sebuah tepukan mengejutkan saya. “Lagi galau? Tiga panggilanku lewat begitu saja. Mikirin apa lagi sih?” katanya sambil menyodorkan secangkir teh panas. “Tadinya aku mau ngajak ke mall. Tapi ngeliat kamu muram begitu, mungkin lain kali aja.”
Saya mengangkat jempol sebagai ucapan terima kasih. Saya tahu, sahabat saya itu tak akan suka mendengar keluhan saya yang sudah dia dengar kemarin lalu. Saya tak mungkin mengulangnya. Saya teringat cerita seorang teman lain tentang temannya, “Ampuunn… Kupingku sampe bengkak, dan mungkin juga otakku ikutan bengkak. Setiap kali ketemu dia, aku harus mendengarkan keluhannya yang, heh, apalagi kalo bukan soal biaya kuliah, sakit ibunya, sakit adiknya, dan… yang terbaru; patah hatinya! Alamak, aku ini temannya apa psikiaternya?”
Sahabat dan kekasih adalah tempat kita berbagi tawa dan airmata. Namun sesungguhnya tak ada orang yang benar-benar bisa menerima kesedihan kita setiap saat. Saya pernah menemukan sebuah komentar di status fesbuk saya; Orang bijak berkata, bersiaplah sendirian kala kita bersedih hati. Karena sesungguhnya tidak ada orang yang suka dengan orang yang 'rapuh' dan 'berkeluh kesah'. Kalimat ini tampak 'tidak berhati', tetapi membuat kita selalu survive... Nyatanya kita memang harus memilah kapan saatnya membagi keluhan dan kapan harus menyimpannya sendiri.
“Moga teh itu bisa bikin hatimu hangat ya,” katanya lagi. Ada banyak cara seseorang mengekpresikan perhatiannya, tak melulu menjadi pendengar yang baik. Secangkir teh itu adalah bentuk sayangnya. Kemudian dia berlalu ke ruangannya sambil berteriak, “Kalo udah gak sedih, lapor ya. Kita jalan-jalan, wisata kuliner di Muara!”
*Story Diary edisi 42, 25 Februari 2013

Comments
Post a Comment