Kita Berdiam dengan Kepongahan

Sampailah kita pada jejak ini. Beriringan dengan sang waktu yang melambat dan segala berputar bersama penat. Lalu di sini kita memulai menghitung kalimat demi kalimat, yang telah tercecer di sepanjang jalan berkelok penuh jerat. Lima, enam, dua puluh dua, lima puluh tiga..., seratus sepuluh...., entah!
Hingga kita tak pernah ingat, apakah kalimat demi kalimat yang pernah kita ucap, sudah melalui penyaringan otak, atau justru tak pernah mampir dan tak mengenali apa itu berpikir. Mereka terlontar begitu saja, berbarengan dengan desakan keriaan dan napsu, hingga kita terlupa -lagi-lagi- bahwa kalimat seharusnya adalah apa yang ada di hati dan kepala. 

Sampailah kita pada jejak ini. Beriringan dengan sang waktu yang melambat... lalu penat memerangkap. Dan kita berdiri kaku, saling tak tatap, dan berjibaku dengan tangan bersidekap, melarungkan ego yang kalap, dan... kita saling melaknat.

Sampailah kita pada jejak ini, dengan arogan yang naik tingkat.

Duhai. Di sana rembulan menyembunyikan wajahnya pada awan. Merangkul bintang-bintang untuk ikut diam di baliknya. Tak kuasa menangkap lukisan garis wajah kita yang sama beringas. Lewat desau angin dia suarakan gelisahnya; ke mana kasih yang pernah kita agungkan, di jejak awal dulu...

Rembulan menangis.
Dia larutkan airmatanya lewat pecahan awan yang berarak terbawa angin malam. Lalu angin menjatuhkannya lewat bulir hujan... 
Bumi basah. Langit menggaungkan murka.

Sampailah kita pada jejak ini, bersimbah luka, bersimbah kepongahan.
Tak kita hiraukan bisikan rembulan lewat angin dan suara rintik itu..... "Tak bisakah tangan bersidekap itu luruh, lalu saling terulur?"

Rembulan di sana mendekap para bintang dan awan.
Dan kita tetap pada diam, tak saling tatap, dengan kedua tangan bersidekap di dada. 

Punah!

Dedicate for 'Langit n Bumi'

Comments