Ini ajang kecil-kecilan yang aku buat tahun lalu.
Lebaran bukan sekadar merayakan kemenangan setelah berpuasa sepanjang satu bulan penuh, juga bukan sekadar meluapkan keriangan bermudik. Saling membersihkan diri dengan bermaaf-maafan, dan memulai hari dengan lebih baik lagi, tentu saja, itu adalah hal yang terpenting. Bisa berkumpul bersama keluarga dan saudara, bisa bertemu teman-teman lama di kampung halaman dan tentu saja mendapat THR atau angpao lebaran, adalah momen yang mungkin sangat jarang terjadi. Di antara keriangan itu, mungkin kita bisa berbagi kepada teman-teman tentang sekelumit kisah di hari lebaran. Itu sebab kenapa aku membuat ajang ini. Ingin mendengar kisah-kisah menarik, unik dan berbeda dari teman-teman. Dan, siapa menduga bahwa di antara kita ternyata malah mendapat suatu kesedihan di hari yang penuh takbir, baju baru dan kembang api?
Semua kisah yang aku baca begitu luar biasa. Ada semangat, ada kerinduan, ada motivasi, ada tenggang rasa juga ada keharuan..., semua sangat menginspirasi.
Selain berbagi kisah, ajang ini juga sebagai bahan belajar bagaimana kita menuliskan suatu cerita unik dalam sebuah tulisan singkat tetapi padat.
Dan inilah 3 tulisan yang aku nilai sangat menginspirasi, kepada 3 penulisnya, telah dikirimkan hadiahnya, sebuah buku antologiku.
Rihan Hafizni
LEBARANKU ASIK SEKALEEE....
Lebaran tahun ini, memang agak kelabu bagi keluarga kami. Mak Wo (kakak tertua ayahku) menderita lupus semenjak tiga bulan yang lalu.
"Mak wo tetap cantik, kok," ucap kami menghibur agar ia tak berkecil hati karena tak punya rambut sehelai pun. Rambutnya dipotong, karena dia merasa sakit dibagian kepalanya.
Sementara tanteku lumpuh. Dia menjadi korban malpraktek di salah satu rumah sakit di Pekanbaru. Dia juga sempat koma seminggu. Kejadian ini menjadi beban yang berat bagi kami.
Di lebaran pertama, disaat semua keluarga besar berkumpul, hanya gurat kesedihan yang ada di wajah keluargaku.
"Bagaimana pun, Tuhan masih sayang sama kita. Kita masih diberi kesempatan berkumpul tahun ini, bahkan yang dirantau pun pulang semua," ucap nenekku. Perlahan, senyuman menghiasi bibir kami. Nenek benar. Tuhan masih menyayangi kami semua. :')
Fanny Yanuarika Saputri
LEBARANKU ASIK SEKALEEE…
ASIK SEKALEEE? Wow, sepertinya Lebaranku kemarin lebih dari kata “asik sekali”. Lebih tepatnya; SANGAT ASIK SEKALEEE! Lebay, ya? Tapi memang begitulah kenyataannya. Kenapa? Semua berawal dan berasal dari yang namanya pekerjaan. Sebenarnya tidak ada maksud untuk menyalahkan. Aku mencintai pekerjaanku. Dan istilah “tetap dinas di hari Lebaran” adalah sebuah resiko dan aku mau tak mau harus berlapang dada menerimanya. Tapi lucunya, jauh-jauh hari sebelum Lebaran, aku dan teman-temanku dengan kompak melantunkan doa wajib. Kami berharap jumlah pasien sedikit di beberapa hari menjelang hari H. Namun, doa belum terkabul. Puncaknya ketika aku dan temanku mendapat jatah jaga malam saat malam takbir. Sedih dan sedikit miris kala itu. Lumrah, kan? Di luar sana orang-orang riuh dengan iring-iringan takbir keliling, pesta kembang api, heboh petasan dan tawa menyambut hari yang fitri. Sementara aku? Ya, bisa dibayangkan. Bangsal kelas tiga tempat aku bekerja hampir full pasien. Setiap satu jam datang pasien baru dari IGD, rata-rata korban parah kecelakaan lalu lintas. Tangis keluarga pasien, jerit pasien yang mengerang menahan nyeri, aaah … lengkap sekali malam itu. Belum lagi dengan program injeksi dan laporan-laporan pasien yang antree untuk dilengkapi. Kesibukan yang menyiksa hingga pagi. Namun … ada pertanyaan batin yang tiba-tiba menamparku dengan halus, “Mengapa aku harus mengeluh? Bukannya aku lebih jauh beruntung? Aku masih dilimpahi nikmat sehat. Sedangkan pasien-pasienku? Bahagiakah mereka melewati Lebaran dengan keadaan sakit?” Astaghfirullah …. Dengan kerendahan hati aku pun menjawab sendiri, “Tak ada salahnya untuk bersyukur. Toh, Lebaran bersama pasien pun bisa jauh lebih indah. Ya, Lebaranku bersama mereka … ASIK SEKALEEE!”
Awalluddin Firdaus
LEBARANKU ASIK SEKALEEE…
Banyak orang yang memanfaatkan moment lebaran sebagai ajang balas dendam selepas bulan ramadhan, tak terkecuali aku. Terlebih lagi, semua makanan yang dihidangkan saat lebaran adalah makanan yang istimewa dan pastinya sangat lezat dan nikmat. Oleh karena itu, selepas sungkeman dengan kedua orangtuaku setelah shalat ied di hari pertama lebaran, aku biasanya langsung menyerbu meja makan. Mulai dari ketupat, opor, dan rendang, semuanya kumasukan ke dalam piringku sampai penuh. Bagaimana tidak, rasanya semua makanan yang ada di meja makan itu berbicara padaku sambil memohon “Ayo makan aku, ayo dimakan…”. Setelah menghabiskan makanan yang kumakan tadi, ternyata rasa lapar atau lebih tepatnya nafsu masih menggerogotiku. Walhasil, kumakan saja semua kue-kue yang ada di ruang tamu. Mumpung belum ada tamu, pikirku. Setelah memakan kue-kue itu, barulah aku merasakan kenyang yang sekenyang-kenyangnya, atau lebih tepat disebut dengan kekenyangan. Hiks, akhirnya di hari lebaran pertama aku harus menerima konsekuensi dari kebanyakan makan tadi, yaitu sakit perut! Huaaa.. Tapi, aku merasakan pelajaran yang sangat bermakna dari kejadian tadi, bahwa kita tak boleh berlebih-lebihan dalam melakukan suatu hal, seperti aku tadi misalnya. Memang, benar kata pepatah "Di balik musibah, pasti ada hikmah". Lebaranku tahun ini amat berkesan dan Asiikk Sekali ^_^
Lengkapnya, cobe kita meluncur ke Lebaran Asik
Comments
Post a Comment