Cinta Itu.... Ajang Cinta#EnF#01

Cinta yang bagaimana yang kita punya?
Cinta tulus dengan segala kurang lebihnya..., cinta posesif dengan alasan rasa memiliki. Atau...?


Cinta, dengan segala atributnya, menciptakan berbagai defisini dari setiap kepala. Dan remaja memiliki pandangan sendiri akan arti cinta. Lalu seperti apa definisi 'cinta' yang mereka punya?

Pertengahan Januari 2013 lalu, aku membuka ajang mengenai hal ini.
Bermula dari obrolanku dengan beberapa pembaca karya-karyaku mengenai perasaan dan pikiran mereka, maka ajang Cinta#EnF#01 di group Erin n Friend,  aku gelar, dan Alhamdulillah mendapat respon yang bagus. Ajang yang hanya berlangsung selama 2 Minggu itu, telah mengumpulkan 32 judul naskah mengenai opini mereka terhadap arti cinta.



Dan inilah dia pemenangnya:

1.Cinta 5 Huruf Penuh Inspirasi -- Dwi Mardiyani

Pernahkah engkau sejenak mengingat aku
Pernahkah ingat walau seperti angin berlalu…
Bicara tentang cinta ibarat menghitung debu di tepian pantai. Takkan pernah ada habisnya. Mungkin itu alasan kenapa begitu banyak lagu tentang cinta bertebaran di radio ataupun televisi. Cinta bisa membuat si ceria diliputi kebimbangan, mampu mengubah si kasar jadi lembut tutur bahasanya. Meski tak jarang juga menerbitkan tetesan air mata.


C-I-N-T-A. Lima huruf yang bagi saya penuh cerita. Begitu sering saya mendengar kisah cinta orang-orang di sekitar. Dalam kasus ini, tentu saja cinta kepada seseorang. Banyak yang gundah. Namun, tak sedikit yang tersenyum karenanya. Ragam ekspresi cinta dari mereka tak urung membuat saya bertanya, apa itu cinta? Sebuah pertanyaan yang akhirnya membawa saya pada kenangan tentang seseorang.

Saya pertama bertemu dengannya di awal kelas dua SMA. Sederhana, nggak neko-neko, religius, dan agak idealis. Demikianlah kesan tentang dia. Entah sejak kapan saya jadi kerap mengamatinya. Tersenyum ketika mengingat tingkah lugunya. Apalagi ketika di kelas tiga kami sekelas. Hal-hal sepele seperti piket kebersihan bersamanya menjadi sesuatu yang begitu membahagiakan hati. Sungguh, saya pasti sedikit tak waras saat itu!

Jujur saja saya tak pernah yakin inilah jatuh cinta. Acapkali saya berpikir bila itu hanyalah sebentuk kepedulian. Mungkin pula sekadar kekaguman. Layaknya fans pada sang idola. Namun, ketika saya tak lagi bertemu dengan dia setelah hari kelulusan, sesuatu menyeruak dalam hati. Sesuatu yang membuat saya ingin melihatnya lagi. Sesuatu bernama kerinduan.

Ya… saya merindukan dia. Tidak. Lebih tepat, saya jatuh cinta padanya. Cinta yang indah karena meski telah melintasi separuh cakrawala, bayangnya tak jua menjauh. Walau menutup mata, senyumnya tak lantas memudar. Cinta itu pula yang membawa sebongkah keberanian. Dan, saya melakukan hal paling konyol seperti dalam drama-drama FTV. Tokoh wanita menyatakan perasaan pada tokoh pria lewat sepucuk surat, via jejaring sosial pula. Ah, betapa lucunya!

C-I-N-T-A. Lima huruf penuh inspirasi. Cinta membuat saya tahu betapa berwarna hidup ini. Cinta mengajarkan saya apa itu peduli. Cinta jua yang menuntun saya pada satu kata. Ikhlas. Berusaha menerima sebuah penolakan, berupaya memahami bahwa harapan tak selalu berujung pada sebuah kenyataan. Sakit memang. Namun, dunia tak berakhir hanya karena cinta ‘kan?

Cinta saya padanya, kerinduan selama delapan tahun ini adalah anugerah Tuhan. Tak perlu disesali, hanya butuh direnungkan. Bahwa cinta bukanlah sesuatu yang absurd. Dia nyata. Dia ada untuk membimbing kita pada cinta lain yang jauh lebih agung. Cinta kepada Sang Maha Cinta.


2. Cinta Itu Positif Thinking -- 
Ardini N Wijaya

Cinta ..
Sebuah anugrah Tuhan yang penuh makna. Bahkan beribu-ribu kata masih terasa kurang untuk menguraikan artinya. Tidak membutuhkan sebuah kekayaan harta dan keegoisan yang berkuasa bahwa hanya mereka yang boleh bercinta, karena sesungguhnya cinta ditemukan dalam sebuah kesederhanaan. Hal-hal kecil seperti tawa kebersamaan, uluran tangan saat terjatuh, jengukan teman saat sakit, dan kepedulian pada sesama adalah sebagian bentuk dari cinta.

Kaya harta belum tentu kaya cinta. Tapi kaya cinta sudah pasti kaya harta. Karena bagi mereka harta bukan hanya berbentuk uang. Bahkan makna harta lebih dari itu. Harta bagi mereka adalah kebersamaan dengan orang-orang yang mereka cintai.

Cinta itu luas. Bukan hanya menjurus pada Sang Pacar. Sering kali terdengar bahwa “aku punya banyak
sayang tapi hanya satu cinta, cinta pada Sang Pacar.” Dan tidak banyak pula yang berkata bahwa “sayang itu lebih tinggi dari cinta. Sayang orangtua, sayang keluarga, sayang sahabat, sayang teman.” jika semua itu adalah sayang, lalu bagaimana dengan Tuhan? Jika cinta mereka hanya satu dan hanya untuk pacar? Akankah Tuhan mereka samakan dengan yang lain bahwa mereka itu hanya sayang Tuhan? bukan cinta Tuhan?

Sesungguhnya cinta itu lebuh luas dari yang terpikirkan. Cinta lebih tinggi dari yang terbayangkan. Cinta hadir saat benih-benih sayang telah tumbuh subur dalam diri. Jadi cinta itu melebihi sayang. Jika aku berkata bahwa cinta itu hanya satu, Cinta itu adalah milik Tuhan. Yang telah memberi hati untuk merasakan setiap kehadiran cinta.

Cinta mempunyai dua sudut pandang yang berakibat. Ketika pemikiran cinta yang disematkan dalam kepala berupa sesuatu yang iklas dan berfikir bahwa itu adalah yang terbaik dari Tuhan, maka niscaya kebahagiaan akan menjemputnya. Namun apabila pemikiran cinta yang tergumpal dikepala adalah sesuatu yang hanya memburu hawa nafsu yang tidak sesuai dengan keinginan hati, maka tidak ada kata selain bersedih hati, atau bahkan tak sedikit yang berfikir pendek untuk bunuh diri. Seperti kristal-kristal air yang turun dari langit Tuhan. Jika kita menjaga alam, maka kristal air nampak indah dan memberi kesuburan untuknya. Namun juga kita merusak alam, maka kristal itu seolah menjadi pedang yang menjadi penghancur seisi alam.

Kegagalan cinta bukan sebuah alasan untuk mengartikan sebuah cinta itu pahit dan keji. Tapi untuk mengajarkan agar lebih tegar dan jangan bersedih hati. Hanya perlu mengingat, bahwa cinta Tuhan jauh lebih besar dari cinta pada orang yang kita sayang. Dan semua yang Tuhan beri itu adalah yang terbaik untuk setiap umatnya. Cobalah selalu berfikir positif atas segala yang terjadi...

Aku mencintaimu atas nama Allah..! dan aku mencintaimu karena Allah..!

3. Cinta Itu, Dia, Mereka, dan Kamu -- Fransiska S. Manginsela

Cinta mampu memberi sensasi tersendiri di hati. Ada yang bahagia karenanya. Ada pula yang sedih bahkan terluka karena merasa cintanya tak lagi sejalan dengan apa yang diinginkan. Hingga seolah merasa tersakiti akan adanya cinta itu sendiri. Jika mau menengok sebentar ke belakang lalu membaca kembali rekam jejak masa silam, sebenarnya cinta itu adalah sesuatu yang sangat diharapkan. Kehadirannya dinanti-nantikan, dipuja, pun selalu dielukan. Lalu di tengah perjalanan, cinta tak lagi dibanggakan. Hanya karena hadirnya diibaratkan seperti belati yang menusuk ulu hati. Membuat luka menganga. Terasa sakit sekali. Hingga tak terasa hujan gerimis pun jatuh membasahi pipi seiring dengan luka yang tak kunjung terobati. Padahal, rasa sakit itu bukan disebabkan oleh cinta. Melainkan karena pikiran dan hati kita.

Ketika cinta dikatakan sebuah kebahagiaan dan juga sesuatu yang indah bahkan mampu menenteramkan, terkadang tak cukup kata untuk mendefinisikan. Namun bisa tergambar jelas dari sebuah senyuman ketulusan, dari sebuah tatapan yang menghadirkan debaran, dari tutur kata yang cukup sopan, atau pun dari sikap yang tak mengedepankan keegoan.

Cinta merupakan sesuatu yang abstrak. Tak terlihat. Dia selalu ada. Tak pergi kemana-mana. Seperti halnya cinta antara Tuhan dan hambanya. Seorang hamba selayaknya terus berusaha untuk memupuk cintanya pada Tuhannya. Agar semakin kuat. Tak mudah tergoyahkan meski coba senantiasa menghadang.

Cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Bukan sesuatu yang bisa dikompromikan. Dia akan terus mekar dan bersemi dengan sendirinya. Tanpa diminta. Meski kita tak pernah mengharapkannya. Tapi, dia pun bisa layu.

Seperti sari bunga yang tak lagi menawarkan manis madu. Seperti mentari yang hadir dengan sinar yang baru di pagi yang masih lugu. Akan tercipta kisah baru. Tak sama seperti yang lalu.

Dan sebenarnya cinta itu sederhana. Sangat sederhana. Bukan hal yang rumit. Seperti halnya cintaku pada Dia. Yaitu Zat yang memiliki sifat pengasih dan penyayang. Yang menguasai gelap dan juga terang. Cintaku pada mereka. Yaitu orangtua, adik-adik, dan sanak saudara. Dan cintaku pada kamu. Yaitu sahabat, teman-teman, dan semua yang membaca note-ku.


................. Luar biasa, bukan? Info lengkapnya di Pengumuman Ajang Cinta#EnF301.

Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu terlaksananya ajang ini.

Comments